Welcome

Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Dapat Binasa....!!!
Showing posts with label Etika. Show all posts
Showing posts with label Etika. Show all posts

Friday, 13 January 2012

CARA-CARA KRISTEN UNTUK MENGATASI STRES DALAM BEKERJA

CARA-CARA KRISTEN UNTUK MENGATASI STRES DALAM BEKERJA

Mencari tahu cara-cara Kristiani untuk mengatasi stres dalam bekerja, akan membantu Anda semakin dekat dengan Allah dan menjadi teladan bagi orang lain. Sebagai orang Kristen, Anda tentu ingin mengandalkan hubungan Anda dengan Tuhan untuk menentukan pilihan-pilihan yang baik, dan tempat kerja adalah tempat yang ideal untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani Anda.

1. Tunjukkan Sikap Seorang Kristen

Sebagai orang Kristen, mungkin Anda tidak ingin memperlihatkan diri Anda sebagai orang yang berbohong, menipu, dan mencuri. Saat Anda ada di tempat kerja, pastikan Anda tetap melayani Allah. Jika Anda menaati firman Yesus, Anda tidak akan cenderung bereaksi dengan kemarahan terhadap orang lain. Dengan mencari cara-cara Kristiani untuk mengatasi stres dalam bekerja, berarti kita bersandar kepada Allah untuk menemukan ketenteraman pikiran dan untuk membimbing Anda sepanjang hari.

Ayat: "Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya." (Amsal 13:11)

2. Tenanglah

Luangkan waktu kerja Anda selama beberapa menit untuk berdoa dalam hati. Walaupun ajaran agama tidak selalu bisa sejalan dengan lingkungan kerja Anda, Anda dapat meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia kapan saja pada hari-hari yang penuh dengan tekanan. Tidak ada alasan apa pun sehingga Anda tidak bisa semakin dekat dengan Allah saat bekerja dan meminta-Nya untuk membimbing Anda. Bahkan, tidak ada waktu yang lebih baik lagi untuk datang kepada-Nya karena sepertinya Anda menghabiskan separuh waktu hidup Anda di tempat kerja.

Ayat: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)

3. Bersyukurlah

Lihatlah apa yang Allah inginkan untuk Anda alami dalam jam kerja Anda. Alih-alih menganggap stres sebagai hukuman dan kesulitan, percayalah bahwa Anda benar-benar melayani Dia. Sebagai orang Kristen, Anda setia dan penuh ucapan syukur. Daripada terkungkung dalam pekerjaan yang menekan, bersyukurlah kepada Tuhan atas upah kerja, tidak peduli seberapa berat pekerjaan yang harus dilakukan. Ketahuilah bahwa memiliki pekerjaan adalah sebuah hak istimewa. Daripada hanya fokus pada kesulitan-kesulitan, pikirkan pekerjaan Anda sebagai pelayanan kasih.

Ayat: "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." (Pengkhotbah 9:10)

4. Ingatkanlah Diri Anda akan Kebenaran

Anda adalah anak Allah, Dia mengasihi Anda dan menginginkan Anda untuk bersandar kepada-Nya. Bacalah Alkitab untuk mendapatkan ketenangan dan carilah kutipan tentang pekerjaan, yang berkata-kata kepada Anda dan memberi Anda penghiburan. Anda juga dapat membuat catatan pengingat pada buku agenda harian Anda, yang memberi tahu Anda untuk mencari Allah terlebih dulu saat menghadapi tekanan pekerjaan. Tidak peduli apa pun masalahnya, carilah cara yang positif untuk mengatasi stres.

Alkitab mengatakan bahwa 6 hari lamanya kita bekerja dan hari ketujuh adalah hari istirahat. Ketimbang mengeluh karena Anda kurang istirahat, sadarilah bahwa bekerja adalah bagian dari rancangan Allah dan tujuan Anda. Angkatlah tekanan kerja Anda, yang tidak dapat dihindari dengan cara apa pun, serta tetapkan tujuan untuk menyenangkan Allah.

Ayat: "Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa." (Amsal 12:24)

5. Jadilah Teladan Kristus

Di tempat kerja, Anda mengembangkan hubungan yang berarti dengan berbagai macam orang, termasuk orang-orang percaya dan orang-orang yang tidak percaya. Kemungkinan tidak ada lagi kesempatan bagi Anda dikelilingi oleh orang-orang dari berbagai latar belakang, setiap hari. Tempat kerja adalah tempat yang ideal untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani dan memberi teladan.

Bagaimana Anda bertingkah laku di tempat kerja menjadi kesaksian atas keyakinan Anda dan kesempatan untuk memuliakan Allah. Jangan membuat kesalahan dengan memberikan contoh yang buruk atau bertindak seenaknya. Hal ini membuat Anda terlihat buruk dan menyakiti orang-orang Kristen yang lain. Lebih lagi, bekerjalah untuk mengembangkan sifat sabar, setia, jujur, dan tunduk. Setiap kesulitan yang menghadang jalan Anda dapat dilihat sebagai batu-batu pijakan untuk menumbuhkan hubungan Anda dengan Allah, dan membagikan kasih Anda kepada orang lain.

Ayat: "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkhotbah 3:22) 

Diterjemahkan dari:
Nama situs: LoveToKnow Stress Management
Alamat URL: http://stress.lovetoknow.com/Christian_Ways_to_Handle_Work_Stress
Judul asli artikel: Christian Ways to Handle Work Stress
Penulis: Lindsay Woolman

Apakah Anda Benar-Benar menikmati Pekerjaan Anda?

APAKAH ANDA BENAR-BENAR MENIKMATI PEKERJAAN ANDA?

"... tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya...." Pengkhotbah 3:22

Di tengah-tengah kesibukan kerja yang seakan tak pernah ada akhirnya dan jadwal-jadwal ketat yang kadang begitu menyesakkan, sering kali kita merasa stres. Kondisi demikian dengan mudah menyebabkan kita kehilangan sukacita. Tuntutan profesionalisme yang kian tinggi, ambisi meraih puncak karier, daya juang yang dipadukan dengan daya saing untuk menggapai prestasi terhormat, dan sederet sikap positif lainnya jelas memang bukan sikap yang keliru. Meskipun demikian, hal-hal tersebut tidak jarang membuat kita merasa stres dan tegang, yang akhirnya menimbulkan gangguan-gangguan psikosomatis, seperti: pusing, tidak bisa tidur, sakit lambung, gatal-gatal, dan lain-lain.

Kakak seorang dosen saya meninggal akibat penyakit jantung, justru ketika surat pengangkatannya dari kepala cabang menjadi direktur kantor pusat sedang diproses. Memang, seseorang yang pantang menyerah hanya dapat dipaksa menyerah oleh kesehatan yang terus memburuk atau kematian. Karena itu, kita sering mendengar orang-orang tua menasihati agar kita jangan bekerja terlalu berat (Bahasa Jawa: ngoyo). Kalau sudah jatuh sakit, mungkin baru terpikir: "Untuk siapa aku berlelah-lelah atau menolak kesenangan?" (Pengkhotbah 4:8) Karena itu, kajilah kemungkinan berikut.

1. Anda menyukai pekerjaan Anda, tetapi tidak menyukai suasana dan lingkungan kerjanya.

2. Anda menyukai suasana dan lingkungan kerja Anda, tetapi sebenarnya Anda tidak menyukai pekerjaan Anda.

3. Anda tidak menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi terpaksa Anda jalani karena Anda butuh pekerjaan.

4. Anda menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi Anda merasa tidak dapat berkembang bila terus bertahan dalam pekerjaan itu.

5. Anda menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi Anda tertantang untuk mencoba berkarier di bidang lain karena tawaran gaji yang lebih besar atau karena bidang itu jauh lebih mengasyikkan.

