Welcome

Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Dapat Binasa....!!!
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, 14 July 2011

Riwayat Hidup Sumi San


GADIS PEJUANG IMAN
(Riwayat Hidup Sumi San dari Negeri Jepang)


  Sumi San dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, ayahnya seorang   pedagang pipa air, sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga   biasa. Semasa remaja, ia harus hidup berkekurangan karena ayahnya   mengalami kerugian besar dalam berdagang. Dampaknya, orang tua Sumi   harus menanggung utang yang tidak sedikit jumlahnya. Demi membantu   meringankan beban orang tuanya, Sumi meninggalkan kampung halamannya   dan bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Kobe. Tidak ada waktu   baginya untuk memikirkan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Waktunya   ia habiskan untuk bekerja dan belajar. Semangat dan kemauan yang   begitu kuat menyebabkan ia tidak memedulikan kondisi kesehatannya.   Tanpa disadari, ia menderita penyakit bronkitis dan beri-beri yang   menyebabkan ia harus dirawat di sebuah rumah sakit selama tiga   bulan. Setelah sembuh dari sakitnya, ia dikeluarkan dari   pekerjaannya. Hal ini membuatnya sangat sedih karena pekerjaan   tersebut sangat ia butuhkan dan merupakan satu-satunya cara agar ia   dapat membantu meringankan beban orang tuanya.

  Sumi pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Funo.   Persoalan utama baginya saat ini adalah bagaimana ia dapat membantu   orang tuanya dalam hal keuangan. Akhirnya, ia memutuskan untuk   mendaftar ke sebuah sekolah perawat di Hiroshima. Berkat ketekunan   dan kesabarannya, ia diterima di sekolah tersebut, bahkan mendapat   beasiswa sehingga ia tidak perlu menanggung semua biaya sekolahnya.
  Berkat semangat dan kesabarannya pula, Sumi mampu menyelesaikan   pendidikannya dengan nilai yang sangat memuaskan dan mendapat   kesempatan bekerja pada sebuah rumah sakit.

  Namun di tengah kebahagiaannya, ia mendapat kabar bahwa ibunya   meninggal karena sakit. Masalah tidak berhenti sampai di situ. Ia   dihadapkan pada persoalan baru -- siapakah yang akan menggantikan   ibunya mengurus rumah tangga? Sebagai anak tertua, Sumi sadar bahwa   dialah yang akan melaksanakan tugas tersebut. Sungguh bukan hal   mudah baginya. Namun, ia dan ayahnya yakin bahwa mereka dapat   mengatasi kesulitan yang sedang terjadi dan segalanya pasti akan   kembali normal dengan bantuan dewa Hotoke San. Sumi dan keluarganya  adalah penganut agama Budha. Prinsip hidupnya didasarkan pada ajaran  tersebut, yaitu bahwa "hidup hanyalah soal nasib semata, biarpun   manusia dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban hidupnya".  Sumi dibesarkan dalam ajaran ini dan ia menyerahkan hidupnya pada  nasib. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah yang  terjadi dalam hidupnya dan berharap mudah-mudahan nasib baik akan  menghampirinya pada masa yang akan datang.

  Di samping mengurus rumah tangga, Sumi juga terus memerdalam  pengetahuan keperawatannya. Ia berharap suatu hari nanti dapat  bekerja pada sebuah distrik dengan penghasilan yang jauh lebih besar  daripada penghasilan bekerja di rumah sakit. Nasib baik nampaknya  berpihak pada Sumi, ia diterima sebagai perawat di Badan Kesehatan   Distrik di bagian timur Kobe. Suatu hari, Sumi mendapat tugas baru.  Ia ditugaskan merawat Machan, putra tunggal keluarga Komatsu yang  menderita bisul pada kakinya. Tugas tesebut mengharuskannya untuk  datang setiap hari ke rumah Machan. Kedatangan Sumi selalu disambut  gembira oleh Machan, mereka berdua benar-benar telah menjadi  sahabat. Namun secara diam-diam, Komatsu, ayah Machan, menaruh  perhatian khusus kepada Sumi. Sumi mengetahui hal tersebut, dan  karenanya ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan  Komatsu, mengingat Komatsu sudah memiliki istri.

