Welcome

Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Dapat Binasa....!!!
Showing posts with label Praktika. Show all posts
Showing posts with label Praktika. Show all posts

Friday, 13 January 2012

CARA-CARA KRISTEN UNTUK MENGATASI STRES DALAM BEKERJA

CARA-CARA KRISTEN UNTUK MENGATASI STRES DALAM BEKERJA

Mencari tahu cara-cara Kristiani untuk mengatasi stres dalam bekerja, akan membantu Anda semakin dekat dengan Allah dan menjadi teladan bagi orang lain. Sebagai orang Kristen, Anda tentu ingin mengandalkan hubungan Anda dengan Tuhan untuk menentukan pilihan-pilihan yang baik, dan tempat kerja adalah tempat yang ideal untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani Anda.

1. Tunjukkan Sikap Seorang Kristen

Sebagai orang Kristen, mungkin Anda tidak ingin memperlihatkan diri Anda sebagai orang yang berbohong, menipu, dan mencuri. Saat Anda ada di tempat kerja, pastikan Anda tetap melayani Allah. Jika Anda menaati firman Yesus, Anda tidak akan cenderung bereaksi dengan kemarahan terhadap orang lain. Dengan mencari cara-cara Kristiani untuk mengatasi stres dalam bekerja, berarti kita bersandar kepada Allah untuk menemukan ketenteraman pikiran dan untuk membimbing Anda sepanjang hari.

Ayat: "Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya." (Amsal 13:11)

2. Tenanglah

Luangkan waktu kerja Anda selama beberapa menit untuk berdoa dalam hati. Walaupun ajaran agama tidak selalu bisa sejalan dengan lingkungan kerja Anda, Anda dapat meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia kapan saja pada hari-hari yang penuh dengan tekanan. Tidak ada alasan apa pun sehingga Anda tidak bisa semakin dekat dengan Allah saat bekerja dan meminta-Nya untuk membimbing Anda. Bahkan, tidak ada waktu yang lebih baik lagi untuk datang kepada-Nya karena sepertinya Anda menghabiskan separuh waktu hidup Anda di tempat kerja.

Ayat: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)

3. Bersyukurlah

Lihatlah apa yang Allah inginkan untuk Anda alami dalam jam kerja Anda. Alih-alih menganggap stres sebagai hukuman dan kesulitan, percayalah bahwa Anda benar-benar melayani Dia. Sebagai orang Kristen, Anda setia dan penuh ucapan syukur. Daripada terkungkung dalam pekerjaan yang menekan, bersyukurlah kepada Tuhan atas upah kerja, tidak peduli seberapa berat pekerjaan yang harus dilakukan. Ketahuilah bahwa memiliki pekerjaan adalah sebuah hak istimewa. Daripada hanya fokus pada kesulitan-kesulitan, pikirkan pekerjaan Anda sebagai pelayanan kasih.

Ayat: "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." (Pengkhotbah 9:10)

4. Ingatkanlah Diri Anda akan Kebenaran

Anda adalah anak Allah, Dia mengasihi Anda dan menginginkan Anda untuk bersandar kepada-Nya. Bacalah Alkitab untuk mendapatkan ketenangan dan carilah kutipan tentang pekerjaan, yang berkata-kata kepada Anda dan memberi Anda penghiburan. Anda juga dapat membuat catatan pengingat pada buku agenda harian Anda, yang memberi tahu Anda untuk mencari Allah terlebih dulu saat menghadapi tekanan pekerjaan. Tidak peduli apa pun masalahnya, carilah cara yang positif untuk mengatasi stres.

Alkitab mengatakan bahwa 6 hari lamanya kita bekerja dan hari ketujuh adalah hari istirahat. Ketimbang mengeluh karena Anda kurang istirahat, sadarilah bahwa bekerja adalah bagian dari rancangan Allah dan tujuan Anda. Angkatlah tekanan kerja Anda, yang tidak dapat dihindari dengan cara apa pun, serta tetapkan tujuan untuk menyenangkan Allah.

Ayat: "Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa." (Amsal 12:24)

5. Jadilah Teladan Kristus

Di tempat kerja, Anda mengembangkan hubungan yang berarti dengan berbagai macam orang, termasuk orang-orang percaya dan orang-orang yang tidak percaya. Kemungkinan tidak ada lagi kesempatan bagi Anda dikelilingi oleh orang-orang dari berbagai latar belakang, setiap hari. Tempat kerja adalah tempat yang ideal untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani dan memberi teladan.

Bagaimana Anda bertingkah laku di tempat kerja menjadi kesaksian atas keyakinan Anda dan kesempatan untuk memuliakan Allah. Jangan membuat kesalahan dengan memberikan contoh yang buruk atau bertindak seenaknya. Hal ini membuat Anda terlihat buruk dan menyakiti orang-orang Kristen yang lain. Lebih lagi, bekerjalah untuk mengembangkan sifat sabar, setia, jujur, dan tunduk. Setiap kesulitan yang menghadang jalan Anda dapat dilihat sebagai batu-batu pijakan untuk menumbuhkan hubungan Anda dengan Allah, dan membagikan kasih Anda kepada orang lain.

Ayat: "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkhotbah 3:22) 

Diterjemahkan dari:
Nama situs: LoveToKnow Stress Management
Alamat URL: http://stress.lovetoknow.com/Christian_Ways_to_Handle_Work_Stress
Judul asli artikel: Christian Ways to Handle Work Stress
Penulis: Lindsay Woolman

Apakah Anda Benar-Benar menikmati Pekerjaan Anda?

APAKAH ANDA BENAR-BENAR MENIKMATI PEKERJAAN ANDA?

"... tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya...." Pengkhotbah 3:22

Di tengah-tengah kesibukan kerja yang seakan tak pernah ada akhirnya dan jadwal-jadwal ketat yang kadang begitu menyesakkan, sering kali kita merasa stres. Kondisi demikian dengan mudah menyebabkan kita kehilangan sukacita. Tuntutan profesionalisme yang kian tinggi, ambisi meraih puncak karier, daya juang yang dipadukan dengan daya saing untuk menggapai prestasi terhormat, dan sederet sikap positif lainnya jelas memang bukan sikap yang keliru. Meskipun demikian, hal-hal tersebut tidak jarang membuat kita merasa stres dan tegang, yang akhirnya menimbulkan gangguan-gangguan psikosomatis, seperti: pusing, tidak bisa tidur, sakit lambung, gatal-gatal, dan lain-lain.

Kakak seorang dosen saya meninggal akibat penyakit jantung, justru ketika surat pengangkatannya dari kepala cabang menjadi direktur kantor pusat sedang diproses. Memang, seseorang yang pantang menyerah hanya dapat dipaksa menyerah oleh kesehatan yang terus memburuk atau kematian. Karena itu, kita sering mendengar orang-orang tua menasihati agar kita jangan bekerja terlalu berat (Bahasa Jawa: ngoyo). Kalau sudah jatuh sakit, mungkin baru terpikir: "Untuk siapa aku berlelah-lelah atau menolak kesenangan?" (Pengkhotbah 4:8) Karena itu, kajilah kemungkinan berikut.

1. Anda menyukai pekerjaan Anda, tetapi tidak menyukai suasana dan lingkungan kerjanya.

2. Anda menyukai suasana dan lingkungan kerja Anda, tetapi sebenarnya Anda tidak menyukai pekerjaan Anda.

3. Anda tidak menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi terpaksa Anda jalani karena Anda butuh pekerjaan.

4. Anda menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi Anda merasa tidak dapat berkembang bila terus bertahan dalam pekerjaan itu.

5. Anda menyukai baik pekerjaan Anda maupun lingkungan dan suasana kerjanya, tetapi Anda tertantang untuk mencoba berkarier di bidang lain karena tawaran gaji yang lebih besar atau karena bidang itu jauh lebih mengasyikkan.

Kelima kemungkinan itu memiliki satu persamaan, yaitu konflik kepentingan dan minat. Itulah inti masalahnya! Untuk mengatasinya, cobalah untuk:

1. Jujur terhadap diri sendiri.

Bila Anda belum menikah, pilihlah bidang yang paling Anda sukai sekaligus paling Anda kuasai, sekalipun bidang itu tidak menjanjikan penghasilan besar, karena kepuasan dan kebutuhan aktualisasi diri yang Anda peroleh dari pekerjaan Anda tidak dapat menandingi nilai uang yang Anda dapatkan. Bila Anda sudah menikah atau kebutuhan ekonomi sangat mendesak, Anda terpaksa harus memilih pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi Anda saat ini, walau mungkin Anda tidak begitu suka dengan pekerjaan itu. Dalam hal ini, tanggung jawab terhadap keluarga harus mengalahkan kepuasan pribadi.

2. Kerjakan pekerjaan Anda sebaik mungkin (Pengkhotbah 9:10).

Pekerjaan yang terus ditekuni akan membuat Anda menjadi sangat profesional dalam bidang itu walaupun awalnya Anda tidak menyukainya. Lama-lama Anda akan menyukainya karena pekerjaan itu Anda geluti setiap hari. Perlu diingat bahwa perusahaan-perusahaan besar kini tidak segan-segan menghargai profesionalisme dengan gaji yang memadai.