Kelima kemungkinan itu memiliki satu persamaan, yaitu konflik kepentingan dan minat. Itulah inti masalahnya! Untuk mengatasinya, cobalah untuk:

1. Jujur terhadap diri sendiri.

Bila Anda belum menikah, pilihlah bidang yang paling Anda sukai sekaligus paling Anda kuasai, sekalipun bidang itu tidak menjanjikan penghasilan besar, karena kepuasan dan kebutuhan aktualisasi diri yang Anda peroleh dari pekerjaan Anda tidak dapat menandingi nilai uang yang Anda dapatkan. Bila Anda sudah menikah atau kebutuhan ekonomi sangat mendesak, Anda terpaksa harus memilih pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi Anda saat ini, walau mungkin Anda tidak begitu suka dengan pekerjaan itu. Dalam hal ini, tanggung jawab terhadap keluarga harus mengalahkan kepuasan pribadi.

2. Kerjakan pekerjaan Anda sebaik mungkin (Pengkhotbah 9:10).

Pekerjaan yang terus ditekuni akan membuat Anda menjadi sangat profesional dalam bidang itu walaupun awalnya Anda tidak menyukainya. Lama-lama Anda akan menyukainya karena pekerjaan itu Anda geluti setiap hari. Perlu diingat bahwa perusahaan-perusahaan besar kini tidak segan-segan menghargai profesionalisme dengan gaji yang memadai.

3. Bijak mengambil keputusan.

Bila Anda tidak menyukai lingkungan tempat Anda bekerja karena lingkungan itu mengganggu kesehatan, apalagi bila dalam jangka waktu yang lama hal itu dapat berakibat fatal, sebaiknya Anda tidak ragu-ragu berhenti dan mencari kerja di tempat lain atau minta dipindahkan ke cabang lain. Bila Anda tidak menyukai suasana kerjanya, cobalah untuk menyesuaikan diri. Bila Anda menyukai pekerjaan Anda, hal ini akan mempermudah Anda untuk menyesuaikan diri dengan suasana kerja Anda. Bila suasana tempat kerja Anda menjadi tidak tertahankan, misalnya karena rekan atau bahkan atasan Anda suka membuat ulah, sebaiknya Anda juga tidak ragu-ragu untuk berhenti atau minta pindah ke bagian lain. Karena suasana kerja yang tidak sehat (beban kerja terlalu berat, dibenci rekan-rekan sekerja, konflik dengan atasan) dapat berakibat fatal.

4. Bila Anda merasa kurang dapat berkembang, silakan "meloncat" mencari kerja di tempat lain.

Tentunya, sebelum mengambil keputusan tersebut, Anda harus sudah mempertimbangkan masak-masak untuk ruginya.

5. Bila Anda ingin karier yang baru, pelajari baik-baik seluruh seluk-beluk karier itu.

Mungkin Anda hanya terpengaruh oleh hal-hal yang tampak menarik di permukaannya saja. Bila ternyata karier itu memang menjanjikan kepuasan dan masa depan yang lebih baik bagi Anda, silakan bermigrasi.

Pindah kerja memang susah-susah gampang. Anda perlu ekstra hati-hati "meloncat" bila usia Anda sudah agak tua. Salah-salah Anda malah tercebur ke selokan. Sudah tentu, risiko selalu ada. Karena itu, bila Anda sudah berumur dan merasa kemampuan kerja Anda biasa-biasa saja, cobalah belajar menikmati pekerjaan Anda, apalagi bila lingkungan dan suasana kerjanya cukup menyenangkan. Karena, bila Anda menikmati pekerjaan Anda, Anda pasti menyukainya. Dan bila Anda menyukainya, Anda akan asyik menekuninya karena kini pekerjaan itu telah menjadi seperti hobi. Dan bila Anda menekuni hobi Anda itu, tentu Anda tak akan merasa bahwa Anda sedang bekerja, bukan? Dan karena Anda tidak merasa bahwa Anda sedang menyelesaikan pekerjaan kantor, Anda tidak akan merasa stres atau diburu-buru. Bersamaan dengan itu, ambisi berlebihan yang dapat merusak saraf Anda tersublimasi secara otomatis dalam keasyikan dan kesenangan menekuni "hobi" Anda itu.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: 29 Kiat Sukses dalam Karier
Judul artikel: Apakah Anda Benar-Benar Menikmati Pekerjaan Anda?
Penulis: Arif Suryobuwono dan M. Kurniawati Prayitno
Penerbit: Yayasan ANDI Yogyakarta dan YASKI Jakarta, 1994
Halaman: 31 -- 34

Thursday, 4 August 2011

MANAJEMEN DIRI : PENGGUNAAN WAKTU


"MANAJEMEN DIRI "
(Pengunaan Waktu)


Apa pendapat anda tentang "waktu", suatu anugerah atau justru pengekang hidup?

Tuhan menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan menikmati hidup. Sudah cukupkah ? Apakah kita sering merasa kekurangan waktu, bahkan seolah-olah hidup kita begitu dikendalikan oleh waktu ?

Waktu dapat menjadi pengekang hidup, jika kita membiarkan diri dikendalikan olehnya, tapi waktu menjadi suatu anugerah, jika kita mampu mengendalikan dan mengelolanya dengan bijaksana serta melihatnya sebagai kesempatan untuk mengalami hal-hal yang bermakna. Jadi, kita yang memegang kendali atas waktu, bukan waktu yang mengendalikan kita.

Sudahkah anda membuat waktu anda bermakna ?

Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen waktu, kita perlu memahami dua pengertian tentang waktu, yaitu sebagai kronos dan kairos.   Kronos adalah waktu-waktu yang kita jalani, misalnya Senin, Selasa, sehari, sebulan, setahun. Seringkali kita menggunakannya pada istilah kronologis. Sedangkan kairos adalah waktu yang bermakna bagi kita. Dari usia 0 tahun hingga 17 tahun kita menjalani kronos, tapi dalam kurun waktu itu pasti ada saat-saat penting yang membawa kesan tersendiri bagi kita, misalnya saat pertama masuk sekolah, saat bertengkar dengan sahabat, saat pertama kali jatuh cinta, saat gagal di ujian, saat menjadi juara di pertandingan olahraga. Bagaimana reaksi kita pada saat itu dan bagaimana kita menghadapinya ? Pelajaran apa yang kita peroleh dari peristiwa itu ?  Itulah kairos, saat-saat bermakna dalam perjalanan hidup yang membentuk karakter diri kita.

Kairos tidak harus berupa peristiwa besar, mungkin hanya peristiwa kecil / sepele, tapi yang penting kita bisa belajar sesuatu dari peristiwa itu. Intinya, marilah kita belajar peka untuk melihat makna dibalik peristiwa. Ada perbedaan besar antara orang yang hanya sekedar menjalani kronos dengan orang yang mampu melihat kairos-kairos dalam hidupnya.

Orang yang mampu memahami waktu sebagai kairos, melihat hidup sebagai kesempatan , bukan sekedar hidup yang dijalani begitu saja tanpa makna. Kesempatan untuk mengalami suka dan duka, sukses dan gagal, yang memproses diri kita menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan banyak hal yang bermakna..

Kita masuk perguruan tinggi selama 4 atau 5 tahun, apakah hanya untuk mendapat gelar sarjana ? Harus lebih dari itu, waktu-waktu itu akan menjadi kesempatan untuk meraih kairos-kairos. Kesulitan ketika belajar, kegagalan di ujian, pertemuan dengan orang serta lingkungan yang baru, adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih ulet, lebih punya kontrol diri, lebih mampu menyesuaikan diri dan sebagainya. Sudahkah anda mengubah kronos menjadi kairos ?


Memanajemen waktu dengan tepat
Jika kita memahami waktu sebagai kairos, kita akan menyadari bahwa waktu itu begitu berharga. Mungkin ada banyak hal yang ingin kita lakukan dan kita alami dalam hidup ini, bagaimana cara mengaturnya ?


