Welcome

Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Dapat Binasa....!!!
Showing posts with label Keselamatan. Show all posts
Showing posts with label Keselamatan. Show all posts

Tuesday, 5 July 2011

Keselamatan


SALVATION



Nats: 2 Korintus 5:15
"Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetap untuk Dia, yang telah mati dan telah bangkit untuk mereka"

I.    Pendahuluan
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus secara khusus (2 Kor 5 : 14 _ 21) telah menjelaskan arti kematian Yesus di kayu salib, oleh karena Kasih Kristus yang telah menguasai/mendesak . ("Sunecho"= menekan, mendorong) dan rasul Paulus telah memberikan alasan-alasan Kasih Kristus yang telah menguasai/mendesaknya.
  1. Jika Kristus tidak mati bagi kita maka kita mati dalam hukuman, dalam dosa, dalam pelanggaran, dalam kerohanian kita dan disambung dengan kematian kekal. Ini adalah keadaan yang sangat menyedihkan dan akan selalu dalam keadaan yang sangat mengerikan.
     
  2. Apa yang akan kita perbuat bagi Kristus yang telah mati bagi kita? Kita harus hidup bagi Dia!
Kematian Kristus telah melepaskan kita, orang-orang beriman, dari kematian kekal dan kebangkitanNya mendatangkan kehidupan kekal bagi kita. Kematian Kristus mempunyai pengertian ganda, yaitu:
  1. Ia telah mati untuk kita (Rm 5 : 6-8 ; 2 Kor 5: 21)
Pada waktu Kristus mati untuk menggantikan kita, maka keadilan Allah dinyatakan dan kita dibenarkan.
  1. Kita telah mati bersama Kristus (Rm 6 : 8 )
Pada waktu kita mati bersama Kristus, maka itulah yang menjadi dasar kekudusan. Kita harus memandang diri kita telah mati bagi dosa, tetap hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. (Rm 6 : 11 ; Gal 2 : 20)
Kekristenan tidak akan ada artinya tanpa berita Kristus datang berinkarnasi dan menebus dosa manusia namun saat hal tersebut diberitakan ternyata tidak mudah untuk diterima.
Pada saat kita bersama-sama menghadap meja perjamuan, kita sadar bahwa kita boleh bersekutu hari ini karena Allah pernah menjadi manusia dan bahkan tujuan hidupnya jelas untuk menyelamatkan umatNya dari dosa mereka. Kristus hadir di dunia ini dengan sasaran yang jelas yaitu menuju ke Golgota. Bagi saya tidak ada satu kehidupan yang sedemikian bermakna namun juga mengerikan seperti hidup Kristus. Seringkali manusia hidup tidak tahu arah dan tujuannya akan kemana tetapi sebelum Kristus lahir Ia telah mempunyai sasaran yang tegas yaitu Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan tubuhNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28).


II.   Pembahasan

Dan dari pengertian ganda Kematian Kristus tersebut, rasul Paulus telah memberikan 3 akibat yaitu:






1. PEMBARUAN HIDUP

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Kor 5 : 17)

Soal yang paling penting ialah "di dalam Kristus". Bagaimana caranya seseorang ada di dalam Kristus? Setiap orang yang lahir di dalam dunia ini, ada di "luar Kristus", karena semua orang telah berdosa. Bagaimana caranya seseorang berpindah dari keadaan "di luar Kristus" kepada keadaan " ada di dalam Kristus?". Ia harus mempunyai perubahan dalam pikirannya mengenai Kristus. Janganlah kita menilai Kristus menurut ukuran manusia, sama seperti dunia menilai Dia.
Ada di dalam Kristus, berarti dipersatukan dengan Kristus. Pada sat kita bertobat dan beriman kepada Kristus, lalu mengundang Dia masuk dalam hati kita sebagai Juruselamat kita, pada saat itu kita berada di dalam Kristus. Itulah yang dimaksud dengan dilahirkan kembali oleh pekerjaan Roh Kudus dan dengan demikian kita mengalami perubahan hidup yang besar sehingga kita merupakan ciptaan baru. Itulah permulaan yang baru.

