Welcome

Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Dapat Binasa....!!!

Friday, 12 August 2011

SPRITUALITAS THEOLOGY

SPRITUALITAS ROHANI
(Ringkasan Buku)
Bagian 1. Prinsip-Prinsip Teologi dari Teologi Rohani
Pokok-pokok yang menonjol:
            Pengalaman pribadi bertemu dengan Allah dalam Kristus  Yesus    merupakan teologi yang sejati dan dari pengalaman inilah yang akan menuntun pada pengetahuan yang lebih dalam tentang Allah. Pengalaman dengan Allah secara pribadi dikenal dengan istilah spiritualitas, atau teologi rohani. Dan teologi yang benar harus merupakan lagu pujian.
            Teologi rohani adalah ilmu yang menyimpulkan hal-hal yang membentuk kesempurnaan kehidupan rohani dan bagaimana manusia dapat melangkah maju. Teologi rohani adalah hal yang askesis, itu berarti latihan-latihan rohani yang disiplin dan sistematis menjadi sarana utama dalam perkembangan rohani. Teologi rohani menanyakan bagaimana pemahaman kita tentang Allah mempengaruhi pemahaman kita tentang  sifat dan tujuan hidup Kristen.
            Ada kriteria formal tertentu untuk menentukan apakah spiritualitas tertentu cukup memadai yaitu, sifat komprehensif yang mampu menjelaskan semua pengalaman religius, mampu menghimpun semua sumber daya rohani yang tersedia bagi gereja dan mampu menekankan pendekatan yang seimbang dalam pengembangan kehidupan rohani. Selanjutnya adalah sifat koheren sebagai sifat yang mampu mengembangkan spritualitas yang konsisten, ini tidak berarti bahwa setiap poin dalam teologi kita harus dapat dijelaskan secara rasional, kriteria selanjutnya adalah sifat yang bisa membangkitkan semangat.
             Apakah yang membuat suatu teologi rohani kristen bagus? Jawabanya adalah teologi rohani yang memadai harus ditandai dengan kepekaannya terhadap pebedaan kontekstual dalam dunia.
            Inti teologia rohani  adalah doa karena di dalam doalah masa lalu dan masa sekarang dipersatukan.
            Untuk bertemu dengan Allah kita harus melakukan penyangkalan diri secara total, disana kita akan menyentuh kedalaman manusia yakni diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya kita harus memberikan diri untuk pembebasan manusia tanpa mencari kehormatan bagi diri sendiri dan disanalah kita akan mengalami Allah.
            Menjadi orang Kristen tidak sekedar menerima prinsip-prinsip Kristen tertentu, tetapi harus memasuki suatu hubungan pribadi dengan Yesus, pengalaman pertobaan itu harus melibatkan kontak yang hidup dengan pribadi Kristus yang transenden didalam konteks historis yang konkret.
            Keselamatan yang dialami manusia dalam Kristus bukanlah sebagai pelepasan impersonal dari bencana yang akan datang tetapi keselamatan itu dialami sebagai persekutuan yang hidup, maka didalamnya akan ada sukacita yang sejati.
           
Manfaat pokok-pokok tersebut:
            Bagian ini mengingatkan bahwa belajar teologi bukan hanya supaya kita memiliki pengetahuan atau kepintaran tentang allah dan ciptaan-Nya tetapi supaya mengalami pertemuan secara pribadi dengan Yesus atau memiliki pengalaman dengan Yesus. Tanpa pengalaman bertemu dengan Tuhan maka sulit bagi kita untuk melakukan pelayanan dengan benar, juga sulit untuk menjalin persekutuan yang indah dengan Tuhan.
            Latihan-latihan dalam menjalani kehidupan kerohanian sangat diperlukan, tidak ada yag instant dalam melakukan hubungan dengan Tuhan, latihan dan disiplin yang tinggi akan mempengaruhi kwalitas hubungan kita dengan Tuhan.

