CARA-CARA KRISTEN UNTUK MENGATASI STRES DALAM BEKERJA
Mencari
tahu cara-cara Kristiani untuk mengatasi stres dalam bekerja, akan
membantu Anda semakin dekat dengan Allah dan menjadi teladan bagi orang
lain. Sebagai orang Kristen, Anda tentu ingin mengandalkan hubungan Anda
dengan Tuhan untuk menentukan pilihan-pilihan yang baik, dan tempat
kerja adalah tempat yang ideal untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani
Anda.
1. Tunjukkan Sikap Seorang Kristen
Sebagai orang
Kristen, mungkin Anda tidak ingin memperlihatkan diri Anda sebagai orang
yang berbohong, menipu, dan mencuri. Saat Anda ada di tempat kerja,
pastikan Anda tetap melayani Allah. Jika Anda menaati firman Yesus, Anda
tidak akan cenderung bereaksi dengan kemarahan terhadap orang lain.
Dengan mencari cara-cara Kristiani untuk mengatasi stres dalam bekerja,
berarti kita bersandar kepada Allah untuk menemukan ketenteraman pikiran
dan untuk membimbing Anda sepanjang hari.
Ayat: "Harta yang
cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi
sedikit, menjadi kaya." (Amsal 13:11)
2. Tenanglah
Luangkan
waktu kerja Anda selama beberapa menit untuk berdoa dalam hati.
Walaupun ajaran agama tidak selalu bisa sejalan dengan lingkungan kerja
Anda, Anda dapat meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia kapan
saja pada hari-hari yang penuh dengan tekanan. Tidak ada alasan apa pun
sehingga Anda tidak bisa semakin dekat dengan Allah saat bekerja dan
meminta-Nya untuk membimbing Anda. Bahkan, tidak ada waktu yang lebih
baik lagi untuk datang kepada-Nya karena sepertinya Anda menghabiskan
separuh waktu hidup Anda di tempat kerja.
Ayat: "Apapun juga yang
kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan
bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)
3. Bersyukurlah
Lihatlah
apa yang Allah inginkan untuk Anda alami dalam jam kerja Anda.
Alih-alih menganggap stres sebagai hukuman dan kesulitan, percayalah
bahwa Anda benar-benar melayani Dia. Sebagai orang Kristen, Anda setia
dan penuh ucapan syukur. Daripada terkungkung dalam pekerjaan yang
menekan, bersyukurlah kepada Tuhan atas upah kerja, tidak peduli
seberapa berat pekerjaan yang harus dilakukan. Ketahuilah bahwa memiliki
pekerjaan adalah sebuah hak istimewa. Daripada hanya fokus pada
kesulitan-kesulitan, pikirkan pekerjaan Anda sebagai pelayanan kasih.
Ayat:
"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah
itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan
dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."
(Pengkhotbah 9:10)
4. Ingatkanlah Diri Anda akan Kebenaran
Anda
adalah anak Allah, Dia mengasihi Anda dan menginginkan Anda untuk
bersandar kepada-Nya. Bacalah Alkitab untuk mendapatkan ketenangan dan
carilah kutipan tentang pekerjaan, yang berkata-kata kepada Anda dan
memberi Anda penghiburan. Anda juga dapat membuat catatan pengingat pada
buku agenda harian Anda, yang memberi tahu Anda untuk mencari Allah
terlebih dulu saat menghadapi tekanan pekerjaan. Tidak peduli apa pun
masalahnya, carilah cara yang positif untuk mengatasi stres.
Alkitab
mengatakan bahwa 6 hari lamanya kita bekerja dan hari ketujuh adalah
hari istirahat. Ketimbang mengeluh karena Anda kurang istirahat,
sadarilah bahwa bekerja adalah bagian dari rancangan Allah dan tujuan
Anda. Angkatlah tekanan kerja Anda, yang tidak dapat dihindari dengan
cara apa pun, serta tetapkan tujuan untuk menyenangkan Allah.
Ayat:
"Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan
kerja paksa." (Amsal 12:24)
5. Jadilah Teladan Kristus
Di
tempat kerja, Anda mengembangkan hubungan yang berarti dengan berbagai
macam orang, termasuk orang-orang percaya dan orang-orang yang tidak
percaya. Kemungkinan tidak ada lagi kesempatan bagi Anda dikelilingi
oleh orang-orang dari berbagai latar belakang, setiap hari. Tempat kerja
adalah tempat yang ideal untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani dan
memberi teladan.
Bagaimana Anda bertingkah laku di tempat kerja
menjadi kesaksian atas keyakinan Anda dan kesempatan untuk memuliakan
Allah. Jangan membuat kesalahan dengan memberikan contoh yang buruk atau
bertindak seenaknya. Hal ini membuat Anda terlihat buruk dan menyakiti
orang-orang Kristen yang lain. Lebih lagi, bekerjalah untuk
mengembangkan sifat sabar, setia, jujur, dan tunduk. Setiap kesulitan
yang menghadang jalan Anda dapat dilihat sebagai batu-batu pijakan untuk
menumbuhkan hubungan Anda dengan Allah, dan membagikan kasih Anda
kepada orang lain.
Ayat: "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih
baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu
adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang
akan terjadi sesudah dia?" (Pengkhotbah 3:22)
"... tidak ada
yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya,
sebab itu adalah bahagiannya...." Pengkhotbah 3:22
Di
tengah-tengah kesibukan kerja yang seakan tak pernah ada akhirnya dan
jadwal-jadwal ketat yang kadang begitu menyesakkan, sering kali kita
merasa stres. Kondisi demikian dengan mudah menyebabkan kita kehilangan
sukacita. Tuntutan profesionalisme yang kian tinggi, ambisi meraih
puncak karier, daya juang yang dipadukan dengan daya saing untuk
menggapai prestasi terhormat, dan sederet sikap positif lainnya jelas
memang bukan sikap yang keliru. Meskipun demikian, hal-hal tersebut
tidak jarang membuat kita merasa stres dan tegang, yang akhirnya
menimbulkan gangguan-gangguan psikosomatis, seperti: pusing, tidak bisa
tidur, sakit lambung, gatal-gatal, dan lain-lain.
Kakak seorang
dosen saya meninggal akibat penyakit jantung, justru ketika surat
pengangkatannya dari kepala cabang menjadi direktur kantor pusat sedang
diproses. Memang, seseorang yang pantang menyerah hanya dapat dipaksa
menyerah oleh kesehatan yang terus memburuk atau kematian. Karena itu,
kita sering mendengar orang-orang tua menasihati agar kita jangan
bekerja terlalu berat (Bahasa Jawa: ngoyo). Kalau sudah jatuh sakit,
mungkin baru terpikir: "Untuk siapa aku berlelah-lelah atau menolak
kesenangan?" (Pengkhotbah 4:8) Karena itu, kajilah kemungkinan berikut.
1.
Anda menyukai pekerjaan Anda, tetapi tidak menyukai suasana dan
lingkungan kerjanya.
2. Anda menyukai suasana dan lingkungan
kerja Anda, tetapi sebenarnya Anda tidak menyukai pekerjaan Anda.
3.
Anda tidak menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana
kerjanya, tetapi terpaksa Anda jalani karena Anda butuh pekerjaan.
4.
Anda menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana
kerjanya, tetapi Anda merasa tidak dapat berkembang bila terus bertahan
dalam pekerjaan itu.
5. Anda menyukai baik pekerjaan Anda maupun
lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi Anda tertantang untuk mencoba
berkarier di bidang lain karena tawaran gaji yang lebih besar atau
karena bidang itu jauh lebih mengasyikkan.
Kelima kemungkinan itu
memiliki satu persamaan, yaitu konflik kepentingan dan minat. Itulah
inti masalahnya! Untuk mengatasinya, cobalah untuk:
1. Jujur
terhadap diri sendiri.
Bila Anda belum menikah, pilihlah bidang
yang paling Anda sukai sekaligus paling Anda kuasai, sekalipun bidang
itu tidak menjanjikan penghasilan besar, karena kepuasan dan kebutuhan
aktualisasi diri yang Anda peroleh dari pekerjaan Anda tidak dapat
menandingi nilai uang yang Anda dapatkan. Bila Anda sudah menikah atau
kebutuhan ekonomi sangat mendesak, Anda terpaksa harus memilih pekerjaan
yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi Anda saat ini, walau mungkin Anda
tidak begitu suka dengan pekerjaan itu. Dalam hal ini, tanggung jawab
terhadap keluarga harus mengalahkan kepuasan pribadi.