3. Bijak mengambil keputusan.

Bila Anda tidak menyukai lingkungan tempat Anda bekerja karena lingkungan itu mengganggu kesehatan, apalagi bila dalam jangka waktu yang lama hal itu dapat berakibat fatal, sebaiknya Anda tidak ragu-ragu berhenti dan mencari kerja di tempat lain atau minta dipindahkan ke cabang lain. Bila Anda tidak menyukai suasana kerjanya, cobalah untuk menyesuaikan diri. Bila Anda menyukai pekerjaan Anda, hal ini akan mempermudah Anda untuk menyesuaikan diri dengan suasana kerja Anda. Bila suasana tempat kerja Anda menjadi tidak tertahankan, misalnya karena rekan atau bahkan atasan Anda suka membuat ulah, sebaiknya Anda juga tidak ragu-ragu untuk berhenti atau minta pindah ke bagian lain. Karena suasana kerja yang tidak sehat (beban kerja terlalu berat, dibenci rekan-rekan sekerja, konflik dengan atasan) dapat berakibat fatal.

4. Bila Anda merasa kurang dapat berkembang, silakan "meloncat" mencari kerja di tempat lain.

Tentunya, sebelum mengambil keputusan tersebut, Anda harus sudah mempertimbangkan masak-masak untuk ruginya.

5. Bila Anda ingin karier yang baru, pelajari baik-baik seluruh seluk-beluk karier itu.

Mungkin Anda hanya terpengaruh oleh hal-hal yang tampak menarik di permukaannya saja. Bila ternyata karier itu memang menjanjikan kepuasan dan masa depan yang lebih baik bagi Anda, silakan bermigrasi.

Pindah kerja memang susah-susah gampang. Anda perlu ekstra hati-hati "meloncat" bila usia Anda sudah agak tua. Salah-salah Anda malah tercebur ke selokan. Sudah tentu, risiko selalu ada. Karena itu, bila Anda sudah berumur dan merasa kemampuan kerja Anda biasa-biasa saja, cobalah belajar menikmati pekerjaan Anda, apalagi bila lingkungan dan suasana kerjanya cukup menyenangkan. Karena, bila Anda menikmati pekerjaan Anda, Anda pasti menyukainya. Dan bila Anda menyukainya, Anda akan asyik menekuninya karena kini pekerjaan itu telah menjadi seperti hobi. Dan bila Anda menekuni hobi Anda itu, tentu Anda tak akan merasa bahwa Anda sedang bekerja, bukan? Dan karena Anda tidak merasa bahwa Anda sedang menyelesaikan pekerjaan kantor, Anda tidak akan merasa stres atau diburu-buru. Bersamaan dengan itu, ambisi berlebihan yang dapat merusak saraf Anda tersublimasi secara otomatis dalam keasyikan dan kesenangan menekuni "hobi" Anda itu.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: 29 Kiat Sukses dalam Karier
Judul artikel: Apakah Anda Benar-Benar Menikmati Pekerjaan Anda?
Penulis: Arif Suryobuwono dan M. Kurniawati Prayitno
Penerbit: Yayasan ANDI Yogyakarta dan YASKI Jakarta, 1994
Halaman: 31 -- 34

Tuesday, 15 November 2011

Cara cepat membaca Alkitab dalam setahun

Cara cepat membaca Alkitab dalam setahun

Sudahkah anda membaca seluruh isi Alkitab? Belum? Nah lo, belum baca seluruh isinya koq bisa percaya seluruh isi Alkitab? Ibaratnya membeli kucing dalam karung, peduli amat isinya apa, yang penting gw percaya.
Padahal bukan itu yang diinginkan Tuhan. Tuhan menginginkan agar kita, anak-anakNya, dapat mengenalNya lebih dalam lagi. Bagaimana cara kita mengenal Allah? Tentu dengan membaca FirmanNya.
Selain untuk mengenal Tuhan, ternyata banyak sekali manfaat dari membaca Alkitab, berdasarkan beberapa penelitian dilaporkan bahwa kebanyakan orang yang membaca Alkitab memiliki tekanan darah yang lebih rendah, tingkat depresi lebih rendah, lebih sedikit menderita penyakit jantung, jarang yang kecanduan obat maupun alkohol, lebih sehat, dan jarang mengalami perpecahan dalam perkawinan, bahkan lebih produktif di tempat kerja.
Terbukti banyak sekali manfaat dari membaca Alkitab, tepat seperti yang disebutkan dalam Yosua 1:8 “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung,” dan juga Mazmur 1:1-2 “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”
Pertanyaannya adalah bagaimana caranya membaca Alkitab supaya tuntas dalam setahun saja?
Alkitab berisi kurang lebih 3 juta huruf, 31.000 ayat dan 1.189 pasal.
Untuk membaca seluruh Perjanjian Lama, dibutuhkan kira-kira 38 jam, sedang untuk Perjanjian Baru 11 jam. Jadi untuk membaca seluruh Alkitab diperlukan sebanyak 49 jam. Bila kita membaca Alkitab dengan keras dengan kecepatan berbicara biasa, kita membutuhkan waktu 70 jam, 40 menit.
Dengan membaca 4 pasal tiap-tiap hari, anda dapat menyelesaikan Alkitab dalam setahun (375 hari).

Karena itu, berdasarkan fakta-fakta di atas, berikut ini adalah cara cepat untuk membaca Alkitab dalam setahun:
  1. Buat komitmen menyelesaikan pembacaan seluruh isi Alkitab, berdoalah kepada Tuhan, mintalah tuntunan Roh Kudus agar anda dimampukan untuk dapat mengerti FirmanNya dan agar anda juga dapat menjalani komitmen tersebut.
  2. Buatlah waktu-waktu khusus membaca Alkitab setiap hari secara teratur. Misalnya waktu setelah bangun tidur, agar anda lebih semangat untuk membacanya. Tidak disarankan membaca Alkitab setelah makan, karena Anda akan lebih mudah mengantuk setelah makan.
  3. Mulai dari kitab Injil di Perjanjian Baru, terutama Injil Yohanes. Mengapa? Karena Injil Yohanes merupakan gambaran besar karya penebusan Kristus. Tidak masalah bila anda mau memulainya dari Injil Matius, hanya saja biasanya beberapa orang yang membaca Matius bosan ketika melihat silsilah yang memulai kitab Injil Matius. “kakeknya bokap gw aja gw ga tau namanya, lahh ini daftarnya puaanjaangg”.
  4. Setelah Injil Yohanes selesai, bacalah Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Lukas. Anda boleh saja membolak-balik susunan pembacaan kitab Injil.
  5. Injil sudah selesai nih, lanjutkan membaca Kisah Para Rasul sampai Surat Yudas ya.
  6. Kemudian bacalah kitab Perjanjian Lama, mulailah dari kitab Mazmur dan Amsal. Kenapa tidak disarankan untuk langsung ke Kitab Wahyu? Ini dikarenakan banyak orang yang sudah membaca kitab Wahyu menjadi takut, dan berhenti membaca Alkitab. Ada baiknya kita membaca kitab Wahyu jika kita sudah membaca kitab para nabi tentang nubuatan akhir terlebih dulu, misalnya kitab Daniel.
  7. Mazmur dan Amsal selesai, silahkan baca kitab Kejadian, Keluaran, dst sampai Maleakhi. Kemudiaan masuk ke Wahyu.
  8. Ulangi lagi pembacaan Alkitab. Kali ini silahkan mulai dari Kejadian hingga ke Wahyu.


Perlu diingat:
  • Selalu minta tuntunan Roh Kudus ketika membaca Alkitab
  • Bertanyalah selalu saat Anda menganalisa isi Alkitab
  • Jika anda tidak mengerti kata-kata yang tertulis dalam Alkitab, silahkan baca Kamus Alkitab, tanya orang lain yang berkompeten (pendeta atau penatua), saya juga boleh ditanya. He he…. atau just Google it. :)
  • Gunakan stabilo atau pulpen untuk menandai ayat-ayat yang berkesan
  • Catat hal-hal yang penting yang Anda dapatkan dari pembacaan Alkitab di buku catatan ataupun di Alkitab
  • Lakukan setiap perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, percuma Anda membaca tapi tidak mempraktekkannya.
  • Jangan lupa bagikan apa yang sudah Anda dapatkan kepada orang lain.  

Selamat membaca dan mencintai Alkitab… GB :-)

Sumber:

Thursday, 4 August 2011

MANAJEMEN DIRI : PENGGUNAAN WAKTU


"MANAJEMEN DIRI "
(Pengunaan Waktu)


Apa pendapat anda tentang "waktu", suatu anugerah atau justru pengekang hidup?

Tuhan menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan menikmati hidup. Sudah cukupkah ? Apakah kita sering merasa kekurangan waktu, bahkan seolah-olah hidup kita begitu dikendalikan oleh waktu ?

Waktu dapat menjadi pengekang hidup, jika kita membiarkan diri dikendalikan olehnya, tapi waktu menjadi suatu anugerah, jika kita mampu mengendalikan dan mengelolanya dengan bijaksana serta melihatnya sebagai kesempatan untuk mengalami hal-hal yang bermakna. Jadi, kita yang memegang kendali atas waktu, bukan waktu yang mengendalikan kita.

Sudahkah anda membuat waktu anda bermakna ?

Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen waktu, kita perlu memahami dua pengertian tentang waktu, yaitu sebagai kronos dan kairos.   Kronos adalah waktu-waktu yang kita jalani, misalnya Senin, Selasa, sehari, sebulan, setahun. Seringkali kita menggunakannya pada istilah kronologis. Sedangkan kairos adalah waktu yang bermakna bagi kita. Dari usia 0 tahun hingga 17 tahun kita menjalani kronos, tapi dalam kurun waktu itu pasti ada saat-saat penting yang membawa kesan tersendiri bagi kita, misalnya saat pertama masuk sekolah, saat bertengkar dengan sahabat, saat pertama kali jatuh cinta, saat gagal di ujian, saat menjadi juara di pertandingan olahraga. Bagaimana reaksi kita pada saat itu dan bagaimana kita menghadapinya ? Pelajaran apa yang kita peroleh dari peristiwa itu ?  Itulah kairos, saat-saat bermakna dalam perjalanan hidup yang membentuk karakter diri kita.

Kairos tidak harus berupa peristiwa besar, mungkin hanya peristiwa kecil / sepele, tapi yang penting kita bisa belajar sesuatu dari peristiwa itu. Intinya, marilah kita belajar peka untuk melihat makna dibalik peristiwa. Ada perbedaan besar antara orang yang hanya sekedar menjalani kronos dengan orang yang mampu melihat kairos-kairos dalam hidupnya.

Orang yang mampu memahami waktu sebagai kairos, melihat hidup sebagai kesempatan , bukan sekedar hidup yang dijalani begitu saja tanpa makna. Kesempatan untuk mengalami suka dan duka, sukses dan gagal, yang memproses diri kita menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan banyak hal yang bermakna..

Kita masuk perguruan tinggi selama 4 atau 5 tahun, apakah hanya untuk mendapat gelar sarjana ? Harus lebih dari itu, waktu-waktu itu akan menjadi kesempatan untuk meraih kairos-kairos. Kesulitan ketika belajar, kegagalan di ujian, pertemuan dengan orang serta lingkungan yang baru, adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih ulet, lebih punya kontrol diri, lebih mampu menyesuaikan diri dan sebagainya. Sudahkah anda mengubah kronos menjadi kairos ?


Memanajemen waktu dengan tepat
Jika kita memahami waktu sebagai kairos, kita akan menyadari bahwa waktu itu begitu berharga. Mungkin ada banyak hal yang ingin kita lakukan dan kita alami dalam hidup ini, bagaimana cara mengaturnya ?


Ada 3 hal yang harus kita miliki: a goal - a plan - take action


1. A goal ( tujuan )

Apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup ini ? Mengapa kita ingin mencapai itu ? Masing-masing orang tentu berbeda, tapi setiap orang harus punya. Ini penting, karena banyak orang yang menjalani hari-hari hidupnya tanpa tahu untuk apa ia hidup, mau ke mana ia menuju. Hidup menjadi seperti petualangan tanpa arah atau hanya sebuah rutinitas. Padahal hidup adalah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan baik. Jika anda belum menemukan tujuan hidup anda, ambillah waktu untuk menggumulkan hal itu. Bila perlu mintalah bantuan pada orang yang mampu membimbing anda. Ini adalah langkah awal yang penting. Jangan di hari tua kita baru menyesal " Mengapa aku tidak menata hidupku sejak muda " atau kita baru menyadari " Mengapa hidupku jadi begini ? " Tentu di saat itu semuanya sudah terlambat.

Setelah kita tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup ( ini adalah tujuan jangka panjang ), kita dapat melanjutkannya dengan membuat tujuan-tujuan atau target-target jangka pendek, sebagai langkah untuk mencapai tujuan akhir. Target untuk 5 tahun mendatang, target tahun ini, target semester ini, bahkan target hari ini. Tujuan/target bisa lebih dari satu, misalnya target dalam bidang studi, pekerjaan, spiritual, dan sebagainya. Buatlah target yang realistis ( sesuai kemampuan ) dan konkrit. Bila perlu tulislah pada kertas/buku catatan anda.


2. A plan ( rencana )

" If you fail to plan, you plan to fail." Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Jika kita sudah punya tujuan/target yang jelas, kita dapat merencanakan langkah dan cara untuk mencapai hal itu. Beberapa langkah yang dapat kita lakukan adalah :  

a. Mengatur aktivitas
Evaluasi kembali aktivitas-aktivitas yang biasa kita lakukan selama ini. Dari sekian banyak aktivitas yang ada, pilihlah mana yang perlu dilakukan, mana yang tidak. Apa aktivitas yang lebih baik kita lakukan di waktu luang, misalnya: apakah kita sering memboroskan waktu untuk nonton VCD atau jalan-jalan ke Mall ? Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat yang dapat kita lakukan ? Mungkin belajar bahasa Inggris, jika ternyata kita punya tujuan menjadi ahli komputer sedangkan kemampuan bahasa Inggris kita masih kurang. Jadi kita men-seleksi aktivitas dalam rangka mencapai tujuan yang sudah kita targetkan. 


b. Menentukan prioritas
Dari sekian banyak aktivitas yang sudah kita seleksi, terkadang kita masih ingin melakukan banyak hal : kuliah, les Inggris, les musik, olahraga, kumpul dengan teman-teman, ikut organisasi atau pelayanan, bekerja paruh waktu, dan sebagainya. Jika kita ingin melakukan semuanya, mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal, dan bisa jadi yang terpenting justru terabaikan. Misalnya: karena terlalu asyik berorganisasi, kuliah jadi terlantar.

Kita harus menentukan aktivitas-aktivitas yang harus mendapat prioritas utama, dan aktivitas-aktivitas yang boleh kita lakukan, namun pada porsi yang tepat. Sebagai contoh: olahraga itu penting, kita perlu menyediakan waktu untuk itu, tapi tidak perlu menjadi prioritas utama, jika tujuan kita bukan untuk menjadi seorang atlit. Jika suatu saat kita dihadapkan pada dua pilihan, misalnya sore ini harus kerja kelompok padahal bersamaan dengan jadwal main basket dengan teman-teman. Kita bisa menentukan mana yang harus kita dahulukan, karena kita tahu apa prioritas kita.  

c. Membuat rencana yang realistis
Jika kita sudah menentukan target yang realistis, maka kita juga perlu membuat rencana yang realistis. Misalkan dalam semester pertama kita punya target untuk mencapai IP di atas 2,5, kita membuat rencana agar target itu tercapai. Kita membuat jadwal belajar secara teratur, berapa jam sehari, kapan waktu yang terbaik, dan sebagainya. Buatlah semua itu secara realistis, sehingga kita dapat sungguh-sungguh melaksanakannya.  

d. Melaksanakan rencana secara fleksibel
Terkadang rencana yang sudah kita buat, terganggu oleh hal-hal yang tidak terduga. Misalkan nanti malam adalah jadwal kita belajar, tapi ternyata ada acara penting yang harus kita hadiri. Jika acara itu memang penting dan tidak dapat ditunda, batalkan jadwal belajar dan carilah waktu pengganti. Tapi perlu diwaspadai, jangan suka mengubah rencana karena tergoda dengan hal-hal yang kurang penting. Jika ada kegiatan di luar rencana yang ingin kita lakukan, aturlah waktu sehingga hal yang penting tetap dapat kita laksanakan. 

e. Membuat agenda harian
Mempunyai jadwal kegiatan harian akan sangat membantu kita untuk memanajemen waktu yang kita miliki setiap hari, namun tidak semua orang mau membuatnya secara detil. Paling tidak kita harus mencatat hal-hal penting yang harus kita lakukan di agenda harian, sehingga di pagi hari kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan pada hari itu dan bagaimana cara kita mengatur waktu untuk menyelesaikan semuanya. Target jangka panjang akan tercapai jika kita mampu mendisiplin diri untuk menyelesaikan target-target harian.

3. Take action ( bertindak )
Lakukan apa yang sudah direncanakan! Jika tidak, semua target dan rencana yang kita buat tidak punya arti apa-apa. Beberapa hal yang harus kita waspadai : 

a. Jika 'penyakit' malas menyerang
" Saya lagi nggak mood "; " Waktunya nggak pas buat belajar " dan sebagainya. 

b. Kebiasaan menunda pekerjaan
"Besok masih ada waktu kok "; " Sebentar lagi ah "; "Ujiannya kan masih minggu depan"  

c. Tidak mampu mendisiplin diri sendiri
Kalau sudah terlanjur nonton televisi atau main game, lupa segalanya 

d. Tidak berani berkata "tidak"
'Sungkan' menolak teman yang tiba-tiba mengajak keluar atau ngobrol lewat telepon

             Kemampuan memanajemen waktu berkaitan erat dengan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa hidup tanpa planning, atau terbiasa menunda-nunda sesuatu, akan sangat sulit mendisiplin diri dengan jadwal waktu yang terencana. Mengubah kebiasaan adalah hal yang sulit, namun kesuksesan diraih dengan kemauan dan keberanian untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik dari hari ke hari, terutama dalam hal manajemen waktu.