Topik yang berguna dalam menggumuli spiritualitas pribadi:
            Topik yang berguna dalam menggumuli spiritualitas pribadi saya dalam bagian 1 ini adalah, pemahaman pengertian teologi rohani dan kemampuan untuk membedakannya dengan teologi praktis menolong untuk meningkatkan hubungan pribadi dengan Allah. Teologi spiritualitas dapat sempurna dialami adalah dengan latihan-latihan yang disiplin dan sistematis, teologi rohani merupakan disiplin teologis. Teologi rohani yang baik adalah teologi yang mampu dan memiliki kepekaan terhadap perbedaan kontekstual dalam dunia.
            Selanjutnya teologi spiritualitas dari aliran-aliran yang ada tidak boleh dikesampingkan begitu saja, kriteria-kriteria yang di tetapkan aliran protestan, injili pentakosta atau karismatik masing masing mempunyai kelbihan dan kekurangan, tetapi salah satu diantaranya tidak boleh dikesampingkan, idealnya nanti tidak ada lagi perbedaan antara Kristen karismatik dan non karismatik, hal ini perlu digumulkan dalam memandang dan menerima satu sama lain, setiap orang Kristen harus menjadi kharismatik dan asketik.


Bagian 2. Doktrin Kristen Tentang Allah Sebagai Dasar Bagi Spiritualitas Kristen
Pokok-pokok yang menonjol:
Allah yang kita kenal dalam Kristus Yesus adalah Allah yang imanen dan transenden. Allah Alkitab adalah Allah yang memiliki kepribadian yang bekerja secara dekat dengan ciptaanNya,  berbeda dari Allah yang tidak memiliki perasaan, yang tidak dikenal menurut pandangan Platonisme, Allah kita bukanlah Allah yang tidak dapat dikenal atau jauh dari manusia dan Allah dalam Kristus itu adalah Allah yang menekankan persekutuan pribadi. Hendaknya spritualitas kita dibangun atas dasar ini.
Spiritualitas itu harus berfokus kepada Allah sebagai Bapa yang merupakan pencipta segala sesuatu dan seluruh ciptaan merupakaan milik Allah dan mencerminkan kemuliaan Allah. Kemudian juga harus berfokus kepada spritiualitas pada karya keselamatan yang dikerjakan Kristus dan juga kepada spritualitas Roh Kudus. Spiritualiatas ini tidak boleh berfokus secara eksklusif hanya kepada satu pribadi tetapi harus spritualitas yang bersifat Trinitarian.
Spiritualitas Trinitarian ini paling tidak ditandai dengan bentuk stabilitas dan pemahaman sakramental tentang benda-benda ciptaan, kemudian harus menjalin hubungan secara pribadi dengan Allah melalui pribadi Kristus Yesus dan juga spritualitas itu harus bersifat terbuka bagi karya ajaib Allah Roh Kudus.
Dan akhirnya yang menjadi tujuan spiritualitas  rohani itu adalah berdiamnya Trinitas yang kudus dalam diri manusia.   

Manfaat pokok-pokok tersebut:
            Bagian ini bermanfaat untuk memberikan pengertian bahwa Allah kita pencipta segala sesuatu tidak jauh dari kita, Ia ada disekitar kita, berada dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam dunia ini, pemahaman tentang imanensi dan transendensi Allah akan mengubah cara berpikir kita tentang Allah.
Kadang kala dalam kehidupan spiritualitas rohani sehari-hari kita lebih mengutamakan salah satu pribadi Trinitarian itu, penekanan yang berlebihan terhadap Roh Kudus sering mengakibatkan hanya berpikir tentang karya-karya dari Roh Kudus.
             
Topik yang berguna dalam menggumuli spiritualitas pribadi:
            Topik yang bermanfaat dalam bagian ini untuk menggumuli spritualitas pribadi adalah, topic tentang problem imanensi dan transendensi Allah, ini penting karena dengan memahami bahwa Allah kita adalah Allah yang imanen dan transenden maka kita akan menyadari bahwa Allah itu dekat dengan kita, Dia memiliki perasaan, kepribadian , tidak terpisah dari kita dan terlibat dalam segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta ini. Namun perlu diingat bahwa Allah itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan menggunakan pikiran kita yang terbatas ini, kita dapat mengenalNya sejauh Ia memperkenalkan diri kepada kita.
            Selanjutnya adalah topic tentang sifat Spiritualitas Trinitarian, dalam menjalin hubungan dengan Allah kita tidak hanya terhubung dengan satu pribadi saja, tetapi dengan ketiga pribadi Allah, dalam penyembahan kita menjumpai Allah yang adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam realitasnya yang kongkret.   