  Setelah mendapatan perawatan yang intensif, kaki Machan benar-benar  sembuh. Di akhir kunjungannya, Sumi mendapatkan sebuah kado dari  Machan. Tidak hanya itu, Komatsu juga memberikan sebuah bungkusan  kecil sebagai tanda terima kasihnya kepada Sumi yang telah merawat  Machan. Dari bungkusan kecil tersebut, Sumi tahu bahwa tanda terima  kasih tersebut adalah uang. Sumi menolak pemberian tersebut dengan  alasan pihak rumah sakit telah menggajinya atas tugas tersebut.  Tidak hanya itu, Komatsu juga meminta Sumi untuk sesekali bertemu  dan berbincang-bincang dengannya. Karena terus didesak dan merasa  telah berutang budi pada pihak keluarga Komatsu (dalam budaya  Jepang, suatu utang harus dilunasi secara penuh dan tidak boleh  kurang suatu apa pun), akhirnya Sumi menerima bungkusan tersebut  (bungkusan berisi uang seratus yen, lebih banyak dari jumlah gajinya  selama dua bulan) dan berjanji sesekali akan menemui Komatsu hanya  untuk berbincang-bincang sebagai seorang teman.

  Tawaran Komatsu yang telah diterimanya ternyata membuat Sumi merasa  tidak nyaman. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kobe dan mencari  pekerjaan di tempat lain. Sumi mencoba melamar ke beberapa tempat  dan ia diterima bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Tokyo. Ia  merasa lega, pikirnya ia akan terbebas dari persoalan tersebut.  Namun setelah setahun bekerja di Tokyo, tiba-tiba ia mendapat  kunjungan dari seseorang. Ya, orang tersebut adalah Komatsu. Tentu  saja kunjungan Komatsu membuatnya sangat terkejut. Apa sebenarnya  tujuan Komatsu berkunjung ke Tokyo? Apakah hanya sekadar untuk  menemuinya? Tujuan Komatsu menemui Sumi adalah untuk menjodohkannya  dengan Jiro, adik kandungnya. Dan tanpa sepengetahuan Sumi, ternyata  Komatsu telah terlebih dahulu menemui keluarga Sumi di Funo untuk  membicarakan rencana tersebut, dan pihak keluarga pun menyetujuinya.

  Sumi memang merindukan sebuah rumah tangga sebagaimana layaknya  seorang wanita, namun bukan dengan Jiro, karena sebenarnya Sumi  mencintai Katzuo, pemuda asal Funo yang sedang ditugaskan di Cina  sebagai seorang prajurit. Hingga saat ini, Sumi tidak pernah  mengetahui dengan pasti kabar maupun keberadaan Katzuo, namun Sumi  yakin Katzuo akan kembali ke Funo karena bagaimanapun mereka pernah  berjanji akan membawa hubungan tersebut sampai ke pernikahan. Sumi  menolak tawaran Komatsu, namun Komatsu tidak kehabisan akal,  Komatsu berencana mengajukan Sumi ke pengadilan atas tuduhan Sumi  telah berutang kepada keluarga Komatsu dan tidak mampu  membayarnya, jika Sumi menolak tawaran Komatsu untuk menikah dengan  adiknya. Akhirnya dengan berat hati, Sumi menerima tawaran tersebut.

  Pernikahan Sumi dan Jiro pun berlangsung menurut cara dan adat  Jepang. Sumi pun resmi menjadi istri Jiro. Selama resepsi  berlangsung, Jiro hanya diam saja. Namun setelah meminum sake, ia  tertawa dan berteriak-teriak layaknya orang gila, sehingga para tamu  menjadi sangsi apakah ia benar-benar waras. Selama mengarungi rumah  tangga bersama Jiro, hampir setiap malam Jiro tidak berada di rumah,  ia pergi ke tempat hiburan malam dan menghabiskan sepanjang malam  dengan minuman keras dan wanita. Sumi tinggal sendirian di rumah,  rasa sepi mulai menghampirinya dan ia bertekad untuk mengakhiri  penderitaannya dengan bunuh diri. Namun, pikiran tersebut segera  dibuangnya jauh-jauh ketika ia mengingat utang ayahnya yang belum  lunas.