2. Kerjakan
pekerjaan Anda sebaik mungkin (Pengkhotbah 9:10).
Pekerjaan yang
terus ditekuni akan membuat Anda menjadi sangat profesional dalam
bidang itu walaupun awalnya Anda tidak menyukainya. Lama-lama Anda akan
menyukainya karena pekerjaan itu Anda geluti setiap hari. Perlu diingat
bahwa perusahaan-perusahaan besar kini tidak segan-segan menghargai
profesionalisme dengan gaji yang memadai.
3. Bijak mengambil
keputusan.
Bila Anda tidak menyukai lingkungan tempat Anda
bekerja karena lingkungan itu mengganggu kesehatan, apalagi bila dalam
jangka waktu yang lama hal itu dapat berakibat fatal, sebaiknya Anda
tidak ragu-ragu berhenti dan mencari kerja di tempat lain atau minta
dipindahkan ke cabang lain. Bila Anda tidak menyukai suasana kerjanya,
cobalah untuk menyesuaikan diri. Bila Anda menyukai pekerjaan Anda, hal
ini akan mempermudah Anda untuk menyesuaikan diri dengan suasana kerja
Anda. Bila suasana tempat kerja Anda menjadi tidak tertahankan, misalnya
karena rekan atau bahkan atasan Anda suka membuat ulah, sebaiknya Anda
juga tidak ragu-ragu untuk berhenti atau minta pindah ke bagian lain.
Karena suasana kerja yang tidak sehat (beban kerja terlalu berat,
dibenci rekan-rekan sekerja, konflik dengan atasan) dapat berakibat
fatal.
4. Bila Anda merasa kurang dapat berkembang, silakan
"meloncat" mencari kerja di tempat lain.
Tentunya, sebelum
mengambil keputusan tersebut, Anda harus sudah mempertimbangkan
masak-masak untuk ruginya.
5. Bila Anda ingin karier yang baru,
pelajari baik-baik seluruh seluk-beluk karier itu.
Mungkin Anda
hanya terpengaruh oleh hal-hal yang tampak menarik di permukaannya saja.
Bila ternyata karier itu memang menjanjikan kepuasan dan masa depan
yang lebih baik bagi Anda, silakan bermigrasi.
Pindah kerja
memang susah-susah gampang. Anda perlu ekstra hati-hati "meloncat" bila
usia Anda sudah agak tua. Salah-salah Anda malah tercebur ke selokan.
Sudah tentu, risiko selalu ada. Karena itu, bila Anda sudah berumur dan
merasa kemampuan kerja Anda biasa-biasa saja, cobalah belajar menikmati
pekerjaan Anda, apalagi bila lingkungan dan suasana kerjanya cukup
menyenangkan. Karena, bila Anda menikmati pekerjaan Anda, Anda pasti
menyukainya. Dan bila Anda menyukainya, Anda akan asyik menekuninya
karena kini pekerjaan itu telah menjadi seperti hobi. Dan bila Anda
menekuni hobi Anda itu, tentu Anda tak akan merasa bahwa Anda sedang
bekerja, bukan? Dan karena Anda tidak merasa bahwa Anda sedang
menyelesaikan pekerjaan kantor, Anda tidak akan merasa stres atau
diburu-buru. Bersamaan dengan itu, ambisi berlebihan yang dapat merusak
saraf Anda tersublimasi secara otomatis dalam keasyikan dan kesenangan
menekuni "hobi" Anda itu.
Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul
buku: 29 Kiat Sukses dalam Karier Judul artikel: Apakah Anda
Benar-Benar Menikmati Pekerjaan Anda? Penulis: Arif Suryobuwono dan
M. Kurniawati Prayitno Penerbit: Yayasan ANDI Yogyakarta dan YASKI
Jakarta, 1994 Halaman: 31 -- 34
Apa pendapat anda tentang "waktu", suatu
anugerah atau justru pengekang hidup?
Tuhan menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap
orang untuk beraktivitas dan menikmati hidup. Sudah cukupkah ? Apakah kita
sering merasa kekurangan waktu, bahkan seolah-olah hidup kita begitu
dikendalikan oleh waktu ?
Waktu dapat menjadi pengekang hidup, jika kita
membiarkan diri dikendalikan olehnya, tapi waktu menjadi suatu anugerah, jika
kita mampu mengendalikan dan mengelolanya dengan bijaksana serta melihatnya
sebagai kesempatan untuk mengalami hal-hal yang bermakna. Jadi, kita yang
memegang kendali atas waktu, bukan waktu yang mengendalikan kita.
Sudahkah anda membuat waktu anda bermakna ?
Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen waktu,
kita perlu memahami dua pengertian tentang waktu, yaitu sebagai kronos dan
kairos. Kronos adalah waktu-waktu yang kita jalani,
misalnya Senin, Selasa, sehari, sebulan, setahun. Seringkali kita
menggunakannya pada istilah kronologis. Sedangkan kairos adalah waktu yang
bermakna bagi kita. Dari usia 0 tahun hingga 17 tahun kita menjalani kronos,
tapi dalam kurun waktu itu pasti ada saat-saat penting yang membawa kesan
tersendiri bagi kita, misalnya saat pertama masuk sekolah, saat bertengkar
dengan sahabat, saat pertama kali jatuh cinta, saat gagal di ujian, saat
menjadi juara di pertandingan olahraga. Bagaimana reaksi kita pada saat itu dan
bagaimana kita menghadapinya ? Pelajaran apa yang kita peroleh dari peristiwa
itu ? Itulah kairos, saat-saat bermakna
dalam perjalanan hidup yang membentuk karakter diri kita.
Kairos tidak harus berupa peristiwa besar, mungkin
hanya peristiwa kecil / sepele, tapi yang penting kita bisa belajar sesuatu
dari peristiwa itu. Intinya, marilah kita belajar peka untuk melihat makna
dibalik peristiwa. Ada
perbedaan besar antara orang yang hanya sekedar menjalani kronos dengan orang
yang mampu melihat kairos-kairos dalam hidupnya.
Orang yang mampu memahami waktu sebagai kairos,
melihat hidup sebagai kesempatan ,
bukan sekedar hidup yang dijalani begitu saja tanpa makna. Kesempatan untuk
mengalami suka dan duka, sukses dan gagal, yang memproses diri kita menjadi
pribadi yang matang dan tangguh. Kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan
banyak hal yang bermakna..
Kita masuk perguruan tinggi selama 4 atau 5 tahun,
apakah hanya untuk mendapat gelar sarjana ? Harus lebih dari itu, waktu-waktu
itu akan menjadi kesempatan untuk meraih kairos-kairos. Kesulitan ketika
belajar, kegagalan di ujian, pertemuan dengan orang serta lingkungan yang baru,
adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih ulet, lebih punya
kontrol diri, lebih mampu menyesuaikan diri dan sebagainya. Sudahkah anda
mengubah kronos menjadi kairos ?
Memanajemen waktu dengan tepat
Jika kita memahami waktu sebagai kairos, kita akan
menyadari bahwa waktu itu begitu berharga. Mungkin ada banyak hal yang ingin
kita lakukan dan kita alami dalam hidup ini, bagaimana cara mengaturnya ?
Ada 3 hal yang
harus kita miliki: a goal - a plan - take action
1. A goal ( tujuan )
Apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup ini ?
Mengapa kita ingin mencapai itu ? Masing-masing orang tentu berbeda, tapi
setiap orang harus punya. Ini penting, karena banyak orang yang menjalani
hari-hari hidupnya tanpa tahu untuk apa ia hidup, mau ke mana ia menuju. Hidup
menjadi seperti petualangan tanpa arah atau hanya sebuah rutinitas. Padahal
hidup adalah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan baik. Jika anda
belum menemukan tujuan hidup anda, ambillah waktu untuk menggumulkan hal itu.
Bila perlu mintalah bantuan pada orang yang mampu membimbing anda. Ini adalah
langkah awal yang penting. Jangan di hari tua kita baru menyesal " Mengapa
aku tidak menata hidupku sejak muda " atau kita baru menyadari "
Mengapa hidupku jadi begini ? " Tentu di saat itu semuanya sudah
terlambat.