"Yang lama sudah berlalu"
Yaitu kecintaan akan dosa, pikiran lama, prinsip lama dan kebiasaan-kebiasaan lama.

"Yang baru sudah datang"
Yaitu yang baru dalam hati, pikiran perangai, maksud dan tujuan. (Yoh 3 : 3-7 ; Gal 6:15 ; Kol 1 : 23 ). Baru dalam pandangan terhadap Allah dan Kristus Yesus. Baru dalam pandangan terhadap dunia sekarang dan yang akan datang.

2. PENDAMAIAN

"Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya....... Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka..." (2 Kor 5 : 18a ; 19a)

Manusia telah berdosa terhadap Allah. Bukan karena dosa-dosanya yang kecil atau besar, tetapi dosa-dosanya merupakan kedurhakaan terhadap Allah. Kedurhakaan itu menyebabkan kita berseteru dengan Allah. (Bukan Allah yang berseteru dengan kita) Agar kedua belah pihak dapat berdamai, dasar perseteruan, yaitu dosa, harus dicabut dan dibuang.

Karena Allah adalah adil dan benar. Dia harus membenci dan menghukum dosa. Sebab itu Allah bertindak lebih dulu. Allah senantiasa mengasihi kita dan penuh rakhmat. Tetapi, keadilanNya harus ditunjukkanNya. (Rm 3 : 26). KeadilanNya menuntut hukuman atas dosa. Oleh karena itu, Allah dengan kasihNya telah mengaruniakan AnakNya menjadi korban pendamaian bagi dosa-dosa kita. (Rm 3 : 25 ; Kol 1 : 20 ; I Yoh 2 : 2, 4, 10). Allah telah membuka jalan agar kita dapat diperdamaikan dengan Dia. Allah telah menghukum AnakNya di kayu salib karena dosa-dosa kita. PengorbanNya telah memmbuka jalan agar kita diperdamaikan dengan Allah sebab perseteruan karena dosa kita telah dicabut.

Allah telah membuka jalan agar kita diperdamaikan dengan diriNya oleh kematian Kristus Yesus di kayu salib untuk menggantikan kita. Tetapi pendamaian berkuasa dan berlaku bagi kita menurut sikap kita.

Penting sekali kita mengerti bahwa Allah tak perlu memperdamaikan diriNya dengan kita, melainkan kita harus memperdamaikan diri kita dengan Allah. Kematian Kristus di kayu salib adalah atas nama kita atau rekening kita. Harga pendamaian kita tidak lain adalah darah Kristus. Tetapi, ependamaian itu menuntut tindakan dari kita, yaitu percaya bahwa Kristus adalah pendamaian itu. Menyambut Dia ke dalam hati kita sebagai Juruselamat.

3. PELAYANAN PEMBERITAAN INJIL

"Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami" (2 Kor 5 : 19b)

Sebagaimana Allah mai berdamai dengan kita, demikianlah kita harus mempunyai kemauan untuk berdamai dengan Allah. Rencana pendamaian itu yang dibuat Allah tidak memperhitungkan pelanggaran yang dibuat manusia. (Rm 5 : 18 _ 6 : 2 ). Dan sekarang Ia telah mempercayakan kita pelayanan pendamaian itu. Dengan kata lain, memberitakan InjilNya. Oleh karena kita sudah terlebih dahulu mengalami pelayanan pendamaian itu yang kemudian memberitakannya kepada semua orang yang belum mengenal Kasih Karunia Allah.

Kehidupan orang-orang percaya yang sudah diperdamaikan dengan Allah hidupnya harus dipersembahkan kepada Kristus, yang telah mati bagi kita. Sama seperti Kristus tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kita.

"Tidak hidup untuk dirinya sendiri", artinya tidak mencari kesenangan, kepentingan, kemudian bagi dirinya sendiri.

"Tetapi, untuk Dia" artinya mencari kemuliaan bagi namaNya. Seluruh waktu, talenta, kekuatan, kepandaian dan hidup, semuanya untuk Dia. Kemudian Kristus melepaskan kita dari kematian kekal dan kebangkitanNya mendatangkan hidup kekal yang merupakan inti dari Pemberitaan Injil yang perlu disampaikan kepada semua orang.