  Pada suatu malam, Komatsu berkunjung ke rumah Sumi untuk menjalankan  rencana yang telah ia rencanakan dengan matang. Komatsu tidak pernah  memikirkan kebahagiaan Jiro maupun Sumi. Ia melakukannya agar Sumi  berada di sampingnya dan untuk kepuasan dirinya saja. Ia tahu Jiro  tidak pernah berada di rumah. Ia berusaha merayu Sumi. Tidak hanya  itu, Komatsu juga menggunakan kekerasan. Tetapi Sumi melawan dan  berteriak dengan sekuat tenaga sehingga teriakannya sampai terdengar  oleh kakak laki-laki Komatsu yang tinggal tidak jauh dari rumah  Sumi. Sumi menceritakan apa yang telah dialaminya kepada kakak  iparnya. Kakak Komatsu menaruh rasa iba kepada Sumi dan berjanji  akan mencarikan tempat yang aman baginya. Pagi harinya, mereka  berdua pergi ke suatu tempat yang telah dijanjikannya. Mereka pergi  ke sebuah rumah di dekat pantai. Rumah tersebut adalah milik Yamada  -- teman kakak Komatsu. Yamada adalah seorang janda yang suaminya  telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sumi merasa aman berada di  rumah Yamada dan karena itulah Sumi tidak segan untuk menceritakan  pengalaman pahitnya kepada Yamada.

  Yamada memperkenalkan Sumi kepada Koide. Ia adalah seorang Kristen  dan Koide mulai menceritakan kasih Kristus kepada Sumi. Meskipun  hati Sumi sudah dipenuhi oleh kebencian dan dendam, tetapi Yamada  dan Koide tidak menyerah. Mereka berdua terus menceritakan kasih  Allah dan mengajaknya ke gereja. Pada awalnya Sumi menolak, namun  setelah dipikirkannya, ia berpendapat apa salahnya apabila ia  memenuhi ajakan Koide. Sumi tidak tertarik pada khotbah yang  disampaikan dalam kebaktian tersebut karena khotbah yang disampaikan  malam itu mengenai kasih Allah kepada manusia. Karena pengalaman  hidupnya, maka ia meragukan ajaran tersebut. Namun Koide tidak  menyerah, ia terus mengajak Sumi mengikuti kebaktian yang setiap  minggu diadakan oleh Pendeta Honda di gereja. Sumi menjadi  pengunjung tetap, tapi ia belum bersedia menyerahkan hidupnya kepada  Kristus. Seusai kebaktian, pendeta Honda menghampiri Sumi dan  bertanya kepadanya mengapa ia tidak mau percaya kepada Kristus. Sumi  menjawab bahwa ia akan percaya jika pendeta Honda mampu  memerlihatkan Tuhan kepadanya. Malam itu, pendeta Honda dan Koide  mendoakan Sumi. Dan Tuhan menjamah hatinya, ia bersedia mengampuni  orang-orang yang telah menyakitinya dan menyerahkan hidupnya kepada  Kristus.

  Dua tahun kemudian terjadi perang pasifik. Rumah Sumi tak luput dari  keganasan perang tersebut -- semuanya hancur. Ia tidak memunyai  rumah lagi, jalan satu-satunya adalah kembali ke Funo dan tinggal di  sana sampai perang berakhir. Sumi berangkat menuju kampungnya dengan  menggunakan kereta api, perjalanan tersebut cukup melelahkan. Sumi  tiba di desa Sawadani. Ketika ia sedang menunggu bis yang menuju  Funo, seorang pria mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang.  Pria tersebut menawarkan kepada Sumi untuk menjadi perawat di  Sawadani, mengingat tidak ada perawat di tempat itu saat ini. Sumi  pun menerima tawaran tersebut.

  Pasien pertamanya adalah seorang ibu yang akan melahirkan. Ini  adalah kelahiran anaknya yang ketiga. Kedua anaknya yang terdahulu  meninggal selama proses persalinan dan ia sangat takut jika anaknya  yang ketiga akan lahir dengan kondisi yang sama. Sumi memanfaatkan  waktu tersebut untuk menceritakan kasih Allah kepadanya dan berdoa  baginya. Persalinan berjalan dengan lancar dan anaknya dapat lahir  dengan selamat. Setiap hari, semakin banyak pasien yang harus  ditanganinya. Sumi tidak hanya merawat pasien-pasiennya, tetapi ia  juga memberikan hiburan, semangat, dan mendoakan mereka. Namun, ada  satu hal yang mengusik hatinya. Sebagai bidan, ia tahu bahwa banyak  anak yang lahir di luar pernikahan. Penduduk setempat menganggap hal
  itu sebagai hal yang biasa. Namun, Sumi tahu bahwa hal tersebut  merupakan dosa. Ia tahu bahwa jalan keluar atas masalah ini adalah  dengan menyampaikan ajaran Kristus. Sumi semakin yakin bahwa Tuhan  menempatkannya di Sawadani untuk menyampaikan Kabar Baik kepada  penduduk setempat. Tapi ia tahu, ia tidak dapat melaksanakannya  sendirian. Ia tidak memiliki pendidikan khusus, namun ia berdoa agar  Tuhan membimbingnya untuk menanamkan nilai-nilai Kristen di  Sawadani.