Setelah kita tahu apa yang ingin kita capai dalam
hidup ( ini adalah tujuan jangka panjang ), kita dapat melanjutkannya dengan
membuat tujuan-tujuan atau target-target jangka pendek, sebagai langkah untuk
mencapai tujuan akhir. Target untuk 5 tahun mendatang, target tahun ini, target
semester ini, bahkan target hari ini. Tujuan/target bisa lebih dari satu,
misalnya target dalam bidang studi, pekerjaan, spiritual, dan sebagainya.
Buatlah target yang realistis ( sesuai kemampuan ) dan konkrit. Bila perlu
tulislah pada kertas/buku catatan anda.
2. A plan ( rencana )
" If you fail to plan, you plan to fail."
Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Jika kita
sudah punya tujuan/target yang jelas, kita dapat merencanakan langkah dan cara
untuk mencapai hal itu. Beberapa langkah yang dapat kita lakukan adalah
:
a. Mengatur aktivitas
Evaluasi kembali aktivitas-aktivitas yang biasa kita
lakukan selama ini. Dari sekian banyak aktivitas yang ada, pilihlah mana yang
perlu dilakukan, mana yang tidak. Apa aktivitas yang lebih baik kita lakukan di
waktu luang, misalnya: apakah kita sering memboroskan waktu untuk nonton VCD
atau jalan-jalan ke Mall ? Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat yang dapat
kita lakukan ? Mungkin belajar bahasa Inggris, jika ternyata kita punya tujuan
menjadi ahli komputer sedangkan kemampuan bahasa Inggris kita masih kurang.
Jadi kita men-seleksi aktivitas dalam rangka mencapai tujuan yang sudah kita
targetkan.
b. Menentukan prioritas
Dari sekian banyak aktivitas yang sudah kita seleksi,
terkadang kita masih ingin melakukan banyak hal : kuliah, les Inggris, les
musik, olahraga, kumpul dengan teman-teman, ikut organisasi atau pelayanan,
bekerja paruh waktu, dan sebagainya. Jika kita ingin melakukan semuanya,
mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal, dan bisa jadi yang terpenting
justru terabaikan. Misalnya: karena terlalu asyik berorganisasi, kuliah jadi
terlantar.
Kita harus menentukan aktivitas-aktivitas yang harus
mendapat prioritas utama, dan aktivitas-aktivitas yang boleh kita lakukan,
namun pada porsi yang tepat. Sebagai contoh: olahraga itu penting, kita perlu
menyediakan waktu untuk itu, tapi tidak perlu menjadi prioritas utama, jika
tujuan kita bukan untuk menjadi seorang atlit. Jika suatu saat kita dihadapkan
pada dua pilihan, misalnya sore ini harus kerja kelompok padahal bersamaan
dengan jadwal main basket dengan teman-teman. Kita bisa menentukan mana yang
harus kita dahulukan, karena kita tahu apa prioritas kita.
c. Membuat rencana yang realistis
Jika kita sudah menentukan target yang realistis,
maka kita juga perlu membuat rencana yang realistis. Misalkan dalam semester
pertama kita punya target untuk mencapai IP di atas 2,5, kita membuat rencana
agar target itu tercapai. Kita membuat jadwal belajar secara teratur, berapa
jam sehari, kapan waktu yang terbaik, dan sebagainya. Buatlah semua itu secara
realistis, sehingga kita dapat sungguh-sungguh melaksanakannya.
d. Melaksanakan rencana secara fleksibel
Terkadang rencana yang sudah kita buat, terganggu
oleh hal-hal yang tidak terduga. Misalkan nanti malam adalah jadwal kita
belajar, tapi ternyata ada acara penting yang harus kita hadiri. Jika acara itu
memang penting dan tidak dapat ditunda, batalkan jadwal belajar dan carilah
waktu pengganti. Tapi perlu diwaspadai, jangan suka mengubah rencana karena
tergoda dengan hal-hal yang kurang penting. Jika ada kegiatan di luar rencana
yang ingin kita lakukan, aturlah waktu sehingga hal yang penting tetap dapat
kita laksanakan.
e. Membuat agenda harian
Mempunyai jadwal kegiatan harian akan sangat membantu
kita untuk memanajemen waktu yang kita miliki setiap hari, namun tidak semua
orang mau membuatnya secara detil. Paling tidak kita harus mencatat hal-hal penting
yang harus kita lakukan di agenda harian, sehingga di pagi hari kita sudah tahu
apa yang harus kita lakukan pada hari itu dan bagaimana cara kita mengatur
waktu untuk menyelesaikan semuanya. Target jangka panjang akan tercapai jika
kita mampu mendisiplin diri untuk menyelesaikan target-target harian.
3. Take action ( bertindak )
Lakukan apa yang sudah direncanakan! Jika tidak,
semua target dan rencana yang kita buat tidak punya arti apa-apa. Beberapa hal
yang harus kita waspadai :
a. Jika 'penyakit' malas menyerang
" Saya lagi nggak mood "; " Waktunya
nggak pas buat belajar " dan sebagainya.
b. Kebiasaan menunda pekerjaan
"Besok masih ada waktu kok "; "
Sebentar lagi ah "; "Ujiannya kan
masih minggu depan"
c. Tidak mampu mendisiplin diri sendiri
Kalau sudah terlanjur nonton televisi atau main game,
lupa segalanya
d. Tidak berani berkata "tidak"
'Sungkan' menolak teman yang tiba-tiba mengajak
keluar atau ngobrol lewat telepon
Kemampuan memanajemen waktu berkaitan erat dengan
kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa hidup tanpa planning, atau
terbiasa menunda-nunda sesuatu, akan sangat sulit mendisiplin diri dengan
jadwal waktu yang terencana. Mengubah kebiasaan adalah hal yang sulit, namun
kesuksesan diraih dengan kemauan dan keberanian untuk berubah. Berubah ke arah
yang lebih baik dari hari ke hari, terutama dalam hal manajemen waktu.
“ There never has been, and cannot be, a good
lifewithout self control - Leo Tolstoy -
Referensi :
·Paul, Walter. How to Study in College, Boston : Houghton Mifflin
Company. 1984.
·Tong, Stephen. Pemuda dan Krisis Zaman, Jakarta : Stephen Tong
Evangelistic Ministries International. 1996
Disampaikan
pada Ibadah Persekutuan Akhir Pekan Pemuda mahasiswa
DPPM
YPDPA Sumut, Sabtu 07 Mei 2011
I.PENGANTAR
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos)
yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang
berarti "Ilmu" . Jadi antropologi artinya ilmu yang mempelajari
tentang manusia, sifatnya, hubungan-hubungannya.
Mengapa perlu mempelajari antropologi? Ini mempengaruhi
kita bagaimana kita mengenal diri kita dan mengenal Allah, dan bagaimana kita
melayani Allah, juga karena krisis yang melanda manusia saat ini.
II.PEMBAHASAN
Manusia yang hanya
beberapa puluh kilogram ini bisa mendaki gunung yang paling tinggi, menembus
laut yang dalam, meluncurkan roket ke ruang angkasa. Manusia adalah
satu-satunya makhluk dengan potensi kemungkinan.
1.Hakekat Manusia
dihadapan Allah
Kej 2:4-7
“Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah, dan
menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi
mahluk yang hidup” ( Kej 2:7 )
Di dalam Kej 1, kita sudah melihat bahwa manusia adalah
puncak penciptaan. Manusia diciptakan paling terakhir. Manusia diciptakan
sesudah Tuhan menciptakan alam semesta. Jadi alam semesta ini diciptakan untuk
manusia dan manusia untuk Tuhan. Kalau kita membandingkan Kej 1 dan Kej 2,
sepertinya ada dua peristiwa yang fokusnya berbeda. Kalau di dalam Kej 1
fokusnya adalah penciptaan langit dan bumi dan segala isinya. Kej 1
menceritakan asal mula kosmos dan urutan penciptaan. Tetapi di dalam Kej 2
adalah penciptaan manusia menjadi fokus. Manusia menjadi sentral di dalam Kej
2.