Kristus yang mati di kayu salib, yang tak mengenal dosa di dalam diriNya dijadikan dosa untuk kita yang tidak mempunyai kebenaran di dalam diri kita, dijadikan benar oleh Allah di dalam Dia. Sehingga setiap orang yang percaya, memperoleh jaminan hidup yang kekal.

Dengan demikian kita yang percaya kepadaNya dibenarkan di hadapan Allah Bapa, karena Yesus Kristus dengan kehendakNya sendiri dijadikan dosa sebagai ganti kita. Itulah isi inti Pemberitaan Injil yang harus disampaikan ke seluruh dunia.


III.  Penutup

Friday, 24 June 2011

KEPASTIAN TENTANG KESELAMATAN


KEPASTIAN TENTANG KESELAMATAN

 

Pendahuluan

Orang-orang Kristen yg baru percaya maupun yg telah lama percaya memerlukan kepastian mengenai hidup baru yg mereka telah terima di dalam Kristus. Akibat munculnya berbagai angin pengajaran, orang-orang Kristen sering dilanda keraguan dan kekuatiran mengenai keputusan yg mereka telah ambil untuk percaya kepada Kristus. Mereka sering mempertanyakan apa sebenarnya makna keputusan untuk percaya kepada Kristus di dalam kehidupan mereka. Apakah pengaruh dan akibat-akibatnya? Dapatkah keselamatan itu hilang atau menjadi batal? Apabila saya berbuat sesuatu dosa, apakah itu berarti bahwa saya belum selamat?

 

Kepastian Versus Jaminan

Jaminan

Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus, terlepas dari apakah kita memahaminya atau tidak, jaminan kekal bagi mereka yg berada di dalam Kristus sudah merupakan suatu realita rohani yang pasti. Kepercayaan seseorang terhadap jaminan di dalam Kristus ini tak akan dapat mengubah atau membatalkannya. Apabila kita telah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dan telah mengakui serta menerima karyaNya untuk keselamatan kita, apapun dan bagaimanapun perasaan dan pikiran kita, jaminan itu sudah merupakan realita yang pasti.

Kepastian

Kepastian adalah realisasi dari jaminan tersebut. Ini merupakan wujud dari apa yang kita telah terima dan miliki di dalam Kristus, seperti kehidupan kekal, pengampunan dosa, pemeliharaan Allah bagi kita sebagai anak-anakNya. Kepastian ini terkait erat dengan pemahaman kita terhadap fakta-fakta dan pemberian keselamatan yg diterima melalui iman kepada Kristus. Ini merupakan doktrin yang amat sangat penting karena apabila dipahami secara benar akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan orang percaya. Ini tidak hanya memberikan kepastian mengenai keselamatan melainkan juga memberikan kepastian mengenai pemeliharaan Allah bagi kehidupan orang percaya.
Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Apabila seseorang belum memiliki kepastian keselamatan, itu berarti kita harus mulai dengan terlebih dahulu menyampaikan Injil untuk memastikan bahwa mereka telah benar-benar percaya kepada Kristus. Sesudah itu barulah kita beralih kepada aspek-aspek kehidupan lainnya yang membutuhkan kepastian.

 

Alasan Mengapa Orang Tidak Memiliki Kepastian

1.   Sering seseorang tidak memiliki kepastian karena ia tidak dapat mengingat atau menunjukkan kapan ia menerima Kristus. Akibatnya ia meragukan keselamatannya. Keselamatan memang memiliki waktu hal itu terjadi – saat peristiwa kelahiran baru terjadi. Untuk membantu orang yang dilanda keraguan ini, kita perlu menunjukkan kepadanya apakah ia sekarang benar-benar telah percaya kepada Kristus dan mengakui karyaNya yang telah dikerjakanNya baginya.

2.   Sering seseorang tidak memiliki kepastian karena meragukan prosedur yang ia jalani ketika menerima Kristus. Bila ia telah menerima Kristus secara pribadi, ia ingin tahu apakah prosedurnya telah benar yakni dengan mengadakan pengakuan atau kesaksian di hadapan orang lain tentang imannya atau dengan mengucapkan sesuatu doa.