Ada 3 hal yang harus kita miliki: a goal - a plan - take action


1. A goal ( tujuan )

Apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup ini ? Mengapa kita ingin mencapai itu ? Masing-masing orang tentu berbeda, tapi setiap orang harus punya. Ini penting, karena banyak orang yang menjalani hari-hari hidupnya tanpa tahu untuk apa ia hidup, mau ke mana ia menuju. Hidup menjadi seperti petualangan tanpa arah atau hanya sebuah rutinitas. Padahal hidup adalah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan baik. Jika anda belum menemukan tujuan hidup anda, ambillah waktu untuk menggumulkan hal itu. Bila perlu mintalah bantuan pada orang yang mampu membimbing anda. Ini adalah langkah awal yang penting. Jangan di hari tua kita baru menyesal " Mengapa aku tidak menata hidupku sejak muda " atau kita baru menyadari " Mengapa hidupku jadi begini ? " Tentu di saat itu semuanya sudah terlambat.

Setelah kita tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup ( ini adalah tujuan jangka panjang ), kita dapat melanjutkannya dengan membuat tujuan-tujuan atau target-target jangka pendek, sebagai langkah untuk mencapai tujuan akhir. Target untuk 5 tahun mendatang, target tahun ini, target semester ini, bahkan target hari ini. Tujuan/target bisa lebih dari satu, misalnya target dalam bidang studi, pekerjaan, spiritual, dan sebagainya. Buatlah target yang realistis ( sesuai kemampuan ) dan konkrit. Bila perlu tulislah pada kertas/buku catatan anda.


2. A plan ( rencana )

" If you fail to plan, you plan to fail." Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Jika kita sudah punya tujuan/target yang jelas, kita dapat merencanakan langkah dan cara untuk mencapai hal itu. Beberapa langkah yang dapat kita lakukan adalah :  

a. Mengatur aktivitas
Evaluasi kembali aktivitas-aktivitas yang biasa kita lakukan selama ini. Dari sekian banyak aktivitas yang ada, pilihlah mana yang perlu dilakukan, mana yang tidak. Apa aktivitas yang lebih baik kita lakukan di waktu luang, misalnya: apakah kita sering memboroskan waktu untuk nonton VCD atau jalan-jalan ke Mall ? Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat yang dapat kita lakukan ? Mungkin belajar bahasa Inggris, jika ternyata kita punya tujuan menjadi ahli komputer sedangkan kemampuan bahasa Inggris kita masih kurang. Jadi kita men-seleksi aktivitas dalam rangka mencapai tujuan yang sudah kita targetkan. 


b. Menentukan prioritas
Dari sekian banyak aktivitas yang sudah kita seleksi, terkadang kita masih ingin melakukan banyak hal : kuliah, les Inggris, les musik, olahraga, kumpul dengan teman-teman, ikut organisasi atau pelayanan, bekerja paruh waktu, dan sebagainya. Jika kita ingin melakukan semuanya, mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal, dan bisa jadi yang terpenting justru terabaikan. Misalnya: karena terlalu asyik berorganisasi, kuliah jadi terlantar.

Kita harus menentukan aktivitas-aktivitas yang harus mendapat prioritas utama, dan aktivitas-aktivitas yang boleh kita lakukan, namun pada porsi yang tepat. Sebagai contoh: olahraga itu penting, kita perlu menyediakan waktu untuk itu, tapi tidak perlu menjadi prioritas utama, jika tujuan kita bukan untuk menjadi seorang atlit. Jika suatu saat kita dihadapkan pada dua pilihan, misalnya sore ini harus kerja kelompok padahal bersamaan dengan jadwal main basket dengan teman-teman. Kita bisa menentukan mana yang harus kita dahulukan, karena kita tahu apa prioritas kita.  

c. Membuat rencana yang realistis
Jika kita sudah menentukan target yang realistis, maka kita juga perlu membuat rencana yang realistis. Misalkan dalam semester pertama kita punya target untuk mencapai IP di atas 2,5, kita membuat rencana agar target itu tercapai. Kita membuat jadwal belajar secara teratur, berapa jam sehari, kapan waktu yang terbaik, dan sebagainya. Buatlah semua itu secara realistis, sehingga kita dapat sungguh-sungguh melaksanakannya.  

d. Melaksanakan rencana secara fleksibel
Terkadang rencana yang sudah kita buat, terganggu oleh hal-hal yang tidak terduga. Misalkan nanti malam adalah jadwal kita belajar, tapi ternyata ada acara penting yang harus kita hadiri. Jika acara itu memang penting dan tidak dapat ditunda, batalkan jadwal belajar dan carilah waktu pengganti. Tapi perlu diwaspadai, jangan suka mengubah rencana karena tergoda dengan hal-hal yang kurang penting. Jika ada kegiatan di luar rencana yang ingin kita lakukan, aturlah waktu sehingga hal yang penting tetap dapat kita laksanakan. 

e. Membuat agenda harian
Mempunyai jadwal kegiatan harian akan sangat membantu kita untuk memanajemen waktu yang kita miliki setiap hari, namun tidak semua orang mau membuatnya secara detil. Paling tidak kita harus mencatat hal-hal penting yang harus kita lakukan di agenda harian, sehingga di pagi hari kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan pada hari itu dan bagaimana cara kita mengatur waktu untuk menyelesaikan semuanya. Target jangka panjang akan tercapai jika kita mampu mendisiplin diri untuk menyelesaikan target-target harian.

3. Take action ( bertindak )
Lakukan apa yang sudah direncanakan! Jika tidak, semua target dan rencana yang kita buat tidak punya arti apa-apa. Beberapa hal yang harus kita waspadai : 

a. Jika 'penyakit' malas menyerang
" Saya lagi nggak mood "; " Waktunya nggak pas buat belajar " dan sebagainya. 

b. Kebiasaan menunda pekerjaan
"Besok masih ada waktu kok "; " Sebentar lagi ah "; "Ujiannya kan masih minggu depan"  

c. Tidak mampu mendisiplin diri sendiri
Kalau sudah terlanjur nonton televisi atau main game, lupa segalanya 

d. Tidak berani berkata "tidak"
'Sungkan' menolak teman yang tiba-tiba mengajak keluar atau ngobrol lewat telepon

             Kemampuan memanajemen waktu berkaitan erat dengan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa hidup tanpa planning, atau terbiasa menunda-nunda sesuatu, akan sangat sulit mendisiplin diri dengan jadwal waktu yang terencana. Mengubah kebiasaan adalah hal yang sulit, namun kesuksesan diraih dengan kemauan dan keberanian untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik dari hari ke hari, terutama dalam hal manajemen waktu.

“ There never has been, and cannot be, a good lifewithout self control  - Leo Tolstoy -

Referensi :
·        Paul, Walter. How to Study in College, Boston : Houghton Mifflin Company. 1984.
·      Tong, Stephen. Pemuda dan Krisis Zaman, Jakarta : Stephen Tong Evangelistic Ministries International. 1996

Friday, 1 July 2011

Antropology

ANTROPOLOGy
By: Fernando Tambunan
Disampaikan pada Ibadah Persekutuan Akhir Pekan Pemuda mahasiswa
DPPM YPDPA Sumut, Sabtu 07 Mei 2011



I.                   PENGANTAR
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "Ilmu" . Jadi antropologi artinya ilmu yang mempelajari tentang manusia, sifatnya, hubungan-hubungannya.
Mengapa perlu mempelajari antropologi? Ini mempengaruhi kita bagaimana kita mengenal diri kita dan mengenal Allah, dan bagaimana kita melayani Allah, juga karena krisis yang melanda manusia saat ini.


II.                PEMBAHASAN
Manusia yang hanya beberapa puluh kilogram ini bisa mendaki gunung yang paling tinggi, menembus laut yang dalam, meluncurkan roket ke ruang angkasa. Manusia adalah satu-satunya makhluk dengan potensi kemungkinan.