“ There never has been, and cannot be, a good lifewithout self control  - Leo Tolstoy -

Referensi :
·        Paul, Walter. How to Study in College, Boston : Houghton Mifflin Company. 1984.
·      Tong, Stephen. Pemuda dan Krisis Zaman, Jakarta : Stephen Tong Evangelistic Ministries International. 1996

Saturday, 25 June 2011

To GOD be The Glory

GLORY TO GOD

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya."
(Roma 11:36)

´Glory to God´ menjadi satu istilah, satu pemikiran yang begitu unik di dalam kekristenan dan tidak ditemui pada agama-agama lain. Agama lain lebih merasa takut kepada Tuhan, karena ilah mereka memberikan unsur kontrol kepada kepribadian. Tetapi dalam kekristenan tidaklah demikian. Dalam Kitab Yes 43:7 dikatakan dengan jelas, "Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku." Sebab itu, di dalam diri manusia, kita melihat peta dan teladan Tuhan, yaitu pancaran kemuliaan Tuhan yg mewakili sang Pencipta. 

Apakah arti kemuliaan Tuhan itu? Istilah kemuliaan memang abstrak, tidak konkret, dan tidak berwujud. Tetapi, kemuliaan merupakan satu hal yang mau tidak mau akan mempengaruhi hidup kita. Mengapa kita takut nama kita dicemarkan oleh orang lain? Mengapa kita takut difitnah orang? Mengapa kalau ada orang yang salah ketika memberi informasi tentang kita, kita marah? Mengapa kita selalu membela sesuatu yang seharusnya tidak dirugikan, tetapi sudah dirugikan? Mengapa kita selalu berdebat? Ini semua karena ada unsur abstrak, unsur yang melampaui kekonkretan jasmaniah yang memang berada di dalam kebudayaan. Kita membutuhkan nama baik, membutuhkan kredibilitas, dan membutuhkan kepercayaan dari orang lain. Semua itu karena apa? Unsur kemuliaan. Meskipun sama-sama manusia, tetapi ada yg begitu bercahaya karakternya, ada yg begitu gelap hidupnya, ada yg begitu menyenangkan orang lain, dan ada yang membuat orang lain begitu benci, ini semua karena ada unsur abstrak atau tidak konkret yang ikut berperan di dalam dunia ini.. Jadi, yang konkret tidak lebih penting dari yg abstrak dan yg abstrak jauh lebih berperan daripada yg konkret ini. Itu sebabnya, kemuliaan justru tidak disangkutpautkan dengan materi. Orang biasa beranggapan kalau mempunyai giwang dengan berlian yang beberapa karat besarnya, atau mempunyai mutiara yang begitu cemerlang, tentu akan menarik orang, karena itu adalah kekayaan yang besar. Tetapi tidaklah demikian, kemuliaan tidak terletak pada berlian, pada perhiasan, atau pada pakaian yang bagus, kemuliaan justru terletak di dalam unsur abstrak: karakter atau kepribadian seseorang. Itu sebabnya, kita akan memikirkan tentang kemuliaan.

Mengapa segala kemuliaan harus kembali kepada Tuhan Allah? Kemuliaan mempunyai substansi yg menjadi pangkalan bagi penghargaan. Kita menghormati atau menghargai seseorang, justru karena dibalik orang yang kita hormati itu terdapat suatu substansi rohaniah yang melampaui nilai jasmani. Dan substansi rohaniah itu adalah Tuhan sendiri. Apakah arti kemuliaan? Kemulian berasal dari Tuhan n Tuhan sendiri adlh penghargaan yg tertinggi, nilai yang tertinggi, diri-Nya merupakan sumber segala penghargaan dan kehormatan. Sebab itu, tatkala manusia diciptakan menurut peta & teladan Allah. Alkitab menulis, "Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan kehormatan." Manusia mempunyai kehormatan dan kemuliaan sebagai mahkota. Mahkota ini berasal dari Tuhan. Itu sebabnya, Tuhan adalah sumber kehormatan, sumber penghargaan, sumber kemuliaan. Yesus Kristus berkata, "Kemuliaan yang Kuterima, bukan dari manusia, melainkan dari Allah saja."

Injil Yohanes pasal 17 merupakan satu-satunya pasal yang mencatat bahwa Anak Allah yang suci itu berbicara kepada Allah Bapa yang suci. Semua isi doa itu diwahyukan kepada manusia. Sebenarnya, apa yang dibicarakan antara Allah Anak, Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus selalu tidak kita ketahui. Tetapi, pasal 17 merupakan satu-satunya pasal, di mana seluruh pasal, kecuali kalimat pertama, berisi doa sang Anak kepada Bapa dalam bentuk literatur manusia, tetapi isinya adalah komunikasi antara Anak dan Bapa. Dalam pasal itu, kita melihat doa yang luar biasa. Yesus Kristus mengatakan, "Muliakanlah Aku, sebagaimana Aku di dunia sudah memuliakan Engkau. Tuhan Yesus meminta supaya Bapa memuliakan Dia, apakah sebabnya? Sebab Dia sudah memuliakan Bapa. Maka, di sini kita dapat melihat, kemuliaan bersubstansi realita pada diri Bapa. Bapa menciptakan manusia dan mengutus Yesus ke dalam dunia ciptaan- Nya, justru untuk menyatakan kemuliaan Bapa itu sendiri. Sebab itu, sesuai dengan Kitab Yes. 43:7, eksistensi hidup kita justru untuk memuliakan Tuhan Allah. Tetapi, hal ini sering tidak kita sadari atau insyafi.

Dalam Injil Yoh 12:28, Yesus Kristus berkata, "Bapa, muliakanlah nama-Mu". Maka terdengarlah suara dari surga, "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi." Tuhan Allah, sumber kemuliaan menginginkan manusia untk memuliakan Dia. Barangsiapa memuliakan Tuhan, Tuhan rela memuliakan Dia pula. Kemuliaan bersubstansi Tuhan Allah dan kemuliaan itu diwujudkan atau dinyatakan, sehingga kemuliaan menjadi suatu dasar kebudayaan, kredibilitas kepribadian, dan keagungan dari pada sejarah dan pemancaran moral. Kemuliaan itu diwujudkan melalui beberapa tahap:

1. Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui inkarnasi.
Selain penciptaan, di mana Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk menyatakan kemuliaan-Nya, pernyataan kemuliaan yang paling konkret di dalam sejarah adalah melalui inkarnasi. Dari Injil Yohanes 1:14,18, kita melihat: pertama, substansi kemuliaan adalah Allah sendiri. Pernyataan kemuliaan, pertama-tama dapat kita lihat di dalam inkarnasi, yaitu Kristus menjadi manusia. Allah datang ke dalam dunia manusia, Roh menjadi daging, yang tidak kelihatan sekarang menjadi kelihatan, dari dunia mutlak masuk ke dalam dunia relatif. Dia menjadi manusia. Di sini dikatakan, kita sudah melihat kemuliaan Allah di dalam diri Kristus, Anak Allah yang tunggal yang dikaruniakan kepada manusia. Dalam ayat 18 dikatakan, "Tidak ada orang yang pernah melihat Allah, hanya Kristus, Anak tunggal Allah, yang berada di dalam pangkuan Allah itu, menyatakan Tuhan Allah kepada kita." Baca lagi, Kitab Ibrani 1:1-3. Ayat yang paling jelas, menjelaskan siapakah Kristus di dalam alam semesta. Kita melihat Kristus, jauh lebih besar daripada apa yg kita tahu.

Berapa Besarnya Kristus?" berapa besar menurut pengertian Anda, akan mempengaruhi iman dan nilai hidup dalam seumur hidup Anda. Seluruh hidup Anda akan ditetapkan penilaiannya dengan pengertianmu tentang berapa besar Kristus, Kristus selalu lebih besar daripada apa yang bisa kita bayangkan. Kalau kita mengira Kristus sedemikian besar, Dia lebih besar daripada itu. 

Siapakah Kristus?
a. Kristus ditetapkan berhak mewarisi sesuatu.
b. Kristus ditetapkan menjadi pencipta segala sesuatu.
c. Kristus ditetapkan menjadi penopang segala sesuatu.

Kristus adalah Kristus kosmos, Kristus alam semesta, Pencipta alam semesta, Penopang alam semesta, dan Pewaris alam semesta. Segala sesuatu adalah dari Dia, segala sesuatu bersandar kepada Dia, dan segala sesuatu kembali kepada Dia. Puji Tuhan! Di sini kita dapat melihat bahwa Dia adalah cahaya dari kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah, yaitu ´Allah berada di dalam cahaya yang tidak kelihatan, tetapi Kristus adalah cahaya Allah yang dapat kita lihat. Umpama saya bertanya kepada Saudara, pernahkah Saudara melihat matahari? Saudara akan menjawab, setiap hari saya melihat matahari, bahkan sejak kecil saya sudah melihatnya. Saya bertanya lagi, sanggupkah Saudara menatap matahari? Saudara mulai merasa ragu, apa maksud pertanyaan ini? mengapa Anda menanyakan hal ini? Saya berkata, Saudara belum pernah melihat matahari secara langsung. Dari ketiga pertanyaan tadi, pernahkah melihat matahari? Betulkah Saudara sudah melihatnya? Saudara belum pernah melihat langsung, tapi Saudara pasti tahu, ada suatu rahasia dibalik pertanyaan itu. Sebenarnya, kita tidak pernah melihat matahari, kita hanya melihat cahaya matahari. Yang kita lihat bukan mataharinya, tapi cahayanya. Kita belum pernah melihat matahari, kita hanya melihat satu substansi yang bercahaya begitu jelas, waktu kita melihat, kita tahu itu matahari, padahal yang kita lihat bukan elemen dari matahari sendiri, namun hanyalah cahaya yang mengeluarkan sinar, yg bersumber & beradiasi dari matahari. Itu sebabnya, tak seorang pun yang bisa melihat Allah, yg kita lihat adalah cahaya Allah itu sendiri. Ayat tadi mengatakan, "Dia adalah cahaya kemuliaan Allah, dan gambar wujud Allah", itu sebabnya kita masuk ke bagian lebih yg dalam.