Manusia diciptakan segambar dan serupa
dengan Allah dan manusia diciptakan oleh Allah Yahweh yang berelasi dengan
umatNya. Ini sungguh sangat indah sekali. Ada hubungan yang intim antara Allah
dan umatNya. Bahkan penciptaan umatNya juga melalui nafasNya.
Manusia diciptakan
sebagai mahluk materi
Alkitab mengajarkan Adam dibuat dari
debu tanah ( Kej 2:7 ), ini menegaskan natur materi dari manusia. ( Kej 2:7 ).
Nama Adam yang berarti tanah liat ( merah ) menekankan fakta ini. Manusia
hanyalah dari debu tanah. Berarti kita tidak ada apa-apanya. Kita hanyalah
mahluk yang tidak ada apa-apanya. Tetapi manusia adalah gambar dan rupa Allah.
Manusia adalah mahluk yang mulia.
Debu tanah bukan berarti materi itu
jahat. Bukan berarti materi itu rendah. Kaum Gnostik menganggap materi jahat
dan inferior. Sedangkan rohani adalah baik. Ini harus ditolak. Tetapi Allah
bukan saja mendeklarasikan ciptaan materi “Sangat baik” tetapi membuat manusia
darinya.
Manusia tidak dapat berfungsi baik
terlepas daripada badan karena manusia diciptakan/didesign untuk berfungsi
sebagai mahluk yang bermateri. Materi dari manusia bukan lebih rendah dari
natur manusia dan aspek rohani lebih tinggi. Baik ciptaan rohani dan materi
adalah sama-sama baik dan penting karena dari Allah dan untuk Allah. Dan kedua-duanya
sudah rusak oleh dosa.
Seringkali di dalam pikiran manusia yang
sudah jatuh dalam dosa, rohani diidentifikasikan dengan Allah dan materi dengan
setan. Ini salah !. Sebab materi itu baik adanya. Karena itu tindakan asketisme
dimana badan ( karena itu materi ) dihukum dan menjadi subjek untuk direndahkan
atau dilukai tidak benar secara Alkitabiah. Badan harus dihormati karena bait
Roh Kudus. Kalau tubuh adalah bait Roh Kudus berarti tubuh itu suci adanya.
Yesus sendiri menjadi manusia dan memiliki tubuh dan mati untuk kita.
Kerohanian yang sejati itu bukan
menyiksa diri, berpuasa terus menerus, menyendiri dan menganggap bahwa materi
dan tubuh itu jahat. Tetapi kerohanian yang sejati adalah mempersembahkan tubuh
sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.
Manusia
diciptakan sebagai mahluk rohani
Ada 2 elemen yang ada didalam cerita
kejadian. Adam dibentuk dari tanah. Tetapi hanya ketika nafas hidup dinafaskan
kepada dia maka Adam menjadi mahluk yang hidup. Manusia diciptakan sebagai mahluk hidup itu unik.
Keunikannya adalah penciptaan manusia adalah dengan cara Allah dimana Dia
menafaskan Adam nafas hidup. Cara ini bersifat pribadi, langsung, dan unik yang
membedakan ciptaan manusia dengan mahluk lain. Ada sisi bagian dunia pada
manusia, tetapi ada sisi rohani pada manusia juga. Manusia memiliki dua elemen.
Ketika Yesus menyembuhkan orang buta
menggunakan debu tanah ini menunjukkan manusia punya aspek materi. Dan ketika
Yesus menghembuskan Roh Kudus maka menunjukkan bahwa manusia punya aspek rohani
yaitu nafas hidup.
Nafas hidup mendemonstrasikan bahwa
manusia lebih dari sekedar tubuh. Nafas hidup ini adalah sumber dari kehidupan.
Tubuh tanpa roh adalah mati. Tubuh harus disertai dengan roh. Ada tubuh dan ada
roh. Jadi manusia terdiri dari 2 elemen yaitu dari tanah dan dari nafas hidup
Allah. Manusia mempunyai elemen tubuh dan mempunyai elemen jiwa roh. Pengkotbah 12:7 menjelaskan 2 elemen dari natur manusia :
dan debu kembali kepada tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang
mengaruniakannya.
Sewaktu mati, kedua elemen ini akan
menjadi elemen yang berbeda dan kembali kepada sumber yang berbeda. Tubuh
kembali menjadi debu. Roh kembali kepada Allah. Di dalam Pengkotbah 3:21 dikatakan bahwa Roh manusia ke
atas, roh binatang ke bawah. Roh manusia terpisah dari tubuh manusia ketika
mati karena bentuk unik yang diterimanya sewaktu penciptaan. Namun roh binatang
terikat kepada tubuh mereka dan dikuburkan ketika kematian. Ini yang membedakan
manusia dengan binatang.
Apa aplikasi natur manusia sebagai
mahluk yang bermateri dan Apa aplikasi natur manusia sebagai mahluk yang rohani
bagi kita ?
Kita harus
memuliakan Tuhan dengan tubuh kita
Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Tubuh
kita adalah bait Allah. Karena itu kita harus menjaganya kudus. Tubuh kita
harus dijauhkan dari rupa-rupa kecemaran dan kenajisan. Tubuh kita harus
dijauhkan dari perzinahan. Tubuh kita harus kudus karena Allah tinggal di dalam
diri kita. Alkitab tidak menganggap tubuh tidak penting sebaliknya tubuh ini
penting. Kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan
yang hidup dan yang berkenan kepada Allah. Ini adalah ibadah yang sejati.
Ada lagu : pakai hidupku Tuhan. Pakai
tanganku, pakai mulutku. Ini penggunaan tubuh secara positif. Tubuh harus dipersembahkan
kepada Allah. Tetapi ada lagu yang mengajarkan supaya hati-hati gunakan
tanganmu. Ini adalah larangan secara negatif. Tubuh kita harus dijauhkan dari
dosa. Tubuh kita harus disucikan.
Kita juga mempunyai pandangan yang
seimbang mengenai kerohanian. Kerohanian itu bukan saja hal-hal berdoa, membaca
Alkitab dan beribadah. Tetapi kerohanian juga berkaitan dengan hal-hal
jasmaniah. Kalau kita merawat tubuh kita, makan yang bergizi dan juga berolah
raga. Ini juga adalah kerohanian. Merawat bait Allah supaya boleh sehat dan
digunakan untuk pelayanan Tuhan.
Olah raga itu satu hal yang rohani.
Banyak pelajaran dari olah raga. Ada aspek fisik, sosial, dan rohani. Main
volley.
Kita harus
memuliakan Tuhan dengan jiwa roh dan hati kita
Kalau tubuh kita harus dijaga kudus,
Hati kitapun harus dijaga bersih. Hati adalah diri manusia yang dalam ( inner
). “Hidden person of the heart”. Secara jelas, hati di dalam Alkitab adalah
kehidupan dalam yang dimana seseorang hidup di hadapan Allah dan dirinya. Hati
adalah sebuah hidup yang tidak diketahui oleh orang lain karena itu tersembunyi
bagi mereka.
Amsal mengatakan “Awasilah hatimu dengan
segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan” Dari hati,
perkataan keluar. Dari hati, tindakan keluar. Dari hati, dosa datang. Orang
dicobai oleh keinginan hatinya sendiri. Hati adalah sumber atau rumah harta
karun yang dimana perkataan keluar dan tindakan mengalir. Seseorang dapat
berdosa di dalam hatinya bahkan ketika tidak berdosa secara luar.
Karena itu seseorang harus disucikan
hatinya. Hanya mereka yang suci hatinya yang diberkati ( Mat 5:8 ). Jadi hati
adalah keseluruhan hidup yang dalam. Semua yang dikatakan mengenai jiwa dan roh
juga dikatakan mengenai hati. Apa yang dikatakan mengenai roh juga dikatakan mengenai
jiwa dan juga hati. Kedua-duanya tempat bersukacita, bermasalah, sedih, dll.
Mengasihi Tuhan
dengan segenap keberadaan kita
Kita harus mengasihi Tuhan dengan
seluruh baik tubuh maupun roh jiwa kita. Kita harus mengasihi Tuhan dengan
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Keseluruhan
hidup kita adalah untuk Tuhan. Tidak ada bagian dari hidup kita yang bukan
milik Tuhan. Tidak ada satu inci di dalam hidup kita yang bukan milik Kristus.
Semua milik Tuhan.
Karena itu jaga tubuh kita. Apakah sudah
dipersembahkan kepada Allah ? Apakah sudah dijauhkan dari dosa ?