3.  Sering seseorang tak memiliki kepastian karena ia masih diperhadapkan dengan dosa-dosa tertentu yang terus menghantui kehidupannya. Ia ingin tahu apakah seorang yang telah benar-benar percaya masih harus menghadapi permasalahan ini. Problema sebenarnya yang dihadapinya adalah kurangnya pemahaman tentang sifat dosa, peperangan rohani, jalan kelepasan yang telah disediakan Allah, dan pentingnya bertumbuh menjadi dewasa di dalam Kristus.

4.  Alasan utama dibalik ketidakpastian ini adalah kekeliruan pengertian doktrin dan ketidakpercayaan terhadap karya Kristus bagi kita. Hal ini juga terkait dengan kekurangpahamannya akan Firman dan ajaran Kitab Suci tentang manusia, dosa, ketidakmampuan manusia untuk memperoleh dan memelihara keselamatan, kekudusan Allah yang sempurna, dan kecukupan karya Kristus yang telah selesai dikerjakanNya di atas salib.

5.  Seseorang sering tak memiliki kepastian karena ia telah menerima pengajaran yang keliru bahwa seseorang melihat dan menyelidiki dirinya sendiri dan perbuatan-perbuatannya sebagai bukti utama mengenai keselamatan. Inilah permasalahan yang hangat dibicarakan pada masa kini. Robert Lightner menulis:

        Mereka yang berpendapat bahwa seorang berdosa harus menjadikan Kristus sebagai Tuhan atas kehidupannya, atau paling tidak, berjanji mau melakukan hal ini untuk dapat diselamatkan, menjadikan kepastian keselamatan itu bergantung kepada penyerahan hidup. MacArthur menyatakan hal ini sebagai satu-satunya jalan bagi seorang percaya untuk mendapatkan kepastian keselamatan. ‘Kepastian yang sejati dengan sendirinya muncul dengan melihat kuasa Roh Kudus yang bekerja dalam kehidupan seseorang, bukannya karena mendasarkannya kepada sesuatu pengalaman khusus.’

Firman Allah adalah kesaksian Allah kepada orang percaya (1 Yohanes 5:11-13). Dalam teks Yunani menambahkan article di depan kata “kehidupan.” Ini menunjukkan bahwa keselamatan dalam Kristus bukan sekedar pemberian kehidupan belaka melainkan merupakan “kehidupan” itu sendiri yang dikaruniakan kepada seseorang yang beriman kepada Kristus. Pernyataan yang jelas dalam Kitab Suci adalah bahwa seseorang yang percaya kepada Kristus dan mengakui karyaNya di salib sebagai jalan kelepasan dosa menerima :
1. Kehidupan kekal. (Yohanes 3:36 ; 1 Yohanes 5:11-13)
2. Pengampunan dosa. (Kisah 10:43 ; Kolose 2:13)
3. Kelepasan dari hukuman. (Yohanes 5:24; Roma 8:1)
4. Pembenaran Allah. (Roma 5:1 ;Roma 4:25)
5. Keselamatan. (Efesus 2:8-9 )
6. Kedudukan sebagai Anak Allah melalui Iman. (Yohanes 1:12;
    Roma 8:14-17 )

John Calvin memperingatkan akan bahayanya memandang kepada diri kita sendiri, yaitu kepada perbuatan-perbuatan kita bahkan kepada buah Roh untuk mendapatkan kepastian keselamatan kita. Memandang kepada diri sendiri hanya akan membawa keraguan dan akan mengalihkan fokus perhatian kita dari karya penyelamatan yang telah dikerjakan Kristus bagi kita. Karena itu Calvin tak setuju dengan ajakan untuk menyelidiki diri sendiri dan menganggapnya sebagai dogma yang berbahaya.