Pada waktu inkarnasi itu sudah terjadi, maka keberadaan Yesus, itu adalah wujud yang konkret, wakil yang mewakili kemuliaan Allah. Sebab itu, Yesus Kristus berani mengatakan satu kalimat, yang belum pernah, tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin, tidak ada yang berani atau boleh diucapkan oleh siapa pun di dalam sejarah. "Kamu melihat Aku, bukan melihat Aku, melainkan melihat Dia, yang mengutus Aku." Dari fenomena agama umum, orang Yahudi tak mungkin pernah mengerti kalimat itu. Karena mereka tahu, Allah tidak bisa dilihat. Saat manusia melihat Allah dengan mata jasmani, saat itu pula manusia mati. Inilah pengertian orang Yahudi. Itu sebabnya, waktu Yesus mengatakan kalimat itu, mereka mengatakan Dia menghujat Allah. Padahal, Yesus Kristus tidak menghujat Allah. Tetapi Dia mengatakan satu fakta, karena Dia adalah satu- satunya cahaya kemuliaan Allah, satu-satunya wujud Dia, Dia adalah satu-satunya cahaya kemuliaan Allah, satu- satunya wujud substansi Allah, dan satu-satunya yang bisa menyatakan Allah yang tidak tampak. Kristus adalah wakil Allah di dalam dunia.

Kemuliaan yang bagaimana yang dipancarkan Yesus? "Kemuliaan dipancarkan melalui hidup-Nya, melalui sengsara-Nya." Pada waktu Dia diumpat, difitnah, Dia sangat tenang. Kemuliaan Yesus, kemuliaan Ilahi mutlak dan tidak terbatas. Perhatikan teladan Yesus yang menyatakan kemuliaan Allah, pernah dinyatakan sampai puncaknya secara konkret di Alkitab. Injil Matius 17:2 mengatakan, "Wajah-Nya seperti matahari, pakaian-Nya seperti terang yang besar." Di dalam Alkitab, hal seperti ini pernah terjadi 3 kali: Pertama kali, waktu Yesus masih hidup di dunia. Kedua, waktu Dia memanggil Paulus. Lalu ketiga, waktu Dia menyatakan diri kepada Yohanes, rasul termuda di pulau Patmos. Ketiga-tiganya memberikan satu kesan bahwa Dia lebih bercahaya dibanding dengan matahari, sehingga pada waktu siang hari, waktu paling terang, Paulus justru melihat cahaya yang lebih terang daripada matahari. Bukan saja demikian, Yohanes melihat, Dia mempunyai mata seperti api yang menyala-nyala. Yesus Kristus adalah kemuliaan yang diwujudkan di dalam dunia. Pada waktu Petrus tua, dia melukiskan istilah kemuliaan hanya satu kali saja, istilah yang luar biasa berbeda dengan semua istilah yang ada di dalam Kitab Suci. 2Petrus 1:16, dalam terjemahan bahasa Indonesia "kebesaran- Nya", tetapi dalam bahasa Inggris "His majesty". Kata ´majesty´ dipakai untuk melukiskan keagungan seorang raja. Pada waktu Petrus menulis ayat ini, ia berkata, "Karena kami pernah melihat dengan mata sendiri, satu ´majesty´ atau kemuliaan yang dahsyat dari Tuhan sendiri." Mengapa Petrus yang menuliskan hal ini? Karena Petrus, Yakobus, dan Yohanes tiga orang yang pernah melihat Yesus Kristus menyatakan kemuliaan Allah, melalui perubahan wajah; transfiguration; ´change His figure´. Bukan saja demikian, kita juga dapat membaca dari Wahyu 1:16-17, Kristus menyatakan diri dengan begitu mulia.

2. Apa yang disebut dengan kemuliaan Allah?
Pertama, kemuliaan Allah di dalam diri Kristus melalui inkarnasi. Kedua, kemuliaan Allah di dalam anugerah penebusan. Ini merupakan kemuliaan yang paling puncak, yang boleh kita terima di dalam pengalaman kita masing-masing. Kita bukan hanya mengenal Dia, tetapi kita mengalami. Kita bukan hanya mengetahui Dia, tetapi kita memiliki Dia melalui anugerah kemuliaan. Baca Efesus 1:6. "Kasih karunia yang mulia atau anugerah kemuliaan Tuhan. Apakah ini? Ini adalah kemuliaan yang bersifat paradoks. Anugerah kemuliaan di dalam penebusan itu bersifat paradoks artinya, justru semua kemuliaan itu tersimpan. Hal ini, dalam theologia Martin Luther disebut sebagai ´the hiddeness of God´: suatu ketersembunyian dari Tuhan Allah. Martin Luther menggambarkan dua macam hal yang kita kenal tentang Kristus, ´the glory of Christ and the cross of Christ´. Kita harus mengerti mengenai Kristus yang tersalib dan Kristus yang mulia. Banyak orang hanya mau Kristus yang mulia, tetapi tidak mau Kristus yang tersalib. Martin Luther mengatakan, "Dua-duanya penting. Sebagaimana kita menyaksikan bulan, yang menghadapkan kita pada satu aspek, sedangkan aspek yang lain tidak pernah bisa kita lihat, kecuali kita melintasinya dengan roket yang melebihi tempat itu, barulah kita bisa melihat belakangnya." Demikian juga Allah menyatakan kepada kita, aspek-aspek yang rela Dia wahyukan, tetapi aspek yang tidak dinyatakan, kita tidak tahu itu. Itu disebut sebagai ´the hiddenness of God´.

Perhatikan, kemuliaan Allah yang kita lihat adalah Kristus yang menjadi contoh teladan moral dan hidup yang mewakili Allah di dalam dunia ini dan yang dahsyat kemuliaan-Nya, yang pernah Dia nyatakan kepada tiga orang murid-Nya dan Paulus. Tetapi kita mau melihat sifat paradoks dari aspek yg lain, yaitu kemuliaan yg terembunyi. Ketika raja menutup pakaian kerajaannya dengan pakaian pengemis, jangan Anda kira bahwa dia adalah seorang pengemis. Biar pun secara lahiriah, dia seorang yg miskin, tetapi dia adalah tetap seorang raja yg berhak duduk di atas tahta. Demikian juga pada waktu kita melihat kemuliaan yang tersembunyi, itu berarti kemuliaan paradoks. Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, di manakah kemuliaan Allah? Tidak ada. Pada waktu itu, seluruhnya sudah menjadi tertutup, kebijaksanaan dan kuasa-Nya tidak kelihatan dan segala kemungkinan kemuliaan sudah tertudung, sehingga orang melihat salib, tempat yang bukan menyatakan kemuliaan, melainkan tempat yg memalukan. Salib adalah tempat yang sangat memalukan, tetapi Allah justru menyatakan bahwa inilah anugerah kemuliaan (bdk 1Kor 1:25).Kemuliaan penebusan adalah kemuliaan yang ditudung anugerah yang tersembunyi, yaitu kemuliaan yang menjadi ujian bagi iman seluruh umat manusia.

3. Dengan apa kita memuliakan Allah?

Sekarang, kita masuki bagian terakhir, saya akan membahas dengan ringkas, dengan apa kita memuliakan Allah?
a. Dengan hidup yang ada, hidup yang diciptakan.
b. Dengan pengalaman penebusan, kita memuliakan Allah.
c. Dengan perbuatan dan kesempatan untuk bersaksi (Matius 5:13-16).
d. Di dalam kesengsaraan dan dengan mulut kita.

Kita perlu menderita bagi Tuhan supaya bisa mendapat kemuliaan. Sebab itu, waktu kita menderita bagi Tuhan, biarlah kita memakai mulut kita untuk memuliakan Allah. Pada waktu penganiayaan, kita tetap harus memuliakan Allah. Puji Tuhan! Ia ada dalam seumur hidup kita, kita harus memuliakan Allah.

Siapakah orang yang memuliakan Allah? Mungkin Saudara berkata, orang-orang yang pandai menyanyi atau yang sering berkhotbah. Jika hanya orang yang berkhotbah dan yang menyanyi, yang memuliakan Allah, maka hanya segelintir orang Kristen di mimbar saja yang bisa memuliakan Allah. Setiap orang Kristen dapat memuliakan Allah dengan kesaksiannya. Masyarakat mengetahui bahwa kita adalah orang Kristen, kita tidak bisa omong kosong saja, kita harus melakukan semuanya dengan baik untuk memuliakan nama Tuhan.
Ayat ini mudah kita baca, namun masyarakat akan mempermalukan Allah kita, karena hidup kita yang sembrono. Kita harus memuliakan Allah di dalam usaha kita, di dalam study kita, di dalam keluarga kita, dan di dalam pergaulan kita.
Soli Deo Gloria...!!