1.                 Hakekat Manusia dihadapan Allah
Kej 2:4-7
“Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup” ( Kej 2:7 )

Di dalam Kej 1, kita sudah melihat bahwa manusia adalah puncak penciptaan. Manusia diciptakan paling terakhir. Manusia diciptakan sesudah Tuhan menciptakan alam semesta. Jadi alam semesta ini diciptakan untuk manusia dan manusia untuk Tuhan. Kalau kita membandingkan Kej 1 dan Kej 2, sepertinya ada dua peristiwa yang fokusnya berbeda. Kalau di dalam Kej 1 fokusnya adalah penciptaan langit dan bumi dan segala isinya. Kej 1 menceritakan asal mula kosmos dan urutan penciptaan. Tetapi di dalam Kej 2 adalah penciptaan manusia menjadi fokus. Manusia menjadi sentral di dalam Kej 2.
Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah dan manusia diciptakan oleh Allah Yahweh yang berelasi dengan umatNya. Ini sungguh sangat indah sekali. Ada hubungan yang intim antara Allah dan umatNya. Bahkan penciptaan umatNya juga melalui nafasNya.

Manusia diciptakan sebagai mahluk materi
Alkitab mengajarkan Adam dibuat dari debu tanah ( Kej 2:7 ), ini menegaskan natur materi dari manusia. ( Kej 2:7 ). Nama Adam yang berarti tanah liat ( merah ) menekankan fakta ini. Manusia hanyalah dari debu tanah. Berarti kita tidak ada apa-apanya. Kita hanyalah mahluk yang tidak ada apa-apanya. Tetapi manusia adalah gambar dan rupa Allah. Manusia adalah mahluk yang mulia.
Debu tanah bukan berarti materi itu jahat. Bukan berarti materi itu rendah. Kaum Gnostik menganggap materi jahat dan inferior. Sedangkan rohani adalah baik. Ini harus ditolak. Tetapi Allah bukan saja mendeklarasikan ciptaan materi “Sangat baik” tetapi membuat manusia darinya.
Manusia tidak dapat berfungsi baik terlepas daripada badan karena manusia diciptakan/didesign untuk berfungsi sebagai mahluk yang bermateri. Materi dari manusia bukan lebih rendah dari natur manusia dan aspek rohani lebih tinggi. Baik ciptaan rohani dan materi adalah sama-sama baik dan penting karena dari Allah dan untuk Allah. Dan kedua-duanya sudah rusak oleh dosa.
Seringkali di dalam pikiran manusia yang sudah jatuh dalam dosa, rohani diidentifikasikan dengan Allah dan materi dengan setan. Ini salah !. Sebab materi itu baik adanya. Karena itu tindakan asketisme dimana badan ( karena itu materi ) dihukum dan menjadi subjek untuk direndahkan atau dilukai tidak benar secara Alkitabiah. Badan harus dihormati karena bait Roh Kudus. Kalau tubuh adalah bait Roh Kudus berarti tubuh itu suci adanya. Yesus sendiri menjadi manusia dan memiliki tubuh dan mati untuk kita.
Kerohanian yang sejati itu bukan menyiksa diri, berpuasa terus menerus, menyendiri dan menganggap bahwa materi dan tubuh itu jahat. Tetapi kerohanian yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Manusia diciptakan sebagai mahluk rohani
Ada 2 elemen yang ada didalam cerita kejadian. Adam dibentuk dari tanah. Tetapi hanya ketika nafas hidup dinafaskan kepada dia maka Adam menjadi mahluk yang hidup.
Manusia diciptakan sebagai mahluk hidup itu unik. Keunikannya adalah penciptaan manusia adalah dengan cara Allah dimana Dia menafaskan Adam nafas hidup. Cara ini bersifat pribadi, langsung, dan unik yang membedakan ciptaan manusia dengan mahluk lain. Ada sisi bagian dunia pada manusia, tetapi ada sisi rohani pada manusia juga. Manusia memiliki dua elemen.
Ketika Yesus menyembuhkan orang buta menggunakan debu tanah ini menunjukkan manusia punya aspek materi. Dan ketika Yesus menghembuskan Roh Kudus maka menunjukkan bahwa manusia punya aspek rohani yaitu nafas hidup.
Nafas hidup mendemonstrasikan bahwa manusia lebih dari sekedar tubuh. Nafas hidup ini adalah sumber dari kehidupan. Tubuh tanpa roh adalah mati. Tubuh harus disertai dengan roh. Ada tubuh dan ada roh. Jadi manusia terdiri dari 2 elemen yaitu dari tanah dan dari nafas hidup Allah. Manusia mempunyai elemen tubuh dan mempunyai elemen jiwa roh.
Pengkotbah 12:7 menjelaskan 2 elemen dari natur manusia : dan debu kembali kepada tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.
Sewaktu mati, kedua elemen ini akan menjadi elemen yang berbeda dan kembali kepada sumber yang berbeda. Tubuh kembali menjadi debu. Roh kembali kepada Allah.
Di dalam Pengkotbah 3:21 dikatakan bahwa Roh manusia ke atas, roh binatang ke bawah. Roh manusia terpisah dari tubuh manusia ketika mati karena bentuk unik yang diterimanya sewaktu penciptaan. Namun roh binatang terikat kepada tubuh mereka dan dikuburkan ketika kematian. Ini yang membedakan manusia dengan binatang.

Apa aplikasi natur manusia sebagai mahluk yang bermateri dan Apa aplikasi natur manusia sebagai mahluk yang rohani bagi kita ?

Kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh kita
Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Tubuh kita adalah bait Allah. Karena itu kita harus menjaganya kudus. Tubuh kita harus dijauhkan dari rupa-rupa kecemaran dan kenajisan. Tubuh kita harus dijauhkan dari perzinahan. Tubuh kita harus kudus karena Allah tinggal di dalam diri kita. Alkitab tidak menganggap tubuh tidak penting sebaliknya tubuh ini penting.
Kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah. Ini adalah ibadah yang sejati.
Ada lagu : pakai hidupku Tuhan. Pakai tanganku, pakai mulutku. Ini penggunaan tubuh secara positif. Tubuh harus dipersembahkan kepada Allah. Tetapi ada lagu yang mengajarkan supaya hati-hati gunakan tanganmu. Ini adalah larangan secara negatif. Tubuh kita harus dijauhkan dari dosa. Tubuh kita harus disucikan.
Kita juga mempunyai pandangan yang seimbang mengenai kerohanian. Kerohanian itu bukan saja hal-hal berdoa, membaca Alkitab dan beribadah. Tetapi kerohanian juga berkaitan dengan hal-hal jasmaniah. Kalau kita merawat tubuh kita, makan yang bergizi dan juga berolah raga. Ini juga adalah kerohanian. Merawat bait Allah supaya boleh sehat dan digunakan untuk pelayanan Tuhan.
Olah raga itu satu hal yang rohani. Banyak pelajaran dari olah raga. Ada aspek fisik, sosial, dan rohani. Main volley.

Kita harus memuliakan Tuhan dengan jiwa roh dan hati kita
Kalau tubuh kita harus dijaga kudus, Hati kitapun harus dijaga bersih. Hati adalah diri manusia yang dalam ( inner ). “Hidden person of the heart”. Secara jelas, hati di dalam Alkitab adalah kehidupan dalam yang dimana seseorang hidup di hadapan Allah dan dirinya. Hati adalah sebuah hidup yang tidak diketahui oleh orang lain karena itu tersembunyi bagi mereka.
Amsal mengatakan “Awasilah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan” Dari hati, perkataan keluar. Dari hati, tindakan keluar. Dari hati, dosa datang. Orang dicobai oleh keinginan hatinya sendiri. Hati adalah sumber atau rumah harta karun yang dimana perkataan keluar dan tindakan mengalir. Seseorang dapat berdosa di dalam hatinya bahkan ketika tidak berdosa secara luar.
Karena itu seseorang harus disucikan hatinya. Hanya mereka yang suci hatinya yang diberkati ( Mat 5:8 ). Jadi hati adalah keseluruhan hidup yang dalam. Semua yang dikatakan mengenai jiwa dan roh juga dikatakan mengenai hati. Apa yang dikatakan mengenai roh juga dikatakan mengenai jiwa dan juga hati. Kedua-duanya tempat bersukacita, bermasalah, sedih, dll.

Mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan kita
Kita harus mengasihi Tuhan dengan seluruh baik tubuh maupun roh jiwa kita. Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Keseluruhan hidup kita adalah untuk Tuhan. Tidak ada bagian dari hidup kita yang bukan milik Tuhan. Tidak ada satu inci di dalam hidup kita yang bukan milik Kristus. Semua milik Tuhan.
Karena itu jaga tubuh kita. Apakah sudah dipersembahkan kepada Allah ? Apakah sudah dijauhkan dari dosa ?
Karena itu jaga hati kita. Adakah hati kita mendua ? Adakah ruang bagi dosa di dalam hati kita ? Selidikilah hati kita.
Kita harus mengasihi Tuhan dan menyembahnya dengan seluruh keberadaan kita. Alkitab mengatakan barangsiapa menyembah Allah harus menyembah di dalam Roh dan Kebenaran. Selain dengan roh kita menyembah, kita juga harus menyembah dengan kebenaran dan sesuai dengan prinsip yang benar.
Karena baik jasmani dan rohani dua-duanya penting maka harus dipupuk dan dipelihara. Kedua aspek jasmani dan rohani ini saling berkaitan. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Di dalam jiwa yang sehat juga mempengaruhi tubuh yang sehat. Banyak orang di dalam dunia ini yang menderita penyakit yang sebenarnya diakibatkan dari jiwanya.
Bagaimana memupuk kesehatan jasmani ? Dengan olahraga dan juga makan yang bergizi. Dan ingat juga pelajaran mengenai sabat bahwa manusia juga perlu sabat dan istirahat.
Bagaimana memupuk kesehatan rohani bagi orang percaya ? Jiwa kerohanian harus diberi makan. Chicken soul for the soul.
Kita memerlukan apa yang dinamakan saluran anugerah. Jiwa kita memerlukan saluran anugerah atau sarana anugerah untuk bertumbuh. Saluran anugerah ini adalah di dalam doa, sakramen, Firman, persekutuan orang kudus. Ini adalah sarana-sarana anugerah dan pengudusan dari Tuhan Allah.

Saluran anugerah pertama adalah doa.
Dengan melakukan doa maka orang percaya bersekutu dengan Tuhan. Dimana ada persekutuan dengan Tuhan maka akan ada pengudusan. Dengan doa dalam nama Kristus maka orang percaya masuk ruang yang maha kudus dan boleh mendapatkan anugerah disana. Dengan doa maka orang percaya berkomunikasi dengan Tuhan. Bukankah hak istimewa bahwa kita boleh menghampiri Tuhan dan menerima anugerahNya. Tuhan juga menjawab doa-doa orang percaya yang sesuai dengan kehendakNya. Doa adalah nafas hidup orang percaya. Doa adalah bersekutu dengan pencipta. Doa adalah saluran anugerah. Di dalam doa ada kekuatan, ada penyertaan, ada kedamaian, ada kuasa Tuhan, ada perlindungan Tuhan, ada persekutuan dengan Tuhan, ada kuasa untuk mengalahkan pencobaan. Doa orang benar besar kuasanya.

Saluran anugerah berikutnya adalah baptisan.
Dengan melakukan sakramen baptisan, orang percaya masuk ke dalam gereja yang kelihatan yang melambangkan baptisan roh kudus dimana orang percaya masuk ke dalam gereja yang tidak kelihatan.

Saluran anugerah berikutnya adalah perjamuan kudus.
Dengan melakukan sakramen perjamuan kudus, orang percaya mengingat anugerah keselamatan dalam Kristus. Saat Perjamuan Kudus, orang percaya ada di dalam persekutuan mistik dengan Kristus. Seperti janji Kristus bahwa barangsiapa tetap tinggal diam di dalamNya maka pasti kita akan berbuah.

Saluran anugerah berikutnya adalah Firman. Ini penting.
Firman Tuhan juga merupakan saluran anugerah dimana melalui Firman Tuhan orang percaya mengenal Tuhan. Dengan menyimpan Firman Tuhan dalam hati maka orang percaya dicegah dari dosa. Dengan menjaga kelakuan sesuai dengan Firman maka kelakuan orang percaya menjadi bersih. Firman Tuhan itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang percaya di dalam kebenaran. Firman Tuhan juga mendisiplin, menyegarkan jiwa, memberi kekuatan, memberikan arah, memberikan petunjuk, memberi nasihat, mempersiapkan orang di dalam pelayanan.
Berbahagialah orang yang kesukaannya adalah merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. ( Maz 1 )
FirmanMu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku ( Maz 119:105 )
Dengan apa seorang muda mempertahankan jalannya yang bersih ? Dengan menjaganya sesuai dengan FirmanMu ( Maz 119: )
Firman Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa ( Maz 19 )
Firman Tuhan memberikan hikmat kepada yang tidak berpengalaman ( Maz 19 )


Saluran anugerah yang lain adalah juga persekutuan orang kudus.
Gereja. Di dalam persekutuan dalam Kristus ada kasih dan di dalam kasih inilah orang percaya boleh bertumbuh. Hanya melalui kasih saja orang percaya boleh bertumbuh untuk melaksanakan kebenaran Firman Tuhan. Di dalam persekutuan orang kudus terjadi saling mengasihi, saling mendoakan, saling mendukung, saling menegur, saling menasihati, saling berbagi beban, saling melayani. Persekutuan di dalam Tuhan di dalam kasih membuat hidup menjadi indah dan berarti. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.


2.                  Tujuan Allah Menciptakan Manusia
Kenapa manusia diciptakan ? Allah tidak memerlukan untuk menciptakan manusia tetapi Dia menciptakan manusia untuk kemuliaanNya
Semenjak adanya kasih dari Tritunggal satu sama lain, Allah tidak memerlukan kita dan ciptaan. Allah bukan kesepian atau dia memerlukan persekutuan dari yang lain. Allah tidak memerlukan kita untuk alasan apapun. Allah menciptakan kita untuk kemuliaanNya.
“whom I created for my glory” ( Yes 43:7, Ef 1:11-12 ). Karena itu kita harus melakukan semua untuk kemuliaan nama Allah ( 1 Kor 10:31 )
Fakta ini menunjukkan bahwa hidup kita berarti. Kita diciptakan untuk kemuliaan nama Tuhan mengindikasikan bahwa kita penting untuk Allah sendiri. Ini adalah arti hidup kita. Jika kita sungguh sungguh penting bagi Allah untuk segala kekekalan, kemudian ukuran kepentingan apa yang kita inginkan ?