Karena itu jaga hati kita. Adakah hati
kita mendua ? Adakah ruang bagi dosa di dalam hati kita ? Selidikilah hati
kita.
Kita harus mengasihi Tuhan dan
menyembahnya dengan seluruh keberadaan kita. Alkitab mengatakan barangsiapa
menyembah Allah harus menyembah di dalam Roh dan Kebenaran. Selain dengan roh
kita menyembah, kita juga harus menyembah dengan kebenaran dan sesuai dengan
prinsip yang benar.
Karena baik jasmani dan rohani
dua-duanya penting maka harus dipupuk dan dipelihara. Kedua aspek jasmani dan
rohani ini saling berkaitan. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang
sehat. Di dalam jiwa yang sehat juga mempengaruhi tubuh yang sehat. Banyak
orang di dalam dunia ini yang menderita penyakit yang sebenarnya diakibatkan
dari jiwanya.
Bagaimana memupuk kesehatan jasmani ?
Dengan olahraga dan juga makan yang bergizi. Dan ingat juga pelajaran mengenai
sabat bahwa manusia juga perlu sabat dan istirahat.
Bagaimana memupuk kesehatan rohani bagi
orang percaya ? Jiwa kerohanian harus diberi makan. Chicken soul for the soul.
Kita memerlukan apa yang dinamakan
saluran anugerah. Jiwa kita memerlukan saluran anugerah atau sarana anugerah
untuk bertumbuh. Saluran anugerah ini adalah di dalam doa, sakramen, Firman,
persekutuan orang kudus. Ini adalah sarana-sarana anugerah dan pengudusan dari
Tuhan Allah.
Saluran anugerah pertama adalah doa.
Dengan melakukan doa maka orang percaya
bersekutu dengan Tuhan. Dimana ada persekutuan dengan Tuhan maka akan ada
pengudusan. Dengan doa dalam nama Kristus maka orang percaya masuk ruang yang
maha kudus dan boleh mendapatkan anugerah disana. Dengan doa maka orang percaya
berkomunikasi dengan Tuhan. Bukankah hak istimewa bahwa kita boleh menghampiri
Tuhan dan menerima anugerahNya. Tuhan juga menjawab doa-doa orang percaya yang
sesuai dengan kehendakNya. Doa adalah nafas hidup orang percaya. Doa adalah
bersekutu dengan pencipta. Doa adalah saluran anugerah. Di dalam doa ada
kekuatan, ada penyertaan, ada kedamaian, ada kuasa Tuhan, ada perlindungan
Tuhan, ada persekutuan dengan Tuhan, ada kuasa untuk mengalahkan pencobaan. Doa
orang benar besar kuasanya.
Saluran anugerah berikutnya adalah baptisan.
Dengan melakukan sakramen baptisan,
orang percaya masuk ke dalam gereja yang kelihatan yang melambangkan baptisan
roh kudus dimana orang percaya masuk ke dalam gereja yang tidak kelihatan.
Saluran anugerah berikutnya adalah perjamuan kudus.
Dengan melakukan sakramen perjamuan
kudus, orang percaya mengingat anugerah keselamatan dalam Kristus. Saat
Perjamuan Kudus, orang percaya ada di dalam persekutuan mistik dengan Kristus.
Seperti janji Kristus bahwa barangsiapa tetap tinggal diam di dalamNya maka
pasti kita akan berbuah.
Saluran anugerah berikutnya adalah Firman. Ini penting.
Firman Tuhan juga merupakan saluran
anugerah dimana melalui Firman Tuhan orang percaya mengenal Tuhan. Dengan
menyimpan Firman Tuhan dalam hati maka orang percaya dicegah dari dosa. Dengan
menjaga kelakuan sesuai dengan Firman maka kelakuan orang percaya menjadi
bersih. Firman Tuhan itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan
dan mendidik orang percaya di dalam kebenaran. Firman Tuhan juga mendisiplin,
menyegarkan jiwa, memberi kekuatan, memberikan arah, memberikan petunjuk,
memberi nasihat, mempersiapkan orang di dalam pelayanan.
Berbahagialah orang yang kesukaannya
adalah merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. ( Maz 1 )
FirmanMu pelita bagi kakiku dan terang
bagi jalanku ( Maz 119:105 ) Dengan apa seorang muda mempertahankan jalannya yang
bersih ? Dengan menjaganya sesuai dengan FirmanMu ( Maz 119: )
Firman Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa
( Maz 19 ) Firman Tuhan memberikan hikmat kepada yang tidak
berpengalaman ( Maz 19 )
Saluran anugerah yang lain adalah juga persekutuan orang
kudus.
Gereja. Di dalam persekutuan dalam
Kristus ada kasih dan di dalam kasih inilah orang percaya boleh bertumbuh.
Hanya melalui kasih saja orang percaya boleh bertumbuh untuk melaksanakan
kebenaran Firman Tuhan. Di dalam persekutuan orang kudus terjadi saling
mengasihi, saling mendoakan, saling mendukung, saling menegur, saling
menasihati, saling berbagi beban, saling melayani. Persekutuan di dalam Tuhan
di dalam kasih membuat hidup menjadi indah dan berarti. Besi menajamkan besi,
orang menajamkan sesamanya.
2.Tujuan Allah
Menciptakan Manusia
Kenapa manusia diciptakan ?Allah tidak memerlukan untuk menciptakan manusia tetapi Dia menciptakan
manusia untuk kemuliaanNya
Semenjak adanya
kasih dari Tritunggal satu sama lain, Allah tidak memerlukan kita dan ciptaan. Allah
bukan kesepian atau dia memerlukan persekutuan dari yang lain. Allah tidak
memerlukan kita untuk alasan apapun. Allah
menciptakan kita untuk kemuliaanNya. “whom I created for my glory” ( Yes 43:7, Ef
1:11-12 ). Karena itu kita harus melakukan semua untuk kemuliaan nama Allah ( 1
Kor 10:31 )
Fakta ini menunjukkan bahwa hidup kita
berarti. Kita diciptakan untuk kemuliaan nama Tuhan mengindikasikan bahwa kita
penting untuk Allah sendiri. Ini adalah arti hidup kita. Jika kita sungguh
sungguh penting bagi Allah untuk segala kekekalan, kemudian ukuran kepentingan
apa yang kita inginkan ?
Apa tujuan hidup
manusia ?
Untuk memuliakan Dia. Ini ketika
berbicara mengenai Allah. Tetapi ketika berbicara mengenai kita bagaimana ? Untuk menikmati Dia dan bersukacita di dalam
Dia dan didalam hubungan dengan Dia.
Yesus berkata “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan
membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan.” (Yoh 10:10 )
Daud mengatakan “Engkau memberitahukan
kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di
tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” ( Maz 16:11 ). Dia menceritakan
mengenai Allah “menyaksikan kemurahan TUHAN” ( Maz 27:4 ). Asaf berseru di
dalam Mazmur 73:25-26. Kepenuhan sukacita ditemukan di dalam mengetahui kita
dan menikmati karakter Dia yang luar biasa. Untuk berada di hadiratNya,
menikmati persekutuan dengan Dia adalah berkat yang lebih besar daripada apapun
yang dapat dibandingkan. Baca Maz 84
Karena
itu sikap hati orang Kristen adalah bersukacita di dalam Tuhan dan didalam
pelajaran hidup yang Dia berikan kepada kita
( Rm 5:2-3, Fil 4:4, 1 Tes 5:16-18; Yak 1:2; 1 Pet 1:6,8 )
Ketika
kita memuliakan Allah dan menikmati Dia, Alkitab mengatakan bahwa Dia
bersukacita di dalam kita. “Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami
seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu,
dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan,
demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu. ” ( Yes 62:5 ) dan Zefanya
bernubuat bahwa “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi
kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau
dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti
pada hari pertemuan raya." ( Zef 3:17-18 )
Allah mencipta manusia
menurut peta teladan-Nya. Ini merupakan pernyataan di mana Ia mencipta makhluk
yang lebih tinggi dari semua yang lain. Allah mencipta manusia sebagai ciptaan
yang paling tinggi. Memang manusia kecil jika dibandingkan gajah; dibandingkan
dengan banyak binatang lainnya, manusia masih tetap kecil. Tetapi, gajah, yang
begitu besar, takut jika melihat manusia. Kualitas manusia jauh lebih besar
daripada gajah. Kualitas jauh lebih penting dan bernilai ketimbang kuantitas.