AKHIR DARI SUATU PERJALANAN

AKHIR DARI SUATU PERJALANAN
by: Fernando Tambunan

Memikirkan tentang akhir dari suatu perjalanan hidup (kematian) adalah suatu hal yang seringkali dianggap menakutkan. Di satu sisi kita sependapat bahwa mereka yang memikirkan akhir hidupnya (baca: kematian) adalah mereka menyadari eksistensi diri, namun di sisi yang lain, Mungkin saja dalam ketakutannya tersebut manusia lalu terdorong untuk mengerjakan pekerjaan yang berarti, namun sekali lagi, ketakutan, bagaimanapun juga, tidak dapat dianggap sebagai kebajikan .

Lalu, apakah mereka yang tidak mempedulikan hari kematiannya, bersikap lebih bijaksana daripada mereka yang ketakutan dan terus-menerus memikir-kannya? Sama sekali tidak. Bahkan lebih parah daripada yang pertama. Kitab Suci mengatakan bahwa mereka yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian, secara konsekuensi logis, boleh mengambil gaya hidup hedonisme dengan semboyannya yang terkenal “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (I Kor 15:32). Kehidupan yang tidak pernah memikirkan keterbatasan kehidupan itu sendiri, akan cenderung membawa manusia untuk hidup mencari kepuasan pribadi. Kepuasan pribadi ini tidak harus selalu dinyatakan dalam gaya hidup pesta pora dan mabuk-mabukan, pergi ke pelacuran dan sebagainya. Pengejaran kepuasan serta kenikmatan pribadi ini mungkin saja mengambil bentuknya dalam kehidupan moral yang tinggi, suka menolong orang lain, menjadi seorang humanist, namun pada akar hatinya adalah mengejar kepuasan diri sendiri.

Daud berdoa kepada Tuhan agar ia diajar bahwa hidupnya memiliki sebuah akhir (Mazmur 39:5). Mengapa perlu diajar? Bukankah pengalaman dari sejarah, data empiris sudah dengan begitu gamblang menyatakan bahwa hidup manusia memang memiliki sebuah akhir? Adakah manusia yang begitu keras kepala menolak kenyataan bahwa hidup kita memang suatu saat akan berakhir? Tampaknya tidak banyak orang yang memiliki kenekadan seperti itu. Namun, sesungguhnya yang dimaksud oleh Daud adalah bahwa sekalipun manusia mengetahui bahwa hidupnya memiliki sebuah akhir, namun manusia menghidupinya seolah-olah tidak ada akhirnya. Tidak ada kepekaan akan waktu yang semakin singkat dalam hidup manusia. Dalam keadaan seperti inilah Daud memohon kepada Tuhan agar ia terus diajar bahwa hidupnya suatu saat akan berakhir. Waktu tidak selama-lamanya diberikan kepada manusia. Suatu saat ia harus mengakui, entah dengan rela atau tidak rela, bahwa ia adalah ciptaan yang terbatas, dan bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaannya sendiri, ia harus mempertanggung-jawabkan segala sesuatu yang telah dilakukannya selama hidupnya di hadapan Penciptanya. Tanpa pengertian ini (bukan sekedar pengetahuan!) manusia tidak mungkin memiliki tujuan hidup yang benar. Ia boleh memiliki tujuan hidup yang dianggapnya begitu pasti, dan mengejarnya dengan segala kekuatan self-determinasi, namun di hadapan Tuhan sesungguhnya semuanya hampa. Manusia melakukan hal-hal yang menimbulkan sesuatu yang tidak perlu, ia mengumpulkan dengan tidak mengetahui siapa yang kelak akan menikmatinya. Inilah paradoks hidup manusia yang hanya mengejar keuntungannya sendiri. Sesungguhnya, ia berjalan dalam kehidupan yang sangat tidak pasti!

Dalam kegalauan jiwanya, pemazmur belajar untuk tetap berharap kepada Tuhan (Mazmur 39: 8). Suatu pengharapan yang diteriakkan dari sebuah pengenalan diri serta kebutuhannya yang terdalam, yaitu agar Tuhan membebaskan dia dari segala dosa-dosanya. Kebanyakan manusia hidupnya tertekan karena sakit-penyakit, ekonomi tidak mapan, kurang berhasil dalam menjalin hubungan dengan sesama, study tidak lancar, masa depan tidak jelas dan lain sebagainya, namun berapa orang yang tertekan seperti Daud, menyadari bahwa problema terbesar dalam hidup manusia bukanlah hal-hal di atas, melainkan kehidupan yang berdosa. Berapa serius dosa di hadapan kita? Ini pertanyaan yang harus kita jawab!

Inilah cicipan kematian yang sesungguhnya: hidup dalam dosa. Para eksistensialist seringkali dikuasai oleh ketakutan untuk tidak lagi bereksistensi. Namun kita dapat memper-tanyakan “Apa itu eksistensi dan bagaimana bereksistensi?” Sesungguhnya ketika seseorang berbuat dosa, ia menghancurkan eksistensinya dalam pengertian yang paling dalam, karena eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang tidak mungkin tidak harus dikaitkan dengan hubungannya di hadapan Allah (entah hubungan dikasihi-mengasihi, atau menolak-dimurkai). Dengan berbuat dosa manusia merusak hubungannya dengan Allah. Semakin ia tidak suka berhubungan denganNya, semakin ia akan menghancurkan dirinya sendiri. Mari kita lihat dua pertanyaan pertama dalam Katekismus Heidelberg (1563) berbunyi demikian “Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?” Dijawab, “Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati (Rom 14:7-8.), bukan milikku (1Kor 6:19), melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia (1Kor 3:23). Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh utang dosaku (1Pet 1:18- 19) dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis (1Yoh 3:8b). Dia juga memelihara aku (Yoh 6:39), sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di sorga (Mat 10:30), bahkan segala sesuatu harus berguna untuk keselamatanku (Rom 8:28). Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang Kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal (2Ko 1:22), dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi kepada-Nya (Rom 8:14).” Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan kedua berbunyi,: ”Berapa pokok yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup dan mati dengan bahagia?” Dijawab,: “Tiga pokok (Maz 130:3-4). Pertama. betapa besarnya dosa dan sengsaraku (Rom 7:24-25). Kedua, bagaimana aku mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku (Mat 11:28). Ketiga, bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian itu (Kol 1:12.)”. Menjadi milik Allah (dan bukan milik sendiri) adalah penghiburan yang terbesar. Alangkah celakanya jika manusia justru berpikir sebaliknya! Perhatikan saja, di manakah ada manusia yang dengan segala keperkasaan yang ada padanya sanggup menguasai maut sehingga ia tidak harus mengalaminya? Jika tidak ada, mengapa banyak orang enggan untuk menyerahkan sepenuhnya hidupnya (dan bukan hanya kematian yang tidak sanggup dikuasainya). Ketidak-berdayaan manusia dalam menghadapi kematian sebenarnya hanya menyatakan hal yang sama terhadap kehidupan.

Biasanya orang-orang percaya didalam perjalanan hidupnya setiap waktu selalu merenungkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ia sendiri mati, sama seperti semua manusia yang lain, namun berbeda dari mereka semua, karena Ia sanggup mengalahkan kuasa kematian. Dan Ia berjanji untuk memberikan kehidupan yang kekal bagi mereka yang percaya dalam namaNya. Orang percaya akan tetap mengalami kematian (kecuali Tuhan telah datang kembali sebelum hari kematiannya). Namun ia tidak akan selama-lamanya binasa, bersama dengan Tuhan ia akan dibangkitkan untuk menerima kehidupan kekal di sorga. Dan bukan hanya itu, mereka yang percaya dalam namaNya juga diberi kuasa untuk hidup mati terhadap dosa, terhadap dunia, bahkan terhadap diri sendiri. Kematian ini adalah kematian yang menghidupkan. Sebaliknya, penolakan terhadap kematian ini akan membawa kepada kebinasaan kekal, kematian yang sesung-guhnya. Yesus Kristus mengatakan “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:24). Menyelamatkan hidup justru akan kehilangan hidup, sebaliknya mengorbankannya adalah menyelamatkannya.

Kematian Kristus memberikan kemungkinan kepada manusia untuk tidak hidup bagi dirinya sendiri. Sekalipun Ia tidak berdosa dan tidak harus mengalami maut, namun Ia rela mati karena dosa-dosa umat manusia. KematianNya merupakan penyataan puncak ketaatanNya yang sempurna kepada Allah, tidak ada suatu pun yang Dia pertahankan bagi diriNya sendiri. Ia telah menyerahkan segala sesuatu yang dapat diberikan, bahkan nyawaNya sendiri. Kematian inilah yang mendahului kebangkitan dan hidup.
Begitu banyak orang percaya yang kehidupannya tidak berada dalam kepenuhan kuasa kebangkitan, karena menolak kuasa kematian yang harus bekerja terlebih dahulu. Tanpa kematian terhadap diri kita sendiri, tidak ada gunanya untuk mengharapkan pekerjaan kuasaNya yang dahsyat. Pergumulan kita lebih merupakan pergumulan untuk suatu kehidupan yang menyangkal diri, daripada kehidupan yang mendapatkan kuasa Tuhan. Persekutuan dalam penderitaan Kristus, demikianlah yang terus dikejar oleh Paulus, dan dia tidak berpendapat telah mem-perolehnya, maksudnya perjalanan yang harus ditempuh masih merupakan suatu proses yang panjang, dia tidak berhenti bergumul untuk mengejar panggilan Tuhan. Saya percaya setiap orang yang membaca tulisan ini, atasnya Tuhan memiliki suatu rencana. Rencana itu tersembunyi, kita bahkan tidak berhak untuk mengetahuinya, namun ada satu hal yang kita boleh, bahkan harus mengetahuinya, yaitu bahwa Tuhan menghendaki kita untuk mati dan disalibkan bersama-sama dengan Dia, dengan demikian kita akan hidup bersama-sama dengan Dia kelak selama-lamanya Di sinilah letak kepenuhan hidup yang sesungguhnya. Karena itu sebelum perjalanan hidupmu berakhir, bagi Saudara yang belum percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatmu secara pribadi jangan tunggu lagi inilah waktunya akui segala dosamu dan percayakan hidupmu kepada Kristus, bagi Saudara yang sudah mengaku percaya mari tetap hidup taat, setia dan memberikan seluruh hidup kita bagi-Nya. Amin, Soli Deo Gloria..!!  