  Tiga tahun setelah perang berakhir, tepatnya pada tahun 1948,  Pendeta Honda membangun kembali pelayanannya -- menceritakan Kabar  Baik. Suatu hari, ia mendapat surat dari Sumi yang memintanya datang  ke Sawadani. Namun, ia tidak dapat memenuhi permintaan Sumi. Ia  menyarankan agar Sumi menemui Pendeta Hashimoto. Pendeta Hashimoto  bukan orang asing bagi Sumi, ia sering memimpin kebaktian yang  sering dikunjungi Sumi ketika berada di Kobe. Pendeta Hashimoto  memenuhi permintaan Sumi meskipun pada saat itu kondisinya tidak  terlalu sehat untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga mengajak  Koide ke Sawadani. Kebaktian dimulai pukul tujuh malam. Jumlah orang  yang menghadiri kekebaktian tersebut sungguh di luar dugaan -- lebih  dari empat puluh orang. Pada hari kedua, orang yang datang jumlahnya  lebih banyak dari sebelumnya. Apa yang diharapkan Sumi terjadi pada  hari ketiga -- beberapa penduduk memutuskan untuk mengikut Kristus  dan dibaptis. Di antara orang-orang yang akan di baptis, ada seorang  pria bernama Sugimoto -- dialah yang menjadi motor penggerak  pertumbuhan orang Kristen di Sawadani. Kejadian ini membuat Sumi  bahagia. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, Sumi dinyatakan  positif mengidap kanker payudara. Penyakit tersebut tidak membuat  imannya goyah. Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Karena  pertumbuhan orang Kristen yang luar biasa, mau tidak mau menimbulkan  sebuah tantangan baru.

  Suatu sore, Pendeta Hashimoto didatangi orang yang tidak ia kenal.  Orang tersebut adalah seorang pendeta Budha. Kunjungan tersebut  merupakan awal usaha menghalangi upaya penginjilan di Sawadani. Para  pendeta Budha memiliki pengaruh yang cukup besar di Sawadani. Mereka  memaksa agar setiap orang tua melarang anak-anak mereka untuk pergi  ke gereja. Hal ini membuat Sumi sangat sedih. Namun, pekerjaan Tuhan  tidak dapat dihancurkan oleh tangan manusia. Larangan para orang tua  tidak menyebabkan anak-anak mereka meninggalkan gereja. Meskipun  harus pergi ke gereja secara sembunyi-sembunyi, namun mereka tidak  takut menyaksikan Kristus kepada penduduk yang belum percaya.

  Pada tanggal 24 Mei 1949, Sumi menjalani operasi di sebuah rumah  sakit di Hamada. Penyakitnya bertambah parah dan menurut dokter  tidak ada harapan baginya untuk sembuh. Kabar tersebut tidak membuat  Sumi putus asa. Ia tetap bersemangat dan percaya kepada Yesus.  Sikapnya itu membuat setiap orang yang berada di rumah sakit menjadi  heran. Akibatnya, banyak pasien yang mampu berjalan, datang ke kamar  Sumi dan berbincang-bincang dengannya. Sumi menyaksikan Kristus  kepada mereka dan Injil pun tersebar di rumah sakit tersebut. Suatu  keajaiban terjadi di Hamada. Sumi yang sedang sakit parah membawa  tiga puluh orang yang belum percaya datang kepada Kristus. Beberapa  di antara mereka menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu dan meneruskan  apa yang telah dimulai oleh Sumi dari tempat tidurnya di rumah  sakit.

  Pada musim panas 1949, Sumi kembali ke Sawadani. Ia disambut hangat  oleh teman-temannya sesama Kristen. Ia akan tinggal di Sawadani  untuk mengabarkan Injil. Satu kerinduannya adalah memunyai gedung  gereja sendiri dan usul ini disetujui oleh setiap anggota. Untuk  mewujudkan hal tersebut, ia menyumbangkan delapan ribu yen guna  meyokong pembangunan gedung gereja. Meskipun para pendeta Budha  berusaha menghalangi upaya tersebut, namun pembangunan gereja itu  terus berjalan. Tahun 1951, segala keperluan untuk membangun gereja  telah tersedia dan pembangunan gereja segera dilaksanakan. Gereja  tersebut dibangun di atas bukit sehingga dapat terlihat dari  berbagai penjuru.