Berbeda dengan kutipan komentar MacArthur di atas, kepastian keselamatan ini tidak diperoleh dengan berpegang kepada sesuatu pengalaman tertentu, melainkan dengan mendasarkannya kepada kesaksian Firman Allah itu sendiri. Earl Radmacher menulis:
Banyak pendeta sering mengemukakan bahwa dasar untuk mengetahui bahwa saya adalah seorang Kristen bukanlah pada apa yang saya kerjakan atau perbuat melainkan pada apa yang dikatakan oleh Firman Allah mengenai apa yang Kristus telah kerjakan dan terus kerjakan bagi orang percaya (Yohanes 1:12; 1 Yohanes 5:13). Saya tahu pasti bahwa saya telah menjadi milik Kristus karena saya telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat pribadi saya dan Penebus saya dari kebinasaan kekal. Bukanlah bukti-bukti dalam kehidupan saya yang menjadi dasar saya mengetahui hal ini, melainkan Firman Allah. Allah telah mengatakannya dan itu cukup bagi saya. Saya sungguh kuatir terhadap banyak orang masa kini, yang karena melihat minimnya pertumbuhan dan ketiadaan sifat-sifat Kristen dalam kehidupan sehingga berusaha mengubah Injil dengan menambahkan sesuatu kepada Injil itu.

 

Karya Kristus

Memahami karya Kristus secara benar (kematianNya yang menggantikan kita dan menanggung dosa-dosa kita di salib) sangatlah penting dalam memperoleh kepastian. Tentu saja hal ini harus didasarkan pada pernyataan atau kesaksian Kitab Suci, namun tekanan harus diberikan kepada pemahaman tentang kecukupan karya Kristus yang telah selesai dan apa yang dicapai melalui kematian Kristus itu. Ada dua aspek penting yang terlihat jelas di sini:
  • Keselamatan itu diperoleh bukan melalui hasil pekerjaan atau usaha kita (band. Rom. 4:1-7 di atas). Efesus 2:8-9; Titus 3:5-7
  • Keselamatan adalah pemberian Allah yang diperoleh hanya melalui pribadi dan karya Kristus.1 Yohanes 5:5-12 ;Kisah 4:12 Efesus 2:8-9 ;Filipi 3:8-9

 

Prinsip-prinsip Untuk Beroleh Kepastian

Prinsip 1: Kita harus mendasarkan kepastian kita kepada fakta-fakta yang dinyatakan dalam Kitab Suci, bukan kepada perasaan-perasaan kita. Iman kita dan kepastian kita harus diletakkan di atas janji-janji yang pasti dalam Alkitab, bukan pada perasaan-perasaan kita. Urutan yang diajarkan dalam Alkitab adalah: FAKTA-FAKTA ——>IMAN ——>PERASAAN. Perasaan adalah penanggap jiwa atau hati. Perasaan ini merupakan akibat dari pemahaman kita terhadap Kitab Suci, namun tak dapat dijadikan patokan kepercayaan kita maupun status keselamatan kita. Ini mengantar kita kepada point berikutnya.

Prinsip 2: Kita harus mendasarkan kepastian kita kepada fakta-fakta yang dinyatakan dalam Kitab Suci, bukan kepada usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan kita. Perbuatan-perbuatan atau perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita karena kasih karunia Allah ini dapat mengkonfirmasikan tentang realita kehidupan kita dengan Allah. Namun kita harus berhati-hati agar tindak menjadikan landasan subjektif sebagai dasar kepastian, karena bila persekutuan orang percaya dengan Tuhan menjadi terganggu akibat sesuatu dosa yang diperbuatnya, ia bisa saja kelihatan atau bertingkah seperti orang yang tidak percaya, terlebih bila keadaan ini berlangsung agak lama. (band.1 Korintus 3:1-4 )

Apabila kita menjadikan perbuatan atau ketaatan sebagai bukti atau dasar keselamatan maka kita akan diperhadapkan pada dilemma ini: Apabila kita hidup dalam ketaatan sekarang (andaikata ini menjadi bukti atau dasar keselamatan), bisa saja keadaan ini berubah. Karena andaikata kita kemudian hidup dalam ketidaktaatan, maka ini akan membuktikan (berdasarkan dasar pemikiran tadi) bahwa kita sekarang tidak lagi sebagai orang Kristen yang sejati meskipun bisa saja kita akan kembali hidup dalam ketaatan. Ketaatan sekarang ini tak dapat dijadikan sebagai bukti kesejatian iman Kekristenan kita, karena bila itu yang dijadikan pegangan atau landasan maka kita tidak akan pernah memiliki kepastian mengenai keselamatan kita.