Bagian 3. Dosa dan Sifat Manusia
Pokok-pokok yang menonjol:
            Topik dalam bagian ini membahas kedalaman dosa dan beragam dosa, dosa adalah kecanduan. Problem spritualitas yang paling mendasar adalah problem dosa.        Spritualitas yang dikembangkan untuk membahas konsep dosa yang lebih luas tidak dapat dibatasi hanya pada pertumbuhan hubungan seseorang dengan Allah, harus mencakup aspek antar pribadi dan aspek sosial.
            Ada tiga bentuk reduksionisme utama yaitu materialisme dimana keyakinan bahwa segala sesuatu tentang sifat manusia dapat direduksi menjadi aspek dunia fisik tertentu, kemudian psikologisme.Orang-orang Kristen kadang-kadang mempraktikkan reduksionisme rohani dengan menawarkan penjelasan rohani untuk setiap problem. Salah satu problem utama yang dihadapi banyak pendeta di Asia adalah hubungan antara penyakit dan dosa, sering sekali penyakit yang diderita dianggap karena dosa.
            Konsep tentang dosa yang berbeda memiliki konsekwensi yang sangat berbeda dalam pertumbuhan kehidupan rohani. Dosa harus dipahami secara tepat agar dapat dilawan secara efektif.
            Daging adalah dosa di dalam kita, dunia merujuk pada dosa di sekitar kita dan Iblis dosa di luar kita. Ke mana pun kita berpaling kita menemui dosa sebagai kondisi manusia yang sudah dirembesi seluruhnya.
            Dosa nomor satu dalam diri manusia adalah kesombongan, Agustinus berkata kesombongan adalah permulaan dosa. Kesombongan itu merupakan pengagungan diri yang tidak sepantasnya. Kesombongan membelokkan kebenaran tentang kebenaran kita yang sebenarnya menjadikan diri kita yang lebih utama dari sang Pencipta.
Kesombongan melahirkan enam dosa maut lainnya yaitu kemuliaan yang sia-sia, iri hati, amarah, kesedihan, ketamakan,  kerakusan dan hawa nafsu.  
Kesombongan adalah dosa Iblis yang membuatnya lebih senang memerintah di neraka daripada disorga.
Obat bagi kesombongan ini adalah kerendahhatian, Alkitab menyarankan kita bersikap rendah hati dan memperingatkan kita untuk tidak memikirkan hal yang lebih tinggi.
           
Manfaat pokok-pokok tersebut:
            Pokok-pokok tersebut mengigatkan untuk menyadari bahwa semua manusia tidak ada yang tidak terlepas dari dosa, akibatnya kita memerlukan sesuatu dari luar diri kita untuk menolong kita. Hubungan dengan Tuhan dihalangi oleh yang namanya dosa, bukan hanya dengan Tuhan tetapi juga dengan lingkungan dan orang lain.
            Menurunkan standar dan pengertian dosa berakibat kepada menurunya kwalitas kerohanian.
            Sampai sekarang dosa paling utama itu adalah kesombongan, bagian ini mengingatkan akar saya tidak menyombongkan diri dengan segala yang ada pada saya sekarang, kesombongan berarti awal kehancuran. Poin ini demikian penting untuk benar-benar dipahami agar kita tetap rendah hati dalam hidup kita, kejatuhan para hamba-hamba Tuhan paling banyak juga dengan dosa yang satu ini, pujian yang seharusnya dialamatkan kepada Allah sering dibelokkan kepada para pelayan.