Apa tujuan hidup manusia ?
Untuk memuliakan Dia. Ini ketika berbicara mengenai Allah. Tetapi ketika berbicara mengenai kita bagaimana ? Untuk menikmati Dia dan bersukacita di dalam Dia dan didalam hubungan dengan Dia.  Yesus berkata “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10 )
Daud mengatakan “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” ( Maz 16:11 ). Dia menceritakan mengenai Allah “menyaksikan kemurahan TUHAN” ( Maz 27:4 ). Asaf berseru di dalam Mazmur 73:25-26. Kepenuhan sukacita ditemukan di dalam mengetahui kita dan menikmati karakter Dia yang luar biasa. Untuk berada di hadiratNya, menikmati persekutuan dengan Dia adalah berkat yang lebih besar daripada apapun yang dapat dibandingkan. Baca Maz 84
Karena itu sikap hati orang Kristen adalah bersukacita di dalam Tuhan dan didalam pelajaran hidup yang Dia berikan kepada kita ( Rm 5:2-3, Fil 4:4, 1 Tes 5:16-18; Yak 1:2; 1 Pet 1:6,8 )
 Ketika kita memuliakan Allah dan menikmati Dia, Alkitab mengatakan bahwa Dia bersukacita di dalam kita. “Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu. ” ( Yes 62:5 ) dan Zefanya bernubuat bahwa “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya." ( Zef 3:17-18 )
Allah mencipta manusia menurut peta teladan-Nya. Ini merupakan pernyataan di mana Ia mencipta makhluk yang lebih tinggi dari semua yang lain. Allah mencipta manusia sebagai ciptaan yang paling tinggi. Memang manusia kecil jika dibandingkan gajah; dibandingkan dengan banyak binatang lainnya, manusia masih tetap kecil. Tetapi, gajah, yang begitu besar, takut jika melihat manusia. Kualitas manusia jauh lebih besar daripada gajah. Kualitas jauh lebih penting dan bernilai ketimbang kuantitas. Manusia yang hanya beberapa puluh kilogram ini bisa mendaki gunung yang paling tinggi, menembus laut yang dalam, meluncurkan roket ke ruang angkasa. Manusia adalah satu-satunya makhluk dengan potensi kemungkinan. Allah mencipta manusia sebagai ciptaan tertinggi. Ia mencipta manusia menurut gambar dan rupa-Nya, menurut peta teladan-Nya agar segala sesuatu bisa ditaklukkan di bawah manusia.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mewakili Tuhan Allah. Dengan kuasa, hikmat, kodrat, dan potensi kontrol, manajemen yang kuat, manusia menguasai seluruh ciptaan yang lain. Manusia diberi potensi manajemen, potensi perubahan, potensi urutan, potensi otoritas, potensi pemerintahan dan potensi penguasaan. Ini semua dicantumkan di dalam Kitab Suci.
Itu sebabnya, setiap manusia yang berusaha menaklukkan diri ke bawah kedaulatan Allah dan menelusuri bahwa sumber keberadaan dirinya adalah Allah, akan mengerti tujuan hidupnya. Dari sana ia akan menemukan maksud dan nilai hidupnya. Ia akan semakin jelas akan arti dan fungsi keberadaannya. Ia akan menemukan semua jawaban yang dicari manusia, seperti: Mengapa aku ada? Mengapa aku hadir di sini? Apa maksud dan tujuan hidupku? Apa arti keberadaanku? Apa yang harus aku lakukan dalam hidupku? Semua pertanyaan ini tidak akan mendapat jawaban yang sejati tanpa kita kembali kepada Sang Pencipta.

Uniknya Manusia
Setiap orang dicipta secara individu, unik, dan berbeda. Tidak ada dua orang yang sama. Oleh karena itu, kita harus menemukan keunikan kita. Ketika kita telah menemukannya, kita akan menjadi manusia yang sungguh-sungguh berguna di dalam dunia.
Ketika saya berkhotbah di satu kota, saya mengajak anak saya yang baru berusia dua tahun lebih. Supaya tidak mengganggu ketika saya berkhotbah, saya memberi tugas kepadanya untuk mencari dua helai daun yang sama dari daun-daun yang jatuh di halaman gereja. Setelah selesai berkhotbah, saya bertanya kepadanya, dan dia bisa menunjukkan dua daun yang betul-betul sama. Saya sangat terkejut. Namun, ketika saya minta untuk melihatnya, ia tidak mau memberikan. Akhirnya ketahuan bahwa tangkainya satu ke kanan, satu ke kiri. Tangkai itu ia pegang sehingga tersembunyi di tangannya. Tidak ada dua orang yang sama di dunia ini, karena Allah mencipta setiap orang secara unik. Dan itu adalah keindahan yang Tuhan ciptakan. Betapa hambarnya dunia ini jika semua manusia sama di dalam segala hal.
Ketika kita menyadari dan menemukan keunikan kita, kita bisa memperkembangkan setiap potensi yang ada di dalam diri kita sebaik mungkin. Kita perlu terus merenungkan dan memikirkan keunikan peta teladan Allah yang Tuhan tanam di dalam hidup kita.

Ciptaan sebagai Refleksi Pencipta
Orang menggubah banyak lagu, tetapi lagu yang unik adalah lagu yang begitu diperdengarkan, kita langsung bisa mengenali siapa penggubahnya. Waktu Tuhan mencipta sesuatu, tanda-tanda Tuhan ada di dalamnya. Itu bagaikan tanda tangan-Nya. Anjing yang lincah merefleksikan kelincahan Allah. Demikian juga kerajinan semut, ketekunannya, merefleksikan sifat kerajinan dan ketekunan Allah.
Ikan salmon adalah ikan yang unik. Ia melahirkan anaknya di danau yang berair tawar. Setelah melahirkan, ia mati. Lalu anak-anak salmon akan berenang menuruni sungai menuju laut lepas yang berair asin. Ia bisa merantau sampai lebih dari 10.000 km dari tempat asalnya. Ketika besar lalu hamil, ia bisa mencari kembali danau tempat asalnya. Ia kembali melalui sungai, menaiki air terjun, terkadang sampai terluka, dan terus berjuang sampai kembali ke tempat asalnya. Di situ ia bertelur melahirkan anaknya, lalu mati. Demikian siklus ajaib ini terjadi. Semuanya ini merefleksikan kedahsyatan Sang Pencipta. Ini refleksi bijaksana Tuhan. Allah menanamkan sedikit bijaksana pada binatang tertentu. Dan kodrat-Nya, rencana-Nya, sifat teladan-Nya dikumpulkan diletakkan secara utuh ke dalam satu makhluk yang namanya manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang secara totalitas memperoleh seluruh bijaksana dari Tuhan yang merefleksikan semua rencana Tuhan dan mendapatkan potensi yang melebihi semua. Kondisi ini tidak bisa dijawab oleh hipotesa Evolusi.
Evolusi berpandangan makhluk harus terus berkembang. Jadi kalau manusia itu hasil tertinggi dari evolusi, maka seharusnya manusia bisa berenang, bisa menyelam, punya insang dan juga bisa terbang, punya sayap. Tetapi Tuhan tidak demikian. Manusia terlihat tetap terbatas, namun di dalam keterbatasan itu ada kualitas dan kuasa, karena dicipta menurut peta teladan Allah. Manusia terbatas tetapi berkapasitas cipta. Ia tidak bersayap, tetapi bisa mencipta pesawat terbang, tidak mengeluarkan musik, tetapi bisa merangkai nada dan membentuk harmoni.

3.                 Posisi Manusia Diantara Semua Ciptaan Tuhan

Mazmur 8:4-10
DIMANA POSISI MANUSIA?
Alkitab menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia sedikit lebih rendah dari malaikat, hampir sama seperti Allah, tetapi menguasai alam semesta. Ini memberikan kerangka dan urutan yang jelas kepada manusia, yaitu: MANUSIA ADA DI BAWAH ALLAH, DI ATAS ALAM. Peribahasa Tionghoa mengatakan bahwa kita perlu berdiri tegak di bumi dan tangan menopang langit, yang artinya, kita mampu berdiri dengan tegak dengan identitas yang jelas dan penuh keyakinan.
Di dalam metodologi untuk mengerti alam semesta, dari jaman ke jaman, sejak jaman Euclid, Herodotus, Plato, sampai kepada Sir Isaac Newton, manusia selalu terjebak di dalam KONSEP SISTEM TERTUTUP, yaitu suatu pandangan yang menganggap bahwa alam semesta sendiri sanggup untuk memberikan penjelasan akan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya, tanpa memerlukan bantuan dari luar. Sebaliknya, di sepanjang sejarah, kekristenan selalu menawarkan KONSEP SISTEM TERBUKA, yaitu alam semesta
baru bisa dimengerti secara tuntas ketika manusia kembali kepada "dunia sana", dunia Sang Pencipta. Sistem tertutup telah menjadi cikal-bakal SCIENTICISM dan POSITIVISM, dan berakhir di gang buntu. Sebaliknya, Pengakuan Iman Rasuli dimulai dengan kalimat: Aku percaya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi. Kalimat ini menekankan sistem terbuka.
Manusia tidak mungkin mengerti segala sesuatu kecuali ada satu jalur terbuka yang membawa manusia kepada dunia yang tidak kelihatan. Dan justru dari sanal segala kontrol terjadi. Iman Kristen bukan takhayul atau iman yang superstisi, tetapi justru memberikan logika yang paling kuat, bahkan melebihi keterbatasan logika itu sendiri.