  Pada bulan Oktober 1952, Sumi mendapat pekerjaan sebagai perawat di  Oyama. Di tempat barunya ini, Sumi tetap bersaksi bahwa Kristus  datang untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Setelah enam bulan  berada di Oyama, penyakitnya kambuh kembali dan sel kankernya telah  menyebar, bahkan menyerang organ tubuhnya yang lain. Namun,  penyakitnya tidak mematahkan semangatnya untuk tetap memberitakan  Injil. Pada bulan April 1953, Sumi mendapatkan perawatan di rumah  sakit -- penyakitnya sudah sangat parah. Tidak ada harapan baginya  untuk sembuh. Tekanan darahnya turun secara drastis dan daya tahan  tubuhnya semakin menurun. Berkat perawatan yang intensif, kondisi  Sumi mulai membaik dan ia diizinkan pulang. Pada tanggal 1 September  1953, Sumi menghadiri peresmian gereja di Sawadani dan ia bersyukur  karena akhirnya mereka memiliki gereja sendiri. Kondisi kesehatan   Sumi semakin memburuk. Kanker tersebut telah menjalar sampai ke  wajahnya, kerongkongannya membesar sehingga ia mengalami kesulitan  bernapas. Dokter pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa.

  Pada suatu malam, tepatnya di bulan Desember, Sumi bergumul dengan  rasa sakitnya, napasnya seolah terhenti. Dengan tersenyum, ia  menutup matanya perlahan-lahan, pergi meninggalkan dunia yang fana  ini menuju ke rumah Bapa. Beberapa hari kemudian, ia dikuburkan di  lereng bukit -- menghadap ke arah gereja di Sawadani. Upacara  penguburan tersebut dihadiri oleh banyak orang. Di antara mereka,  hadir pula para pemuka desa Sawadani untuk memberikan penghormatan  dan penghargaan atas apa yang telah Sumi lakukan untuk Sawadani.  Sumi telah tiada, namun kematiannya membuktikan adanya kemenangan   dari Kristus -- adanya harapan menuju kehidupan kekal. Sungguh, di  sebuah desa di pegunungan Jepang telah dibangun gereja Tuhan. Telah  tiba waktunya dan nyata, bahwa yang telah dilakukan oleh Sumi di  Sawadani adalah "rumah emas, perak, batu yang indah" yang akan tetap  tinggal sampai selama-lamanya.

  Diringkas dari:
  Judul buku: Gadis Pejuang Iman
  Judul asli buku: Upon This Rock
  Penulis: Eric Gosden
  Penerjemah: Barus Siregar
  Penerbit: Badan Penerbit Kristen, 1965
  Halaman: 5 -- 88

D. L. MOODY

D. L. MOODY
UTUSAN INJIL TERBESAR ABAD XIX 

D. L. Moody lahir tanggal 5 Februari 1837 di Northfield, Massachusetts. Ayahnya, Edwin Moody adalah seorang tukang batu, sedangkan ibunya, Betsey Holtom berasal dari kaum alim Purilastan. Pada 28 Mei 1841, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa bekerja keras mengasuh tujuh orang anaknya.

Tiap pagi, Betsey Holtom selalu membacakan Alkitab untuk anak-anaknya, dan pada hari Minggu mengajak mereka pergi ke gereja Unitaris. D. L. Moody tidak suka pergi ke gereja karena ia tidak dapat memahami apa yang dikhotbahkan. Ia lebih suka bepergian dan bersuka ria. Setelah dibaptis, ibunya mendesak agar ia belajar berdoa. Ia mencoba, tetapi merasa sia-sia saja. Setelah dewasa, D. L. Moody bertekad belajar sebanyak-banyaknya sambil bekerja. Mula-mula ia bekerja di toko buku dan alat-alat tulis, tetapi ia tidak puas dan pergi menemui pamannya di Boston. Pamannya setuju menerimanya dengan syarat ia harus ke gereja Mount Vernon, tidak minum minuman keras, dan tidak berjudi. Karena kecerdasan dan keramahannya, disertai rasa humor, ia segera menjadi penjual yang sukses. Saat ke gereja, ia lebih suka duduk di sudut gereja yang gelap dan sering kali ia tertidur karena penat bekerja.