Topik yang berguna dalam menggumuli spiritualitas pribadi:
            Dalam bagian ini topik-topik yang sungguh berarti dalam menggumuli spitualitas saya adalah kehidupan rohani dan sifat manusia, pemahaman yang benar tentang sifat manusia akan menolong untuk dapat meningkatkan hubungan yang baik dengan Tuhan, pengertian tentang materialisme dan psikologisme dalam diri manusia akan menolong kita agar tidak berusaha menjawab semua problem dengan penjelasan rohani, tidak semua masalah manusia karena kerasukan roh jahat, juga tidak semua masalah penyakit dan kemiskinan berhubungan dengan dosa.


Bagian 6. Teologi dan Kehidupan Doa
Pokok-pokok yang menonjol:
            Doa adalah tindakan pertama yang menghubungkan doktrin dan praktik, bagian lain adalah rincian dari tindakan pertama ini dengan kata lain semua kegiatan rohani lainnya tergantung pada doa. Di dalam doa seseorang memasuki hubungan pribadi dengan Tuhan.
            Seluruh kehidupan Kristen dapat digambarkan melalui kehidupan doa. Doa harus merupakan kebiasaan karena itu diperlukan kegiatan berdoa secara terus menerus dan menjaga bahwa kebiasaan itu tidak berubah menjadi doa yang sifatnya formalistik.
Doa itu berasal dari Allah dan merupakan inisiatif Allah, kita tidak melahirkan doa tetapi doa sudah berlangsung di dalam diri kita, firman Allah yang memiliki inisiatif, kita sekedar menjadi pendengarnya.
Allah adalah pusat segala sesuatu, dan segala sesuatu pada akhirnya terkait dengan Allah. Doa membuat segala kegiatan baik pekerjaan, pikiran maupun segala hal lain menjadi religius. Doa harus jujur dihadapan Allah, dalam hal ini kita perlu belajar dari anak kecil karena belum dirusak apa yang disebut pengalaman orang dewasa.
Kita harus mengalami pertumbuhan dalam doa tetapi melakukan doa merupakan pekerjaan yang sulit itu karena kita harus memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, hal ini akan menyingkapkan diri kita yang sebenarnya. Pengungkapan itu selapis demi selapis dan merupakan proses yang menyakitkan. Pertumbuhan dalam doa ini sering disamakan dengan pertumbuhan dalam pernikahan, proses saling mengenal dan membuka diri mutlak diperlukan.
Seserang yang bertumbuh didalam doa bergerak lebih jauh dari doa-doa permohonan yang berpusat pada kepentingan sendiri dan mulai beralih pada doa pemujaan dan ucapan syukur kepada Allah.
Kita perlu bertahan, bertekun dalam doa meskipun perasaan kita menentangnya. Teknik doa sama dengan teknik pergi ke gereja, yang diperlukan di dalamnya adalah kehendak.
Doa merupakan manifestasi dari baptisan, doa selalu merupakan respon terhadap inisiatif Allah. Doa adalah tanda kehidupan dari orang-orang yang ada di dalam Kristus. Dan semua doa dimulai dengan permohonan

Manfaat pokok-pokok tersebut:
Setelah membaca topik dalam bagian ini, mengingatkan agar segala sesuatu kegiatan dipusatkan kepada doa. Kehidupan rohani berjalan dengan baik atau tidak dapat diukur dan dilihat melalui kehidupan doa. Pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas, maka kita perlu melatih diri untuk berdoa, jadikan doa sebagai suatu kebiasaan.
Kehidupan doa tidak boleh berhenti, harus terus-menerus dilakukan. Dalam berdoa sangat diperlukan kejujuran dan keterbukaan terhadap Allah, melalui doaalah saya bisa bertumbuh.

Topik yang berguna dalam menggumuli spiritualitas pribadi:
Topik yang bermanfaat dalam bagian ini untuk menggumuli spiritualitas pribadi saya adalah, bahwa seluruh kehidupan harus dipusatkan kepada Allah melalui doa, hal ini menghindarkan dari sifat yang egois.
Kemudian dalam memandang segala sesuatu dalam hidup harus dihubungkan dengan doa maka semuanya akan bersifat religius, sering sekali terjadi pemisahan yang disebut dengan dunia sekuler dan dunia rohani, tetapi dengan doa tersebut maka semuaanya akan bersifat religius.