MENCARI TEMAN HIDUP

mencari temaN hidup
BY: fERNANDO TAMBUNAN
Topik berpacaran atau memilih jodoh adalah topik yang selalu enak untuk dibicarakan dan memang sangat penting sekali. Dan ini adalah hal yang sangat menentukan bagi perjalanan hidup seseorang untuk waktu-waktu yang selanjutnya dan ini bukan masalah yang gampang, sering kali banyak pasangan yang merasa keliru dengan memilih pasangannya.
 
Saya percaya bahwa Tuhan menyediakan keluarga kepada kita salah satu tujuannya adalah agar kita bisa mencicipi rasanya surga melalui keluarga kita itu. Dalam keluarga yang sehat yang penuh kasih dan hangat kita akan mendapatkan sukacita dan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh hal-hal lain. Saya percaya itulah nantinya surga, surga adalah sebuah ketenangan, kebahagiaan, sukacita, berada bersama dengan Tuhan. Jadi kalau saya boleh simpulkan terbalik dari yang saya katakan tadi kalau rumah tangga kita tidak bahagia, kita akhirnya sadari bahwa kita memilih orang yang keliru, keluarga kita itu benar-benar merupakan kebalikan dari surga yaitu neraka, sangat-sangat membakar, sangat-sangat tidak memberikan kita kedamaian. Maka topik ini saya kira topik yang penting sekali.

Berbicara tentang ‘Mencari Teman Hidup’ yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau jodoh yang dari Tuhan, mungkin kita akan bertanya kehendak Tuhan yang mana?
1) Kalau ‘kehendak’ dalam arti ‘rencana kekal dari Allah’, maka saya yakin bahwa setiap orang pasti menikahi jodohnya, karena rencana Allah tidak mungkin tidak terjadi.
2) Kalau ‘kehendak’ dalam arti ‘keinginan Tuhan’ atau ‘yang menyenangkan Tuhan’, maka ini belum tentu terjadi, karena manusia sering melakukan apa yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan, atau apa yang tidak menyenangkan Tuhan.
 
Yang dalam arti pertama bukan urusan kita, ‘karena kita tidak tahu rencana Allah bagi kita’ (Ul 29:29). Kita harus mencari jodoh yg sesuai dengan kehendak Tuhan, dalam arti yg kedua.
 
Ada beberapa konsep-konsep keliru yang sering mendasari pemikiran orang dan konsep-konsep ini akhirnya menjerumuskan orang ke dalam kegagalan pernikahan. Yang pertama adalah orang kadang beranggapan ‘oh Tuhan menunjukkannya kepadaku, Tuhan mengatakan dialah orangnya, dialah memang pasangan hidupku.’ Masalahnya adalah sering kali waktu kita berkata begitu kita mendasari kehendak Tuhan atas perasaan kita sendiri. Sering kali memang kita tertarik pada orang tersebut, kita seolah-olah hanyalah menggunakan nama Tuhan sebagai stempel. Yang kedua yang sering kali orang juga kemukakan dan keliru adalah orang berkata aku merasa damai dengan dia. Sekali lagi kedamaian juga bisa merupakan kerja dari perasaan kita belaka bukan benar-benar menemukan yang cocok, tapi kita menemukan yg sesuai dengan yang kita inginkan. Jadi karena kita menemukan yang sesuai dengan yang kita inginkan itu maka perasaan kita damai. Kita langsung berkesimpulan kalau merasa damai ini pasti adalah orang yang cocok untuk saya. Saya ingin menekankan di sini bahwa sesuai selera tidak berarti cocok itu dua hal berbeda. Jadi kedamaian tidak bisa juga digunakan sebagai ukuran. Ketiga konsep yang keliru adalah orang berkata oh kalau bertemu yang cocok pasti saya ketahui, dari mana tahunya ya pokoknya tahu saja. Masalahnya adalah kecocokan itu tidak terjadi pada pertemuan pertama, kecocokan harus dibuktikan melewati proses waktu yang panjang atas dasar pergaulan, persahabatan yang intens. Sehingga kita bisa melihat perbedaan dan bisa juga melihat kecocokan kita dan akhirnya kita bekerja keras untuk menyesuaikan diri, pada titik akhir barulah kita bisa berkata bahwa orang ini pas dengan saya. Sekali lagi kuncinya adalah proses waktu yang panjang. Jadi ketiga konsep ini acapkali berperan besar dalam proses penentuan pasangan hidup dan karena ini keliru, orang yang menggunakannya akhirnya terjebak ke dalam pernikahan yang tidak serasi.
 
Hal-hal yang harus dipikirkan dan ditaati dalam mencari jodoh yang sesuai kehendak Tuhan:

a) Ia harus orang yang seiman dengan kita.
2Kor 6:14 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”.

Kehendak Allah sebetulnya sangat-sangat spesifik yakni Tuhan meminta kita menikah dengan sesama orang percaya, itu yang Tuhan katakan lewat hamba-Nya Paulus. Kamu bebas menikah dengan siapapun, namun dengan sesama orang percaya. Jadi itu dicatat di 1 Korintus 7:39. Pertanyaannya kenapa Tuhan meminta kita menikah dengan orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sekurang-kurangnya ada tiga penjelasan, pertama kalau kita menikah dengan seseorang yang tidak seiman dengan kita, berarti tujuan hidupnya berubah, tdk sama,2 Korintus 5:15 berkata: Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka."

Jadi sebagai orang yang percaya pada Kristus tujuan hidup kita adalah satu kita hidup untuk Kristus. Nah kalau kita menikah dengan orang yang tidak seiman, sudah tentu dia tidak mempunyai tujuan itu. Status hidup juga berbeda, misalkan saya kutip dari 2 Korintus 5:17, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Ditekankan di sini siapa yang ada di dalam Kristus, dengan kata lain memang itu syarat, di dalam kristus baru kita memiliki hidup yang baru. Sudah tentu kalau kita menikah dengan seseorang yang tidak seiman dia tidak dalam Kristus. Jadi status hidupnya juga berbeda dengan kita, dia bukanlah ciptaan yang diperbarui oleh Tuhan Yesus. Dan yang ketiga kenapa Tuhan meminta kita menikah dengan yang sesama iman adalah substansi hidup juga berbeda kalau kita bersama dengan yang tidak seiman. Substansinya di dalam Kristus kita adalah terang, maka kita harus juga bersama dengan orang yang di dalam Kristus.

Pengertian sesama orang percaya, itu sering kali disempitkan hanya pokoknya dia anggota gereja, apakah itu bisa dibenarkan? Tentu tidak. Yang membuat seseorang masuk dalam kategori orang percaya, sudah tentu bukan saja berdasarkan pengakuan mulutnya, ‘saya orang Kristen’, sudah tentu itu harus ditunjukkan lewat perbuatannya, lewat kehidupannya. Jadi kita harus menilik buah-buah Kristiani dalam hidupnya, misalkan apakah dia orang yang memang sabar, penuh kemurahan, penuh kasih, nah itu buah-buah roh. Atau apakah dalam mengambil keputusan dia memikirkan, mempertimbangkan kehendak Tuhan, kalau dia mengaku dia orang Kristen tetapi dalam perbuatan dan pengambilan keputusan tidak menghiraukan kehendak Tuhan dia masuk dalam kategori dia bukan orang Kristen. Sangat sederhana sebab memang melalui buahnyalah kita itu dikenal. Jadi ukurannya sudah tentu bukan apa agama kita di KTP, atau dimanakah keanggotaan gereja kita , tapi pada buah iman yang nyata dalam kehidupan.

Sering kali orang juga berpikiran nanti kalau kami sudah menikah dia akan menjadi seiman dengan saya. Saran saya adalah sebelum menikah memang orang ini harus bergumul bersama dengan yang tidak seiman itu supaya yang tidak seiman bisa akhirnya sampai pada iman Kristiani tapi bukan karena ingin menikah, sudah tentu bukan karena desakan dan paksaan. Tapi memang dia sendiri yang mempelajari apa itu iman Kristiani dan akhirnya dia berkata saya mau menjadi pengikut Kristus. Dasar itulah yang kita bisa terima sebagai alasan orang itu memang sungguh-sungguh mau menjadi seorang Kristen. Perhatikan..!! Jangan sampai sekali lagi kita melegalkan segala cara demi pernikahan ini. Kita bisa mengubah status di mata manusia namun kita tidak bisa mengelabuhi Tuhan. Kalau memang kita tidak memiliki iman pada Tuhan sudah tentu Tuhan tahu. Jadi tidak bisalah kita itu mendustai Tuhan, Dia tahu apa yg sebenarnya ada di hati kita.