Suatu hari, Edward Kimball, gurunya, menyampaikan pelajaran mengenai Musa. D. L. Moody mendengarkan dengan terpesona. Beberapa minggu kemudian, Edward Kimball memberinya Alkitab sambil memberitahu pelajaran yang diambil dari kitab Yohanes. D. L. Moody mengambil Alkitab itu dan mencarinya dengan membuka kitab Kejadian. Guru itu melihat bahwa murid-murid yang lain tersenyum-senyum dan saling menyikut satu sama lain. Ia segera menyerahkan Alkitabnya kepada D. L. Moody dalam posisi terbuka dengan ayat yang tepat. Ia merasa malu, dan hari Minggu depannya ia tidak hadir. Gurunya segera mencari dan memintanya untuk datang kembali. Tanggal 21 April 1855, Edward Kimball merasa saatnya telah tiba untuk berbicara mengenai Kristus kepada D. L. Moody. Dan saat itu juga, ia bertobat. Setelah itu, D. L. Moody bergegas kembali ke rumahnya di Northfield dan memberikan kesaksian imannya kepada saudara-saudaranya. Namun, mereka tidak menanggapinya, dan ia kembali ke Boston dengan kecewa. Ia sering kali putus asa ketika ia ingin menjadi anggota gereja Mount Vernon. Panitia keanggotaan gereja selalu mengulur waktu karena tidak yakin bahwa ia sungguh-sungguh bertobat. Walaupun demikian, ia tetap bersemangat berbicara di persekutuan doa. Tanggal 20 September 1856, ia pindah ke Chicago dan mendapat pekerjaan di toko sepatu Wiswall. Pada hari minggu, ia pergi beribadah di First Baptist Church. Di gereja ini, ia bertemu dengan calon istrinya. Pada waktu itu, ia menjadi anggota the Young Men's Mission Band of the First Methodist Episcopal. Tujuan organisasi ini adalah mengunjungi hotel dan asrama, serta membagikan brosur dan mengajak orang hadir dalam kebaktian.

Dalam musim gugur tahun 1858, ia mulai membuka sekolah minggu sendiri. Ia mendapat persetujuan dari walikota untuk memakai North Market Hall sebagai tempat ia membina anak-anak. Pada tahun 1860, ia meninggalkan usaha dagangnya dan memfokuskan diri pada pelayanan, padahal pada saat bekerja ia mendapat 5000 dolar -- jumlah uang yang cukup besar pada saat itu. Tahun pertama menjadi pekerja Kristen ia hanya mendapat 300 dolar, namun ia yakin akan pemeliharaan Tuhan. Di bawah pimpinannya, sekolah minggu dan YMCA (Persatuan Pemuda Kristen, hasil dari kebangunan rohani dari tahun 1857-1858) berkembang pesat. Kemudian, ia mendirikan gereja dan diresmikan pada awal tahun 1864. Gerejanya menjadi gereja yang berkembang dan paling giat di kota tersebut. Pada masa Perang Saudara di Amerika, ia mendukung penghapusan budak dan ia mulai melayani para tentara. Ia dicintai para prajurit karena usahanya yang tidak mementingkan diri sendiri dan sangat memerhatikan para prajurit. Pada tanggal 22 Februari 1867, D. L. Moody dan istrinya berangkat ke Inggris, ia ingin menjumpai Spurgeon, seorang pengkhotbah terkenal. Setelah mengadakan pembicaraan dengan Spurgeon, ia mengunjungi Bristol melihat panti asuhan yang didirikan oleh George Muller. Ia juga pergi ke Edinburgh dan mendapat kesempatan berpidato di Free Assembly Hall. Ia juga sempat mengunjungi Dublin. Di sini, ia bertemu dengan Harry Moorehouse, seorang pemuda yang sangat mengesankan hati D. L. Moody.