Bagian 7. Latihan Rohani Berfokus Pada Allah dan Diri Sendiri
Pokok-pokok yang menonjol:
Kita membutuhkan teologi untuk menebus kebiasaan / kerutinan sehingga setiap aspek kehidupan kita sehari-hari sepenuhnya diintegrasikan pada iman.
Dalam bagian ini diperlukan latihan merasakan kehadiran Allah, yang juga disebut doa rekoleksi,  hal ini tidak perlu berupa tindakan yang formal atau terpaku pada waktu, meskipun penetapan jadwal waktu yang teratur bisa membantu menghasilkan kecakapan yang lebih besar. Doa itu tidak perlu sesuai dengan struktur formal mana pun, sebab doa itu menunjukkan kondisi yang berbeda-beda pada saat kita berbicara kepada Allah. Untuk merasakan kehadiran Allah adalah dengan melakukan seperti doa Yesus yang merupakan doa spontan, kemudian mengikuti kalender gereja, dan dengan belajar membaca buku pemeliharaan ilahi, karen Allah hadir dalam segala sesuatu dan dalam semua peristiwa, dan untuk merasakan kehadian-Nya dalam satu situasi atau peristiwa dapat menciptakan kesan yang dasyat.
Menuruti kehendak Allah berarti menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya dalam kasih. Langkah-langkah untuk menuruti kehendak Allah yaitu, terbenam dalam Alkitab, mengakui Allah, dan belajar ketaatan. Tidak menaati kehendak Allah yang tertentu membuat kita tidak mampu menemukan kehendak Allah yang tidak tertentu.
Pengetahuan tentang Allah membangkitkan pengetahuan yang dalam tentang diri sendiri dan hal sebaliknya juga berlaku. Doa harus memeriksa diri sendiri supaya dapat berdoa lebih baik, hal ini memang latihan yang merendahkan diri kita tetapi mutlak diperlukan sebagai latihan permulaan tanggung jawab atas diri sendiri. Melalui hal ini Allah dapat memberitahu kita  kondisi yang sebenarnya dari hati kita. Pemeriksaan diri dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menyimpan catatan harian, yang mencatat latihan-latihan harian dan karya kasih karunia dalam kehidupan seseorang.

Manfaat pokok-pokok tersebut:
            Pokok-pokok dalam bagian 7 ini bermanfaat untuk menolong saya mengatasi kejenuhan dalam rutinitas setiap hari.
            Kadang kala doa yang dilakukan hanyalah sebagai rutinitas setiap hari, masih berdoa tetapi rohani mengalami apa yang disebut kantuk rohani, pelayanan-pelayanan masih tetap dilakukan namun hanya sekedar melakukan kegiatan rohani saja. Bagian ini bermanfaat mengingatkan kita untuk melatih doa secara terus-menerus, metode-metode juga perlu dipelajari agar tetap bisa dijaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan.
            Untuk mengetahui kehendak Allah selain berdoa, bagian ini mengingatkan agar membaca Alkitab secara rutin dan terus belajar untuk taat.

Topik yang berguna dalam menggumuli spritualitas pribadi:
            Yang sungguh berarti dalam menggumuli spritualitas pribadi saya adalah latihan merasakan kehadiran Allah, kemampuan merasakan kehadiran Allah setiap saat menuntut kekudusan diri karena tana kekudusan tidak ada yang bisa bertemu dengan Allah.
            Selanjutnya adalah topik menuruti kehendak Allah, untuk bisa mengetahui dan menuruti kehendak Allah menuntut saya selain berdoa adalah sering membaca Alkitab, belajar untuk mengakui Allah dalam setiap keadaan. Menuruti kehendak Allah juga menuntut ketaatan untuk melakukannya.
            Kemudian adalah doa yang memeriksa diri sendiri, latihan ini sering saya abaikan karena memang hal ini adalah latihan merendahkan diri, hal tersulit dalam hidup ini adalah mengalahkan diri sendiri, jujur terhadap diri sendiri. Latihan-latihan dalam memeriksa diri ini sangat bermanfaat untuk membuat kita menjadi semakin dewasa dalam Tuhan.