Perbuatan seseorang pasca-keselamatan tak bisa dijadikani dasar untuk kepastian keselamatan. Kitab Suci memperingatkan kita tentang bahayanya mendasarkan kepastian atau hubungan seseorang dengan Allah kepada perbuatan orang itu. Sebagai contoh, perhatikan Matius 7:13-23. Nabi-nabi palsu biasanya datang dengan berbulu domba. Pasti mereka akan kelihatan orang baik, bukan? Mereka akan tampak sebagai ‘orang-orang Kristen yang patut diteladani’ atau tiang-tiang jemaat. Buah di sini menunjukkan perilaku mereka bukan ajaran mereka —lihat Mat. 12:31-37.) Namun Kitab Suci menegaskan bahwa mereka tidak pernah percaya kepada Kristus; mereka tidak memiliki hubungan yang sejati dengan Dia (ay. 23). Sebaliknya ternyata mereka hanya mempercayai diri mereka sendiri (ay. 22). Perbuatan mereka tampak baik. Bahkan mereka pun menganggap diri mereka memiliki hubungan yg benar dengan Allah. Namun mereka pun telah tertipu. Mereka tidak memahami bahwa kepastian keselamatan itu tak dapat didasarkan kepada perbuatan.
Perilaku Kristen tak boleh dijadikan dasar bagi kepastian keselamatan, melainkan kepastian keselamatan itu harus didasarkan kepada karya dan kecukupan Kristus Sang Juruselamat dan kehidupan baru yang telah diperolehnya di dalam Kristus itu harus menjadi dasar dari perilaku kehidupan Kristen sehari-hari. (band.Kolose 3:1-4)

Sebagaimana ditunjukkan Yohanes dalam 1 Yohanes 1:6-7, perilaku dan kehidupan seperti Kristus merupakan bukti persekutuan sejati dan juga membuktikan bahwa orang itu benar-benar berjalan dengan Tuhan dalam terang.

Namun perilaku kehidupan Kristen tak membuktikan adanya hubungan yang sejati dengan Tuhan karena ketika seorang percaya hidup dalam dosa untuk suatu jangka waktu tertentu, akan tampak perbuatan-perbuatan daging, sehingga orang percaya itu akan kelihatan seperti orang yang tidak percaya. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Rasul Paulus membicarakan tentang keadaan ini ketika ia menyebut orang-orang Kristen karnal (dikuasai sifat kedagingan) sebagai “manusia duniawi” dalam 1 Korintus 3:3-4.

Berjalan atau hidup seperti manusia duniawi sama dengan berjalan atau hidup seperti orang yang tidak mengenal Kristus. Rasul Paulus tidak mempersoalkan atau meragukan keselamatan mereka. Ia mengakui akan keselamatan mereka namun mereka ternyata hidup menurut daging dan bukan menurut Roh. Keadaan ini membuat mereka terlihat seperti orang-orang duniawi, yang belum mengalami kuasa penyelamatan Kristus meskipun seebnarnya mereka telah berada di dalam Kristus dan Roh Allah telah berdiam di dalam mereka.(baca : 1 Korintus 1:2-9, 1 Korintus 3:1 1 Korintus 6:19-20)

Terkadang ayat seperti 2 Korintus 13:5 digunakan untuk mendukung perlunya menyelidiki perbuatan-perbuatan kita untuk membuktikan keselamatan kita. Hal ini sungguh disesalkan karena cara seperti ini hanya menjadikan ayat ini sekedar ayat pembukti tanpa memperhatikan konteks, arti sebenarnya dan tujuan penulisan ayat ini sebagaimana dikemukakan Paulus dalam 2 Korintus13:5

MacArthur menjadi contoh tentang kasus ini. Ia menulis: “Keraguan terhadap keselamatan seseorang tidaklah salah sepanjang keraguan itu tidak dibiarkan terus menerus bercokol. Kitab Suci mengajak untuk menyelidiki diri kita. Keraguan harus dihadapi dan diselesaikan secara jujur dan secara alkitabiah.” Kemudian, setelah mengutip 2 Korintus 13:5, ia mengakhirinya dengan perkataan ini, “Nasihat ini banyak kali diabaikan —bahkan tak pernah digubris—dalam gereja masa kini.”