BERADALAH DI POSISI YANG SEHARUSNYA
Arloji dirancang untuk dipergunakan di tangan kiri. Tetapi jika ia menolak dan ditempatkan di tempat lain, maka ia tidak akan bisa berfungsi baik. Jika ia ditempatkan di tangan kanan, maka ia akan mengganggu si pemakai ketika bekerja, dan akan mengalami kesulitan untuk memutar tombolnya. Kalau ia dipasang di kaki atau di leher, ia semakin tidak berfungsi. Maka tempat terbaik bagi arloji adalah sesuai dengan rancangannya. Demikian juga manusia, baru akan berfungsi secara maksimal ketika ia berada di posisi yang ditetapkan seturut rancangan yang pasti ketika ia diciptakan.
Manusia diciptakan untuk berada di bawah Allah di atas alam. Jika manusia tidak mau dan ingin membalik situasi, maka yang terjadi ialah dia akan membalikkan diri sendiri. Ia tidak mungkin dapat membalik Allah dan alam, tetapi yang ia lakukan adalah membalikkan posisinya sendiri. Pada saat manusia sudah membalikkan diri, ia merasa telah membalik dan
mengatur segala sesuatu. Ketika segala sesuatunya kemudian menjadi tidak beres, ia marah kepada Allah, padahal itu diakibatkan oleh perbuatannya sendiri. Ini sikap yang sangat kurang ajar terhadap Allah, dan untuk itu manusia harus dihakimi. Manusia harus kembali ke posisinya yang semula, baru ia bisa berfungsi dengan benar, yaitu di bawah Allah, di atas alam. Manusia memakai alam untuk memuliakan Allah, bukan sebaliknya. Manusia di bawah Allah di atas alam, berarti manusia harus mempergunakan alam dan menjadi reflektor kemuliaan Allah. Kita menguasai alam dan kita sendiri dikuasai Allah, bukan kita yang menguasai Allah.
Jika kita lihat, ada satu gejala lagi, yaitu adanya orang-orang yang kelihatannya begitu giat, seperti seorang Kristen yang berapi-api, tetapi posisinya salah. Orang sedemikian sepertinya begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya sedang meminta Tuhan menuruti keinginannya. Dengan mendasarkan kepada kemahakuasaan dan kasih Tuhan, mereka mau memperalat Tuhan untuk memenuhi keinginannya sendiri. Ini menjadikan Allah pembantu
demi mencapai segala keinginannya sehingga kita dapat melihat gejala di luar kehidupan keagamaan orang itu begitu giat dan berkobar-kobar, tetapi motivasinya berlawanan dengan kehendak Tuhan. Ini merupakan kegiatan agama yang melawan agama sejati. Jika tujuan kita adalah alam dengan cara memperalat Allah, maka kita tidak mungkin mengerti kehendak Tuhan.

TUGAS MANUSIA DI DALAM POSISINYA
Jika posisi ini sudah jelas, maka kita diberikan tugas yang dilaksanakan dengan lengkap di dalam diri Tuhan Yesus, yaitu sebagai:
1. NABI
Manusia disebut nabi, berarti manusia berada di antara Allah yang maha tahu dengan alam yang tidak berinisiatif tahu, tetapi mengandung segala sesuatu yang bisa dan perlu diketahui. Sifat nabi manusia memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka penyelidikan ilmu pengetahuan tidak seharusnya menjadikan manusia melawan Tuhan. Orang yang mengetahui semakin banyak, seharusnya semakin mempermuliakan Tuhan; karena ia telah melihat bagaimana Allah telah merancang segala sesuatunya sedemikian ajaib. Fungsi kenabian manusia ini menjadikan manusia berbeda tuntas dari binatang. Belum pernah ada binatang yang menangkap manusia dan meletakkan di kebun manusia. Tetapi manusia telah menangkap binatang dan membuat kebun binatang. Manusia bukan sekedar makhluk biasa, tetapi nabi. Namun banyak manusia yang tidak memakai hal ini secara maksimal.

2. IMAM
Sebagai imam, manusia mempunyai kedudukan di antara Allah dan alam. Manusia memakai alam untuk dipersembahkan kepada Allah. Konsep demikian telah ada sejak awal sejarah manusia. Maka kita akan membawa alam demi kemuliaan Allah.


3. RAJA
Kedudukan sebagai raja menunjukkan fungsi penguasaan dan pengaturan. Management yang pertama kali adalah merupakan mandat dari Allah, yaitu agar manusia mengelola bumi ini. Allah tidak mau kita kacau dan tidak teratur. Namun pencemaran dosa membuat fungsi pengaturan ini menjadi kacau. Oleh karena itu, kita harus membawa itu semua kembali kepada kontrol Allah, karena kita ada di bawah Allah, dan alam di bawah kita.
Ini yang memungkinkan semuanya berjalan harmonis.

III.             PENUTUP
Karena kita adalah mahluk yang jasmani dan rohani. Marilah kita menjaga kesehatan jasmani dan rohani kita. Marilah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Marilah kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan.
Untuk memupuk kerohanian kita, kita memerlukan saluran anugerah yaitu doa, Firman, sakramen dan Persekutuan orang Kudus. Marilah kita sering berdoa dan membaca Firman
Dan marilah kita bersekutu di dalam gereja.
Kiranya kita berhenti berbuat dosa, mulai belajar menghargai diri kita, menemukan diri, belajar menggali potensi diri, dan akhirnya menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan. Inilah peta teladan yang akhirnya menjadi teladan bagi peta teladan yang lain. Soli Deo Gloria.

Saturday, 25 June 2011

AKHIR DARI SUATU PERJALANAN

AKHIR DARI SUATU PERJALANAN
by: Fernando Tambunan

Memikirkan tentang akhir dari suatu perjalanan hidup (kematian) adalah suatu hal yang seringkali dianggap menakutkan. Di satu sisi kita sependapat bahwa mereka yang memikirkan akhir hidupnya (baca: kematian) adalah mereka menyadari eksistensi diri, namun di sisi yang lain, Mungkin saja dalam ketakutannya tersebut manusia lalu terdorong untuk mengerjakan pekerjaan yang berarti, namun sekali lagi, ketakutan, bagaimanapun juga, tidak dapat dianggap sebagai kebajikan .

Lalu, apakah mereka yang tidak mempedulikan hari kematiannya, bersikap lebih bijaksana daripada mereka yang ketakutan dan terus-menerus memikir-kannya? Sama sekali tidak. Bahkan lebih parah daripada yang pertama. Kitab Suci mengatakan bahwa mereka yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian, secara konsekuensi logis, boleh mengambil gaya hidup hedonisme dengan semboyannya yang terkenal “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (I Kor 15:32). Kehidupan yang tidak pernah memikirkan keterbatasan kehidupan itu sendiri, akan cenderung membawa manusia untuk hidup mencari kepuasan pribadi. Kepuasan pribadi ini tidak harus selalu dinyatakan dalam gaya hidup pesta pora dan mabuk-mabukan, pergi ke pelacuran dan sebagainya. Pengejaran kepuasan serta kenikmatan pribadi ini mungkin saja mengambil bentuknya dalam kehidupan moral yang tinggi, suka menolong orang lain, menjadi seorang humanist, namun pada akar hatinya adalah mengejar kepuasan diri sendiri.