Karena kefasihan Moorehouse dalam menguraikan firman Tuhan. D. L. Moody menjadi lebih rajin mempelajari Alkitab. Saat ada pameran di Paris, ia berkunjung ke sana bersama istrinya dan ia berkhotbah beberapa kali di Paris. Tahun 1870, saat Rapat Pemuda Kristen Sedunia (Internasional Convention of the Young Men's Christian Association), ia bertemu dengan Ira D. Sankey, yang kelak akan menjadi mitra utama Moody dalam pekerjaan pekabaran Injil. Ira D. Sankey memunyai talenta memuji Tuhan. Tanggal 8 Oktober, terjadi kebakaran hebat di Chicago yang menghanguskan Farwell Hall dan Illinois Street Church. Saat itu D. L. Moody sedang mengalami pergumulan rohani berkaitan dengan kuasa Roh Kudus. Setelah membawa istri dan keluarganya ke tempat yang aman, ia bergegas mencari bantuan ke bagian timur negara dan terkumpul $3.000. Dengan dana tersebut, segera dibangun gereja darurat dan diresmikan sebagai North Side Tabernacle. Tidak lama kemudian, ia mengalami urapan Roh Kudus. Chicago mengalami kebangunan rohani yang besar. Pada bulan Juni 1872, ia pergi ke Inggris untuk kedua kalinya karena ingin memperdalam pengetahuan tentang Alkitab.

Semula ia berniat menghindari pelayanan berkhotbah, tetapi atas permintaan seorang pendeta, akhirnya ia menyanggupi untuk berkhotbah di Old Balley. Terjadi kebangunan rohani di gereja tersebut, beratus-ratus orang bertobat. Setelah ke Dublin, ia kembali ke Old Balley dan mengadakan kebaktian selama 10 hari. Setelah tiga bulan, ia kembali ke Amerika, dan setahun kemudian ia kembali ke Inggris memimpin kebaktian selama 5 minggu di York. Di sini ratusan orang bertobat. Kemudian tim penginjilan ini melanjutkan perjalanan ke Sunderland dan New Castle-On-Tync. Hasil kebangunan rohani ini terdengar sampai ke Edinburgh. Para pendeta kemudian mengundang D. L. Moody untuk memimpin kebaktian di sana. Gaya khotbah D. L. Moody yang sederhana dan berapi-api, disertai pimpinan Roh Kudus membuat kebangunan rohani besar-besaran dan berita kebangunan ini semakin meluas ke seluruh negeri. Setelah tiga bulan di Edinburgh, mereka ke Dundee dan Glascow untuk berkhotbah selama empat bulan. Pada bulan September 1874 mereka menuju Belfast, Irlandia, dan puncak ibadah terjadi di Exhibition Palace di Dublin. Tanggal 9 Maret 1875, dimulailah serangkaian kebaktian di London dengan jumlah pengunjung mencapai 15.000 - 20.000 orang.

Pada waktu itu, D. L. Moody baru berusia 38 tahun. Setelah tiba di Amerika, D. L. Moody dan rombongannya memberitakan Injil di New York, Philadelphia, Baltimore, St. Louis, Cincinnati, Chicago, dan Boston. Pada musim semi tahun 1892, D. L. Moody mendapat kesempatan untuk mengunjungi Yerusalem dan Kairo. Setelah mengunjungi beberapa tempat bersejarah, ia dan timnya bertolak ke Italia. Pada 26 Januari 1896, ibunya meninggal dunia. Waktu ibunya dikebumikan ia berkata: "Apabila setiap orang memiliki ibu seperti ini, maka semua penjara akan dihapus." Tanggal 30 Oktober 1898, cucu perempuannya meninggal dunia karena radang paru-paru. Walaupun demikian, ia berkata: "Saya sungguh bersyukur kepada Allah atas hidup ini, cucu saya kini berada di surga bersama Yesus selamanya, kita semua akan segera menyusulnya." D. L. Moody berkhotbah untuk terakhir kalinya pada tanggal 16 November 1899. Pada malam itu, Convention Hall penuh sesak. Tanggal 22 Desember menjelang kematiannya ia berkata: "Dunia bergerak mundur, surga terbuka bagiku ... kalau ini kematian maka begitu nikmatnya. Tuhan memanggil saya, maka saya harus pergi". Tanggal 26 Desember 1899, ia dimakamkan di kota Northfield dengan diiringi lagu, "Yesus Pengasih Jiwaku."

Diambil dari:
Judul majalah: Cahaya Buana, Edisi 92/2002
Judul artikel: Dwight L. Moody -- Utusan Injil Terbesar Abad XIX
Penulis: Tidak dicantumkan
Penerbit: Komisi Literatur GKT III Malang
Halaman: 16 -- 17 dan 33


"THE MORE OF HEAVEN IN OUR LIVES, THE LESS OF EARTH WE COVERT"