Manusia yang hanya beberapa puluh kilogram ini bisa mendaki gunung yang paling
tinggi, menembus laut yang dalam, meluncurkan roket ke ruang angkasa. Manusia
adalah satu-satunya makhluk dengan potensi kemungkinan. Allah mencipta manusia
sebagai ciptaan tertinggi. Ia mencipta manusia menurut gambar dan rupa-Nya,
menurut peta teladan-Nya agar segala sesuatu bisa ditaklukkan di bawah manusia.
Manusia adalah
satu-satunya makhluk yang mewakili Tuhan Allah. Dengan kuasa, hikmat, kodrat,
dan potensi kontrol, manajemen yang kuat, manusia menguasai seluruh ciptaan
yang lain. Manusia diberi potensi manajemen, potensi perubahan, potensi urutan,
potensi otoritas, potensi pemerintahan dan potensi penguasaan. Ini semua
dicantumkan di dalam Kitab Suci.
Itu sebabnya, setiap
manusia yang berusaha menaklukkan diri ke bawah kedaulatan Allah dan menelusuri
bahwa sumber keberadaan dirinya adalah Allah, akan mengerti tujuan hidupnya.
Dari sana ia akan menemukan maksud dan nilai hidupnya. Ia akan semakin jelas
akan arti dan fungsi keberadaannya. Ia akan menemukan semua jawaban yang dicari
manusia, seperti: Mengapa aku ada? Mengapa aku hadir di sini? Apa maksud dan
tujuan hidupku? Apa arti keberadaanku? Apa yang harus aku lakukan dalam
hidupku? Semua pertanyaan ini tidak akan mendapat jawaban yang sejati tanpa
kita kembali kepada Sang Pencipta.
Uniknya Manusia
Setiap orang dicipta
secara individu, unik, dan berbeda. Tidak ada dua orang yang sama. Oleh karena
itu, kita harus menemukan keunikan kita. Ketika kita telah menemukannya, kita
akan menjadi manusia yang sungguh-sungguh berguna di dalam dunia.
Ketika saya berkhotbah di satu kota, saya
mengajak anak saya yang baru berusia dua tahun lebih. Supaya tidak mengganggu
ketika saya berkhotbah, saya memberi tugas kepadanya untuk mencari dua helai
daun yang sama dari daun-daun yang jatuh di halaman gereja. Setelah selesai
berkhotbah, saya bertanya kepadanya, dan dia bisa menunjukkan dua daun yang
betul-betul sama. Saya sangat terkejut. Namun, ketika saya minta untuk
melihatnya, ia tidak mau memberikan. Akhirnya ketahuan bahwa tangkainya satu ke
kanan, satu ke kiri. Tangkai itu ia pegang sehingga tersembunyi di tangannya.
Tidak ada dua orang yang sama di dunia ini, karena Allah mencipta setiap orang
secara unik. Dan itu adalah keindahan yang Tuhan ciptakan. Betapa hambarnya
dunia ini jika semua manusia sama di dalam segala hal.
Ketika kita menyadari dan menemukan keunikan
kita, kita bisa memperkembangkan setiap potensi yang ada di dalam diri kita
sebaik mungkin. Kita perlu terus merenungkan dan memikirkan keunikan peta
teladan Allah yang Tuhan tanam di dalam hidup kita.
Ciptaan sebagai Refleksi Pencipta
Orang menggubah banyak
lagu, tetapi lagu yang unik adalah lagu yang begitu diperdengarkan, kita
langsung bisa mengenali siapa penggubahnya. Waktu Tuhan mencipta sesuatu,
tanda-tanda Tuhan ada di dalamnya. Itu bagaikan tanda tangan-Nya. Anjing yang
lincah merefleksikan kelincahan Allah. Demikian juga kerajinan semut,
ketekunannya, merefleksikan sifat kerajinan dan ketekunan Allah.
Ikan salmon adalah ikan
yang unik. Ia melahirkan anaknya di danau yang berair tawar. Setelah
melahirkan, ia mati. Lalu anak-anak salmon akan berenang menuruni sungai menuju
laut lepas yang berair asin. Ia bisa merantau sampai lebih dari 10.000 km dari
tempat asalnya. Ketika besar lalu hamil, ia bisa mencari kembali danau tempat
asalnya. Ia kembali melalui sungai, menaiki air terjun, terkadang sampai
terluka, dan terus berjuang sampai kembali ke tempat asalnya. Di situ ia
bertelur melahirkan anaknya, lalu mati. Demikian siklus ajaib ini terjadi.
Semuanya ini merefleksikan kedahsyatan Sang Pencipta. Ini refleksi bijaksana
Tuhan. Allah menanamkan sedikit bijaksana pada binatang tertentu. Dan
kodrat-Nya, rencana-Nya, sifat teladan-Nya dikumpulkan diletakkan secara utuh
ke dalam satu makhluk yang namanya manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk
yang secara totalitas memperoleh seluruh bijaksana dari Tuhan yang
merefleksikan semua rencana Tuhan dan mendapatkan potensi yang melebihi semua.
Kondisi ini tidak bisa dijawab oleh hipotesa Evolusi.
Evolusi berpandangan
makhluk harus terus berkembang. Jadi kalau manusia itu hasil tertinggi dari
evolusi, maka seharusnya manusia bisa berenang, bisa menyelam, punya insang dan
juga bisa terbang, punya sayap. Tetapi Tuhan tidak demikian. Manusia terlihat
tetap terbatas, namun di dalam keterbatasan itu ada kualitas dan kuasa, karena
dicipta menurut peta teladan Allah. Manusia terbatas tetapi berkapasitas cipta.
Ia tidak bersayap, tetapi bisa mencipta pesawat terbang, tidak mengeluarkan
musik, tetapi bisa merangkai nada dan membentuk harmoni.
3.Posisi Manusia
Diantara Semua Ciptaan Tuhan
Mazmur
8:4-10
DIMANA POSISI MANUSIA?
Alkitab menyatakan bahwa Allah
menciptakan manusia sedikit lebih rendah dari malaikat, hampir sama seperti
Allah, tetapi menguasai alam semesta. Ini memberikan kerangka dan urutan yang
jelas kepada manusia, yaitu: MANUSIA ADA DI BAWAH ALLAH, DI ATAS ALAM.
Peribahasa Tionghoa mengatakan bahwa kita perlu berdiri tegak di bumi dan
tangan menopang langit, yang artinya, kita mampu berdiri dengan tegak dengan
identitas yang jelas dan penuh keyakinan.
Di dalam metodologi untuk mengerti
alam semesta, dari jaman ke jaman, sejak jaman Euclid, Herodotus, Plato, sampai
kepada Sir Isaac Newton, manusia selalu terjebak di dalam KONSEP SISTEM
TERTUTUP, yaitu suatu pandangan yang menganggap bahwa alam semesta sendiri
sanggup untuk memberikan penjelasan akan rahasia-rahasia yang terkandung di
dalamnya, tanpa memerlukan bantuan dari luar. Sebaliknya, di sepanjang sejarah,
kekristenan selalu menawarkan KONSEP SISTEM TERBUKA, yaitu alam semesta
baru bisa dimengerti secara tuntas ketika manusia kembali kepada "dunia
sana", dunia Sang Pencipta. Sistem tertutup telah menjadi cikal-bakal
SCIENTICISM dan POSITIVISM, dan berakhir di gang buntu. Sebaliknya, Pengakuan
Iman Rasuli dimulai dengan kalimat: Aku percaya kepada Allah, Pencipta langit
dan bumi. Kalimat ini menekankan sistem terbuka.
Manusia tidak mungkin mengerti segala sesuatu kecuali ada satu jalur terbuka
yang membawa manusia kepada dunia yang tidak kelihatan. Dan justru dari sanal
segala kontrol terjadi. Iman Kristen bukan takhayul atau iman yang superstisi,
tetapi justru memberikan logika yang paling kuat, bahkan melebihi keterbatasan
logika itu sendiri.