Penerapan:
Perhatikan beberapa kutipan dari buku Melody Green ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?’ di bawah ini sebagai penerapan.

Melody Green: “Artikel ini saya tujukan khusus untuk gadis-gadis Kristen, sebab dari pengalaman-pengalaman konseling, saya melihat wanitalah yang lebih sering melakukan kesalahan ini”
Melody Green: “Saya kira umumnya pernikahan didahului dengan berpacaran. Banyak orang Kristen yang terkecoh pada waktu taraf ini. Mereka rasa, tak salah untuk bergaul dengan orang-orang tak percaya asalkan ‘tak terlalu serius’. Mungkin mereka pikir, ‘Satu atau dua kali kencan tak akan menyakiti seorang pun. Disamping itu mungkin saya dapat membimbingnya kepada Tuhan. Saya sekedar bersenang-senang saja, bila sudah saatnya nanti saya pasti menikah dengan seorang Kristen’. Lalu, lihat dan perhatikan, tahu-tahu mereka telah ‘terperangkap cinta’, dan mereka berusaha mati-matian untuk membenarkan hubungan (pernikahan) yang akan dilakukan terhadap diri sendiri, terhadap teman-teman mereka, dan terhadap Tuhan. Saya berkata - orang Kristen yang cukup tolol untuk berkencan dengan orang yang tak percaya akan cukup tolol pula untuk menikahinya”
Melody Green: “Menikah adalah keputusan terpenting dan terbesar yang Anda buat setelah kebutusan untuk mengikuti Yesus”

Melody Green: “pernikahan didahului dengan ‘kencan pertama’. Salah satu problem utama ialah banyak orang Kristen yang bersikap menyepelekan hal ini. ... Meskipun kadang-kadang tak berlanjut, tapi ingatlah, tiap kencan memiliki potensi untuk menjadi hubungan seumur hidup. Meluangkan waktu dengan orang yang salah berarti membuka diri untuk terlibat secara emosional menuju suatu titik dimana sulit untuk mundur maupun maju. Sekali saja Anda memberikan hati dan perasaan Anda pada seseorang, Anda akan terkejut bila menyadari betapa sulit untuk melepaskannya - meskipun Anda tahu harus melepaskannya” –

Melody Green: “Banyak gadis yang tak menyadari, jika mereka tak cukup kuat menahan godaan untuk menikah dengan orang tak percaya, pasti mereka tak cukup kuat pula untuk memenangkan suaminya bagi Tuhan”

Melody Green: “Acap kali untuk menikahi seorang gadis Kristen, ada pemuda yang ‘bertobat’, sebab ia sadar harus melakukannya demi gadisnya. ... Saya tak pernah mempercayai ‘pertobatan’ semacam itu dan saya selalu mengatakan pada gadis-gadis yang konseling dengan saya, agar membiarkan pacar mereka membuktikan terlebih dahulu pertobatannya. ... Masalahnya ialah, banyak gadis yang tak sabar untuk menguji buah-buah si pemuda. Segera setelah melihat ‘sang jodoh’ mengucapkan doa penyesalan, sang gadis mulai menyiapkan pakaian pengantinnya”

b) Ia haruslah orang yang cocok dengan kita, orang dengan siapa kita bisa ‘enjoy being together’ (= menikmati kebersamaan).
 
Jangan karena ia sudah memenuhi syarat pertama di atas, yaitu ia adalah orang Kristen, maka saudara cepat-cepat mau menikahinya. Dengan sesama saudara seimanpun, kalau tak cocok, maka akan terjadi ‘bencana’.
 
Tugas kita mencari pasangan hidup yang cocok dan dapat saling tolong-menolong dengan kita. Dengan kata lain apakah relasi kita cocok atau tidak, itu menjadi pertanyaan yang harus kita jawab. Intinya adalah cocok atau tidak, cocok bukan berarti sama, cocok berarti meskipun berbeda namun pertama-tama saling menerima perbedaan itu. Dan kedua meskipun berbeda bukan saja saling menerima namun bisa saling mengimbangi, menghargai perbedaan itu, dan mengimbanginya. Sehingga akhirnya perbedaan itu tidak menjadi duri yang saling menusuk, malahan saling menolong. Artinya apa, kita menjadi orang yang lebih baik dengan kehadiran pasangan kita sudah tentu ini harus dua arah, sebab saya juga bertemu dengan kasus seperti ini yg satu berkata saya menjadi orang yg lebih baik, karena pasangan saya terus-menerus menolong saya, namun pasangan ini justru menjadi manusia yg lebih buruk. Karena dia tdk mendapatkan pertolongan sama sekali, jadi hanya searah saja pertolongan itu. Tidak bisa, pertolongan atau saling menolong harus dua arah.

Jadi melalui pernikahan nantinya diharapkan bahwa dua pribadi ini sama-sama bertumbuh, dan salah satu tanda/kriteria, apakah pernikahan ini atau pasangan ini pasangan yang serasi adalah mereka bertumbuh, mereka menjadi orang-orang yang lebih baik karena adanya unsur saling tolong itu. Yang menolong menjadi lebih baik karena dia mendapatkan pertolongan juga dari yg ditolongnya itu. Di situlah kita melihat kecocokan, kadang-kadang kita melihat orang yg tidak cocok, tidak saling tolong malah saling menghancurkan, namun terlanjur suka nah itu yang kadang-kadang terjadi. Terlanjur cinta, tergila-gila tidak bisa melepaskan orang itu dari pikirannya tapi tidak cocok sebetulnya. Relasi mereka penuh pertengkaran karena tidak saling menolong malah saling menusuk sudah tentu meskipun sukanya besar tetap ukurannya adalah bahwa ini tidak cocok.

Prinsip berikutnya adalah saya ambil dari 1 Kor 7:49 , silakan mencari yang sesuai dengan selera, jangan hanya mencari yang sesuai dengan misalkan harapan dari orang tua kita, kita yang harus hidup dengan dia jadi setelah seiman dengan dia itu kriteria yang paling dasar setelah seiman ukuran berikutnya adalah cocok atau tidak, setelah cocok atau tidak kita juga harus bertanya sesuai selera kita atau tidak, sesuai dengan tipe yang kita idamkan atau tidak. Ini penting jangan sampai kita menikah dengan orang yang kita katakan aduh.....!!! cocok dengan saya, orangnya rohani cinta Tuhan, tapi kita tidak suka melihat dia, wajahnya tidak kita sukai, penampilannya tidak kita sukai, ya repot, kita harus hidup serumah dengan dia bagaimanakah bisa hidup serumah dengan dia dalam kondisi seperti itu. Jadi untuk bisa mendirikan pernikahan yang kokoh kita harus menampakkan kecocokan di dalam semua aspek kehidupan bukan hanya kerohanian, kerohanian salah satu aspek, tapi bukan satu-satunya aspek. Selanjutnya tugas kita adalah meminta pimpinan Tuhan, Di dalam Kejadian 24:12, ini adalah doa Eliezer kepada Tuhan, lalu berkatalah ia: "Tuhan, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham." Ini doa seorang hamba yang ditugaskan Abraham mencari jodoh untuk anaknya Ishak, dia berdoa kepada Tuhan meminta Tuhan menunjukkan jalan.Inilah doa kita sebagai orang percaya setiap tahap dalam pertemuan, perjumpaan, pembinaan relasi minta pimpinan Tuhan kalau lebih banyak tidak cocoknya jangan, lebih banyak pertengkarannya jangan, tidak ada saling tolong-menolongnya jangan.

c) Harus ada saling cinta.

Ef 5:25 - “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya”.
Tit 2:3-4 - “(3) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik (4) dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya”.

Kidung 4:9 -“Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu”.

Adanya rasa berdebar-debar dsb menunjukkan bahwa ini adalah cinta asmara.
 
Kalau point c dan b tadi ada, maka pasti ada rasa kangen kalau tidak bertemu sang pacar. Bdk. Kidung 3:1-4 - “(1) Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. (2) Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. (3) Aku ditemui peronda-peronda kota. ‘Apakah kamu melihat jantung hatiku?’ (4) Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku”.

Menurut saya rasa kangen seperti ini adalah salah satu tolak ukur. Kalau rasa kangen itu tak ada, jangan menikah dengan orang tersebut.

Sekalipun saudara mendapatkan orang yang memenuhi semua ini, jangan berharap bahwa kehidupan pernikahan saudara nanti akan mulus dan lancar. Selalu bisa muncul problem, bahkan yang besar, pada saat kita mengikuti Tuhan, juga dalam pernikahan. -AMIN-

Sumber :
1. Pdt. Paul Gunadi,PhD., “Mencari Pasangan Hidup” Tegur Sapa Gembala Keluarga, Malang
2. Pdt. Budi Asali M.Div., “ Tulang Rusuk”, GKRI Exodus
3. Melody Green, ‘Mencari Pasangan Hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?