Namun pertanyaannya adalah apakah hal ini merupakan penafsiran yang tepat dari ayat ini? Apakah Paulus menyuruh orang-orang percaya menyelidiki diri mereka untuk mendapatkan kepastian keselamatan? Konteksnya tidak demikian! Coba simak alasannya berikut ini:
(1) Sekali lagi, seperti halnya dalam 1 Korintus, Paulus tidak meragukan keselamatan mereka. Ia sama sekali yakin bahwa mereka telah diselamatkan dan hal ini nyata dalam ayat-ayat yang telah disebutkan di atas tadi.

(2) Kalaupun Paulus menyuruh mereka menyelidiki diri untuk mendapatkan kepastian, ia tidak menyuruh mereka agar menyelidiki perbuatan-perbuatan untuk mendapatkan kepastian keselamatan. Menurut Kitab Suci, apabila ada sesuatu yang perlu diselidiki, maka hal itu adalah mengenai objek dari iman mereka. Apakah mereka telah benar-benar percaya kepada Kristus dan bukan kepada sesuatu sistim perbuatan?

(3) Ia tidak menyuruh mereka menyelidiki diri mereka sendiri melainkan menurut konteksnya dalam ayat 3-7, Paulus mempunyai tujuan lain. Tampaknya sebagian orang mempermasalahkan keabsahan pelayanan Paulus akibat pengaruh guru-guru palsu. Bandingkan dengan 2 Korintus 11:1-12:21 yang berisi pembelaan Paulus terhadap berbagai tuduhan tak berdasar tentang pelayanannya. Dalam ayat 3, mereka menuntut bukti bahwa Kristus berbicara melalui Paulus. Dalam ayat 5 Paulus menunjukkan bahwa bukti yang mereka cari itu ada di dalam diri mereka sendiri karena ia telah menjadi bapa iman mereka.( baca:1 Korintus 4:15)

Cara terbaik untuk membuktikan pelayanan Paulus ialah dengan menyelidiki iman mereka sendiri karena kesejatian iman mereka juga membuktikan kesejatian pelayanan Paulus sebagai jurubicara Kristus. Apakah mereka mengenal Sang Juruselamat? Ya. Bagaimana cara mereka mengenal Juruselamat itu? Melalui pelayanan Paulus. Ia tidak menganggap iman mereka palsu. Karena itu, kesejatian iman mereka membuktikan bahwa Paulus dan pelayanannya juga lulus dari ujian ini. Inilah maksud dari perkataannya dalam 2 Korintus 13:6 yg mengatakan, “Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yg tidak tahan uji.”

Ingatlah bahwa dasar untuk mendapatkan kepastian keselamatan adalah kesaksian FirmanNya sebagaimana dinyatakan dalam 1 Yohanes 5:11-13 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. 
/nan1

Daftar Pustaka
1 Robert Lightner, Sin, The Savior, and Salvation, Thomas Nelson, Nashville, 1991, hal. 246 mengutip John         MacArthur, The Gospel According to Jesus, hal. 23.
2 Charles Bell, Calvin and Scottish Theology: The Doctrine of Assurance, Handsel, Edinburg, 1985, hal. 28.
3 Earl Radmacher, The Grace Evangelical Society News, Vol. 10, No. 3, May-June 1995, hal. 1.
4 Rich Christianson, The Grace Evangelical Society News, Vol. 9, No. 1, January-February 1994, hal. 4.
5 John F. MacArthur, Jr., The Gospel According to Jesus, Zondervan, Grand Rapids, 1988, hal. 190.
6 Radmacher, Vol. 10, No. 3, hal. 1, 4.