BERADALAH DI POSISI YANG SEHARUSNYA
Arloji dirancang untuk dipergunakan
di tangan kiri. Tetapi jika ia menolak dan ditempatkan di tempat lain, maka ia
tidak akan bisa berfungsi baik. Jika ia ditempatkan di tangan kanan, maka ia
akan mengganggu si pemakai ketika bekerja, dan akan mengalami kesulitan untuk
memutar tombolnya. Kalau ia dipasang di kaki atau di leher, ia semakin tidak
berfungsi. Maka tempat terbaik bagi arloji adalah sesuai dengan rancangannya.
Demikian juga manusia, baru akan berfungsi secara maksimal ketika ia berada di
posisi yang ditetapkan seturut rancangan yang pasti ketika ia diciptakan.
Manusia diciptakan untuk berada di
bawah Allah di atas alam. Jika manusia tidak mau dan ingin membalik situasi,
maka yang terjadi ialah dia akan membalikkan diri sendiri. Ia tidak mungkin
dapat membalik Allah dan alam, tetapi yang ia lakukan adalah membalikkan
posisinya sendiri. Pada saat manusia sudah membalikkan diri, ia merasa telah
membalik dan
mengatur segala sesuatu. Ketika segala sesuatunya kemudian menjadi tidak beres,
ia marah kepada Allah, padahal itu diakibatkan oleh perbuatannya sendiri. Ini
sikap yang sangat kurang ajar terhadap Allah, dan untuk itu manusia harus
dihakimi. Manusia harus kembali ke posisinya yang semula, baru ia bisa
berfungsi dengan benar, yaitu di bawah Allah, di atas alam. Manusia memakai
alam untuk memuliakan Allah, bukan sebaliknya. Manusia di bawah Allah di atas
alam, berarti manusia harus mempergunakan alam dan menjadi reflektor kemuliaan
Allah. Kita menguasai alam dan kita sendiri dikuasai Allah, bukan kita yang
menguasai Allah.
Jika kita lihat, ada satu gejala
lagi, yaitu adanya orang-orang yang kelihatannya begitu giat, seperti seorang
Kristen yang berapi-api, tetapi posisinya salah. Orang sedemikian sepertinya
begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya sedang meminta Tuhan menuruti
keinginannya. Dengan mendasarkan kepada kemahakuasaan dan kasih Tuhan, mereka
mau memperalat Tuhan untuk memenuhi keinginannya sendiri. Ini menjadikan Allah
pembantu
demi mencapai segala keinginannya sehingga kita dapat melihat gejala di luar
kehidupan keagamaan orang itu begitu giat dan berkobar-kobar, tetapi
motivasinya berlawanan dengan kehendak Tuhan. Ini merupakan kegiatan agama yang
melawan agama sejati. Jika tujuan kita adalah alam dengan cara memperalat
Allah, maka kita tidak mungkin mengerti kehendak Tuhan.
TUGAS MANUSIA DI DALAM POSISINYA
Jika posisi ini sudah jelas, maka
kita diberikan tugas yang dilaksanakan dengan lengkap di dalam diri Tuhan
Yesus, yaitu sebagai:
1. NABI
Manusia disebut nabi, berarti
manusia berada di antara Allah yang maha tahu dengan alam yang tidak
berinisiatif tahu, tetapi mengandung segala sesuatu yang bisa dan perlu diketahui.
Sifat nabi manusia memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka
penyelidikan ilmu pengetahuan tidak seharusnya menjadikan manusia melawan
Tuhan. Orang yang mengetahui semakin banyak, seharusnya semakin mempermuliakan
Tuhan; karena ia telah melihat bagaimana Allah telah merancang segala
sesuatunya sedemikian ajaib. Fungsi kenabian manusia ini menjadikan manusia
berbeda tuntas dari binatang. Belum pernah ada binatang yang menangkap manusia
dan meletakkan di kebun manusia. Tetapi manusia telah menangkap binatang dan
membuat kebun binatang. Manusia bukan sekedar makhluk biasa, tetapi nabi. Namun
banyak manusia yang tidak memakai hal ini secara maksimal.
2. IMAM
Sebagai imam, manusia mempunyai
kedudukan di antara Allah dan alam. Manusia memakai alam untuk dipersembahkan
kepada Allah. Konsep demikian telah ada sejak awal sejarah manusia. Maka kita
akan membawa alam demi kemuliaan Allah.
3. RAJA
Kedudukan sebagai raja menunjukkan
fungsi penguasaan dan pengaturan. Management yang pertama kali adalah merupakan
mandat dari Allah, yaitu agar manusia mengelola bumi ini. Allah tidak mau kita
kacau dan tidak teratur. Namun pencemaran dosa membuat fungsi pengaturan ini
menjadi kacau. Oleh karena itu, kita harus membawa itu semua kembali kepada
kontrol Allah, karena kita ada di bawah Allah, dan alam di bawah kita.
Ini yang memungkinkan semuanya berjalan harmonis.
III.PENUTUP
Karena kita adalah mahluk yang jasmani
dan rohani. Marilah kita menjaga kesehatan jasmani dan rohani kita. Marilah
kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang kudus
dan yang berkenan kepada Allah. Marilah kita mengasihi Tuhan dengan segenap
hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Untuk memupuk kerohanian kita, kita memerlukan saluran
anugerah yaitu doa, Firman, sakramen dan Persekutuan orang Kudus. Marilah kita
sering berdoa dan membaca Firman Dan marilah kita bersekutu di dalam gereja.
Kiranya kita berhenti
berbuat dosa, mulai belajar menghargai diri kita, menemukan diri, belajar
menggali potensi diri, dan akhirnya menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan.
Inilah peta teladan yang akhirnya menjadi teladan bagi peta teladan yang lain. Soli
Deo Gloria.
Memikirkan tentang akhir dari suatu
perjalanan hidup (kematian) adalah suatu hal yang seringkali dianggap
menakutkan. Di satu sisi kita sependapat bahwa mereka yang memikirkan
akhir hidupnya (baca: kematian) adalah mereka menyadari eksistensi diri,
namun di sisi yang lain, Mungkin saja dalam ketakutannya tersebut
manusia lalu terdorong untuk mengerjakan pekerjaan yang berarti, namun
sekali lagi, ketakutan, bagaimanapun juga, tidak dapat dianggap sebagai
kebajikan .
Lalu, apakah mereka
yang tidak mempedulikan hari kematiannya, bersikap lebih bijaksana
daripada mereka yang ketakutan dan terus-menerus memikir-kannya? Sama
sekali tidak. Bahkan lebih parah daripada yang pertama. Kitab Suci
mengatakan bahwa mereka yang tidak percaya adanya kehidupan setelah
kematian, secara konsekuensi logis, boleh mengambil gaya hidup hedonisme
dengan semboyannya yang terkenal “marilah kita makan dan minum, sebab
besok kita mati” (I Kor 15:32). Kehidupan yang tidak pernah memikirkan
keterbatasan kehidupan itu sendiri, akan cenderung membawa manusia untuk
hidup mencari kepuasan pribadi. Kepuasan pribadi ini tidak harus selalu
dinyatakan dalam gaya hidup pesta pora dan mabuk-mabukan, pergi ke
pelacuran dan sebagainya. Pengejaran kepuasan serta kenikmatan pribadi
ini mungkin saja mengambil bentuknya dalam kehidupan moral yang tinggi,
suka menolong orang lain, menjadi
seorang humanist, namun
pada akar hatinya adalah mengejar kepuasan diri sendiri.
Daud
berdoa kepada Tuhan agar ia diajar bahwa hidupnya memiliki sebuah akhir (Mazmur
39:5). Mengapa perlu diajar? Bukankah pengalaman dari sejarah, data empiris sudah
dengan begitu gamblang menyatakan bahwa hidup manusia memang memiliki
sebuah akhir? Adakah manusia yang begitu keras kepala menolak kenyataan
bahwa hidup kita memang suatu saat akan berakhir? Tampaknya tidak banyak
orang yang memiliki kenekadan seperti itu. Namun, sesungguhnya yang
dimaksud oleh Daud adalah bahwa sekalipun manusia mengetahui bahwa
hidupnya memiliki sebuah akhir, namun manusia menghidupinya seolah-olah
tidak ada akhirnya. Tidak ada kepekaan akan waktu yang semakin singkat
dalam hidup manusia. Dalam keadaan seperti inilah Daud memohon kepada
Tuhan agar ia terus diajar bahwa hidupnya suatu saat akan berakhir.