Daud berdoa kepada Tuhan agar ia diajar bahwa hidupnya memiliki sebuah akhir (Mazmur 39:5). Mengapa perlu diajar? Bukankah pengalaman dari sejarah, data empiris sudah dengan begitu gamblang menyatakan bahwa hidup manusia memang memiliki sebuah akhir? Adakah manusia yang begitu keras kepala menolak kenyataan bahwa hidup kita memang suatu saat akan berakhir? Tampaknya tidak banyak orang yang memiliki kenekadan seperti itu. Namun, sesungguhnya yang dimaksud oleh Daud adalah bahwa sekalipun manusia mengetahui bahwa hidupnya memiliki sebuah akhir, namun manusia menghidupinya seolah-olah tidak ada akhirnya. Tidak ada kepekaan akan waktu yang semakin singkat dalam hidup manusia. Dalam keadaan seperti inilah Daud memohon kepada Tuhan agar ia terus diajar bahwa hidupnya suatu saat akan berakhir. Waktu tidak selama-lamanya diberikan kepada manusia. Suatu saat ia harus mengakui, entah dengan rela atau tidak rela, bahwa ia adalah ciptaan yang terbatas, dan bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaannya sendiri, ia harus mempertanggung-jawabkan segala sesuatu yang telah dilakukannya selama hidupnya di hadapan Penciptanya. Tanpa pengertian ini (bukan sekedar pengetahuan!) manusia tidak mungkin memiliki tujuan hidup yang benar. Ia boleh memiliki tujuan hidup yang dianggapnya begitu pasti, dan mengejarnya dengan segala kekuatan self-determinasi, namun di hadapan Tuhan sesungguhnya semuanya hampa. Manusia melakukan hal-hal yang menimbulkan sesuatu yang tidak perlu, ia mengumpulkan dengan tidak mengetahui siapa yang kelak akan menikmatinya. Inilah paradoks hidup manusia yang hanya mengejar keuntungannya sendiri. Sesungguhnya, ia berjalan dalam kehidupan yang sangat tidak pasti!

Dalam kegalauan jiwanya, pemazmur belajar untuk tetap berharap kepada Tuhan (Mazmur 39: 8). Suatu pengharapan yang diteriakkan dari sebuah pengenalan diri serta kebutuhannya yang terdalam, yaitu agar Tuhan membebaskan dia dari segala dosa-dosanya. Kebanyakan manusia hidupnya tertekan karena sakit-penyakit, ekonomi tidak mapan, kurang berhasil dalam menjalin hubungan dengan sesama, study tidak lancar, masa depan tidak jelas dan lain sebagainya, namun berapa orang yang tertekan seperti Daud, menyadari bahwa problema terbesar dalam hidup manusia bukanlah hal-hal di atas, melainkan kehidupan yang berdosa. Berapa serius dosa di hadapan kita? Ini pertanyaan yang harus kita jawab!

Inilah cicipan kematian yang sesungguhnya: hidup dalam dosa. Para eksistensialist seringkali dikuasai oleh ketakutan untuk tidak lagi bereksistensi. Namun kita dapat memper-tanyakan “Apa itu eksistensi dan bagaimana bereksistensi?” Sesungguhnya ketika seseorang berbuat dosa, ia menghancurkan eksistensinya dalam pengertian yang paling dalam, karena eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang tidak mungkin tidak harus dikaitkan dengan hubungannya di hadapan Allah (entah hubungan dikasihi-mengasihi, atau menolak-dimurkai). Dengan berbuat dosa manusia merusak hubungannya dengan Allah. Semakin ia tidak suka berhubungan denganNya, semakin ia akan menghancurkan dirinya sendiri. Mari kita lihat dua pertanyaan pertama dalam Katekismus Heidelberg (1563) berbunyi demikian “Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?” Dijawab, “Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati (Rom 14:7-8.), bukan milikku (1Kor 6:19), melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia (1Kor 3:23). Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh utang dosaku (1Pet 1:18- 19) dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis (1Yoh 3:8b). Dia juga memelihara aku (Yoh 6:39), sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di sorga (Mat 10:30), bahkan segala sesuatu harus berguna untuk keselamatanku (Rom 8:28). Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang Kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal (2Ko 1:22), dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi kepada-Nya (Rom 8:14).” Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan kedua berbunyi,: ”Berapa pokok yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup dan mati dengan bahagia?” Dijawab,: “Tiga pokok (Maz 130:3-4). Pertama. betapa besarnya dosa dan sengsaraku (Rom 7:24-25). Kedua, bagaimana aku mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku (Mat 11:28). Ketiga, bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian itu (Kol 1:12.)”. Menjadi milik Allah (dan bukan milik sendiri) adalah penghiburan yang terbesar. Alangkah celakanya jika manusia justru berpikir sebaliknya! Perhatikan saja, di manakah ada manusia yang dengan segala keperkasaan yang ada padanya sanggup menguasai maut sehingga ia tidak harus mengalaminya? Jika tidak ada, mengapa banyak orang enggan untuk menyerahkan sepenuhnya hidupnya (dan bukan hanya kematian yang tidak sanggup dikuasainya). Ketidak-berdayaan manusia dalam menghadapi kematian sebenarnya hanya menyatakan hal yang sama terhadap kehidupan.

Biasanya orang-orang percaya didalam perjalanan hidupnya setiap waktu selalu merenungkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ia sendiri mati, sama seperti semua manusia yang lain, namun berbeda dari mereka semua, karena Ia sanggup mengalahkan kuasa kematian. Dan Ia berjanji untuk memberikan kehidupan yang kekal bagi mereka yang percaya dalam namaNya. Orang percaya akan tetap mengalami kematian (kecuali Tuhan telah datang kembali sebelum hari kematiannya). Namun ia tidak akan selama-lamanya binasa, bersama dengan Tuhan ia akan dibangkitkan untuk menerima kehidupan kekal di sorga. Dan bukan hanya itu, mereka yang percaya dalam namaNya juga diberi kuasa untuk hidup mati terhadap dosa, terhadap dunia, bahkan terhadap diri sendiri. Kematian ini adalah kematian yang menghidupkan. Sebaliknya, penolakan terhadap kematian ini akan membawa kepada kebinasaan kekal, kematian yang sesung-guhnya. Yesus Kristus mengatakan “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:24). Menyelamatkan hidup justru akan kehilangan hidup, sebaliknya mengorbankannya adalah menyelamatkannya.

Kematian Kristus memberikan kemungkinan kepada manusia untuk tidak hidup bagi dirinya sendiri. Sekalipun Ia tidak berdosa dan tidak harus mengalami maut, namun Ia rela mati karena dosa-dosa umat manusia. KematianNya merupakan penyataan puncak ketaatanNya yang sempurna kepada Allah, tidak ada suatu pun yang Dia pertahankan bagi diriNya sendiri. Ia telah menyerahkan segala sesuatu yang dapat diberikan, bahkan nyawaNya sendiri. Kematian inilah yang mendahului kebangkitan dan hidup.
Begitu banyak orang percaya yang kehidupannya tidak berada dalam kepenuhan kuasa kebangkitan, karena menolak kuasa kematian yang harus bekerja terlebih dahulu. Tanpa kematian terhadap diri kita sendiri, tidak ada gunanya untuk mengharapkan pekerjaan kuasaNya yang dahsyat. Pergumulan kita lebih merupakan pergumulan untuk suatu kehidupan yang menyangkal diri, daripada kehidupan yang mendapatkan kuasa Tuhan. Persekutuan dalam penderitaan Kristus, demikianlah yang terus dikejar oleh Paulus, dan dia tidak berpendapat telah mem-perolehnya, maksudnya perjalanan yang harus ditempuh masih merupakan suatu proses yang panjang, dia tidak berhenti bergumul untuk mengejar panggilan Tuhan. Saya percaya setiap orang yang membaca tulisan ini, atasnya Tuhan memiliki suatu rencana. Rencana itu tersembunyi, kita bahkan tidak berhak untuk mengetahuinya, namun ada satu hal yang kita boleh, bahkan harus mengetahuinya, yaitu bahwa Tuhan menghendaki kita untuk mati dan disalibkan bersama-sama dengan Dia, dengan demikian kita akan hidup bersama-sama dengan Dia kelak selama-lamanya Di sinilah letak kepenuhan hidup yang sesungguhnya. Karena itu sebelum perjalanan hidupmu berakhir, bagi Saudara yang belum percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatmu secara pribadi jangan tunggu lagi inilah waktunya akui segala dosamu dan percayakan hidupmu kepada Kristus, bagi Saudara yang sudah mengaku percaya mari tetap hidup taat, setia dan memberikan seluruh hidup kita bagi-Nya. Amin, Soli Deo Gloria..!!