Waktu tidak selama-lamanya diberikan kepada manusia. Suatu saat ia harus
mengakui, entah dengan rela atau tidak rela, bahwa ia adalah ciptaan
yang terbatas, dan bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berada dalam
kekuasaannya sendiri, ia harus mempertanggung-jawabkan
segala sesuatu yang telah dilakukannya selama hidupnya di hadapan
Penciptanya. Tanpa pengertian ini (bukan sekedar pengetahuan!)
manusia tidak mungkin memiliki tujuan hidup yang benar. Ia boleh
memiliki tujuan hidup yang dianggapnya begitu pasti, dan mengejarnya
dengan segala kekuatan self-determinasi, namun di hadapan Tuhan
sesungguhnya semuanya hampa. Manusia melakukan hal-hal yang menimbulkan
sesuatu yang tidak perlu, ia mengumpulkan dengan tidak mengetahui siapa
yang kelak akan menikmatinya. Inilah paradoks hidup manusia yang hanya
mengejar keuntungannya sendiri. Sesungguhnya, ia berjalan dalam
kehidupan yang sangat tidak pasti!
Dalam
kegalauan jiwanya, pemazmur belajar untuk tetap berharap kepada Tuhan
(Mazmur 39: 8). Suatu pengharapan yang diteriakkan dari sebuah
pengenalan diri serta kebutuhannya yang terdalam, yaitu agar Tuhan
membebaskan dia dari segala dosa-dosanya. Kebanyakan manusia hidupnya
tertekan karena sakit-penyakit, ekonomi tidak mapan, kurang berhasil
dalam menjalin hubungan dengan sesama, study tidak lancar, masa depan
tidak jelas dan lain sebagainya, namun berapa orang yang tertekan
seperti Daud, menyadari bahwa problema terbesar dalam hidup manusia
bukanlah hal-hal di atas, melainkan kehidupan yang berdosa. Berapa
serius dosa di hadapan kita? Ini pertanyaan yang harus kita jawab!
Inilah cicipan
kematian yang sesungguhnya: hidup dalam dosa. Para eksistensialist
seringkali dikuasai oleh ketakutan untuk tidak lagi bereksistensi. Namun
kita dapat memper-tanyakan “Apa itu eksistensi dan bagaimana
bereksistensi?” Sesungguhnya ketika seseorang berbuat dosa, ia
menghancurkan eksistensinya dalam pengertian yang paling dalam, karena
eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang tidak mungkin tidak
harus dikaitkan dengan hubungannya di hadapan Allah (entah hubungan
dikasihi-mengasihi, atau menolak-dimurkai). Dengan berbuat dosa manusia
merusak hubungannya dengan Allah. Semakin ia tidak suka berhubungan
denganNya, semakin ia akan menghancurkan dirinya sendiri. Mari kita
lihat dua pertanyaan pertama dalam Katekismus Heidelberg (1563) berbunyi
demikian “Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik
pada masa hidup maupun pada waktu mati?” Dijawab, “Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik
pada masa hidup maupun pada waktu mati (Rom 14:7-8.), bukan milikku
(1Kor 6:19), melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia
(1Kor 3:23). Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah
melunasi seluruh utang dosaku (1Pet 1:18- 19) dan melepaskan aku dari
segala kuasa iblis (1Yoh 3:8b). Dia juga memelihara aku (Yoh 6:39),
sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak
Bapa yang ada di sorga (Mat 10:30), bahkan segala sesuatu harus berguna
untuk keselamatanku (Rom 8:28). Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang
Kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal (2Ko 1:22), dan
menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi
kepada-Nya (Rom 8:14).” Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan
kedua berbunyi,: ”Berapa pokok
yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup
dan mati dengan bahagia?” Dijawab,: “Tiga pokok (Maz 130:3-4). Pertama.
betapa besarnya dosa dan sengsaraku (Rom 7:24-25). Kedua, bagaimana aku
mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku (Mat 11:28). Ketiga,
bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian
itu (Kol 1:12.)”. Menjadi
milik Allah (dan bukan milik sendiri) adalah penghiburan yang terbesar.
Alangkah celakanya jika manusia justru berpikir sebaliknya! Perhatikan
saja, di manakah ada manusia yang dengan segala keperkasaan yang ada
padanya sanggup menguasai maut sehingga ia tidak harus mengalaminya?
Jika tidak ada, mengapa banyak orang enggan untuk menyerahkan sepenuhnya
hidupnya (dan bukan hanya kematian yang tidak sanggup dikuasainya).
Ketidak-berdayaan manusia dalam menghadapi kematian sebenarnya hanya
menyatakan hal yang sama terhadap kehidupan.
Biasanya
orang-orang percaya didalam perjalanan hidupnya setiap waktu selalu
merenungkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ia sendiri mati,
sama seperti semua manusia yang lain, namun berbeda dari mereka semua,
karena Ia sanggup mengalahkan kuasa kematian. Dan Ia berjanji untuk
memberikan kehidupan yang kekal bagi mereka yang percaya dalam namaNya.
Orang percaya akan tetap mengalami kematian (kecuali Tuhan telah datang
kembali sebelum hari kematiannya). Namun ia tidak akan selama-lamanya
binasa, bersama dengan Tuhan ia akan dibangkitkan untuk menerima
kehidupan kekal di sorga. Dan bukan hanya itu, mereka yang percaya dalam
namaNya juga diberi kuasa untuk hidup mati terhadap dosa, terhadap
dunia, bahkan terhadap diri sendiri. Kematian ini adalah kematian yang
menghidupkan. Sebaliknya, penolakan terhadap kematian ini akan membawa
kepada kebinasaan kekal, kematian yang sesung-guhnya. Yesus Kristus
mengatakan “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:24). Menyelamatkan hidup justru
akan kehilangan hidup, sebaliknya mengorbankannya adalah
menyelamatkannya.
Kematian Kristus
memberikan kemungkinan kepada manusia untuk tidak hidup bagi dirinya
sendiri. Sekalipun Ia tidak berdosa dan tidak harus mengalami maut,
namun Ia rela mati karena dosa-dosa umat manusia. KematianNya merupakan
penyataan puncak ketaatanNya yang sempurna kepada Allah, tidak ada suatu
pun yang Dia pertahankan bagi diriNya sendiri. Ia telah menyerahkan
segala sesuatu yang dapat diberikan, bahkan nyawaNya sendiri. Kematian
inilah yang mendahului kebangkitan dan hidup.
Begitu
banyak orang percaya yang kehidupannya tidak berada dalam kepenuhan
kuasa kebangkitan, karena menolak kuasa kematian yang harus bekerja
terlebih dahulu. Tanpa kematian terhadap diri kita sendiri, tidak ada
gunanya untuk mengharapkan pekerjaan kuasaNya yang dahsyat. Pergumulan
kita lebih merupakan pergumulan untuk suatu kehidupan yang menyangkal
diri, daripada kehidupan yang mendapatkan kuasa Tuhan. Persekutuan dalam
penderitaan Kristus, demikianlah yang terus dikejar oleh Paulus, dan
dia tidak berpendapat telah mem-perolehnya, maksudnya perjalanan yang
harus ditempuh masih merupakan suatu proses yang panjang, dia tidak
berhenti bergumul untuk mengejar panggilan Tuhan. Saya percaya setiap
orang yang membaca tulisan ini, atasnya Tuhan memiliki suatu rencana.
Rencana itu tersembunyi, kita bahkan tidak berhak untuk mengetahuinya,
namun ada satu hal yang kita boleh, bahkan harus mengetahuinya, yaitu
bahwa Tuhan menghendaki kita untuk mati dan disalibkan bersama-sama
dengan Dia, dengan demikian kita akan hidup bersama-sama dengan Dia
kelak selama-lamanya Di sinilah letak kepenuhan hidup yang sesungguhnya.
Karena itu sebelum perjalanan hidupmu berakhir, bagi Saudara yang belum
percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatmu secara
pribadi jangan tunggu lagi inilah waktunya akui segala dosamu dan
percayakan hidupmu kepada Kristus, bagi Saudara yang sudah mengaku
percaya mari tetap hidup taat, setia dan memberikan seluruh hidup kita bagi-Nya. Amin, Soli Deo Gloria..!!