Bagian 11. Membedakan Roh
Pokok-pokok yang menonjol:
Kemampuan membedakan roh merupakan kebutuhan yang sangat dirasakan dalam budaya monastic. Tanpa kemampuan membedakan roh, kita tidak dapat berharap untuk dapat membuat kemajuan rohani.
Pembedaan roh berarti mengenal kehendak Allah dalam situasi khusus, ini merupakan kesulitan terbesar bagi kehidupan seseorang. Karena ini berkaitan dengan seluruh sikap kita terhadap Allah dan diri sendiri. Kemapuan membedakan roh menyiratkan tingkat kedewasaan atau kecakapan rohani.
Untuk mampu membedakan roh perlu diperhatikan peraturan dalam membedakan roh. Alkitab memberikan kriteria objektif tertentu untuk membantu kita membedakan nabi yang benar dengan yang palsu, beberapa diantaranya adalah penggenapan nubuat, keortodoksan mereka dan isi pengajaran nabi itu. Cara hidup dan karakter menujukkan siapa mereka sebenarnya.
Peraturan untuk membedakan roh sangat bermanfaat, tetapi kemapuan kita untuk menerapkannya pada situasi tertentu sangat terbatas.
Sifat yang membuat kita dapat membedakan roh adalah hubungan yang akrab dengan Allah. Kita harus dengan kasih, rendah hati, memiliki keberanian atau keteguhan hati, kemampuan untuk menemukan sikap seimbang saat menghadapi pilihan yang sulit (buah simalakama) dan percaya pada saat mengambil tindakan Alah akan menjalankan kehendak-Nya sendiri dalam tindakan kita.
Untuk membedakan roh dalam dunia kita memerlukan sikap berjaga-jaga hal ini tidak berbeda dengan berdoa, sikap ini membutuhkan usaha keras dari semua indera kita untuk melihat, mendengar, mencium, merasakan dan meraba apa tindakan yang diperlukan dalam setiap situasi dalam dunia.
Banyaknya fenomena kerohanian yang luar biasa memerlukan kemampuan membedakan roh, karena fenomena yang luar biasa tidak selalu merupakan hal yang’rohani’ atau supernatural. Diperlukan juga kemampuan untuk melihat apakah hal itu memenuhi kriteria moral dan teologis bukan dengan pertanyaan apakah fenomena itu ditemukan dalam Alkitab atau tidak. Kemudian kemampuan untuk membedakan antara penyataan pribadi dengan umum.
Akhirnya kemapuan untuk membedakan roh merupakan proses yang tumbuh dari kehidupan dalam Kristus dan membantu memperdalam kehidupan, dan orang yang tidak pernah diajar membedakan roh selamanya tetap kanak-kanak.

Manfaat pokok-pokok tersebut:
            Banyaknya fenomena kerohanian yang terjadi pada masa saat ini sangat membutuhkan kepekaan dan kemampuan membedakan roh, kemampuan itu memerlukan latihan yang serius dan kemampuan membedakan roh menuntun kita untuk dewasa secara rohani.
            Hal yang paling indah dalam hidup adalah jika kita dapat mengerti dan mengetahui kehendak Allah yang adalah Roh dalam hidup kita, jika kita mampu mengetahui kehendak Allah tersebut maka kita akan tetap berjalan dalam koridor yang sudah Allah persiapkan bagi kita.
            Untuk dapat membedakan roh tersebut menuntut kita untuk menjalin hubungan yang akrab dan serius dengan Allah, hanya dengan cara inilah setiap orang percaya dapat menentukan pilihan dalam kondisi sulit, karena ini menuntut kita untuk hidup dalam kekudusan, ketaatan dan tidak akan bimbang dalam menghadapi problem yang diperhadapkan kepada kita.

Topik yang berguna dalam menggumuli spritualitas pribadi:
            Pada bagian ini topik yang berguna dalam menggumuli spritualitas pribadi adalah, pertama kemapuan untuk membedakan roh, kemapuan ini menuntut saya untuk terus menerus latihan dalam menuju kedewasaan rohani dengan menjalin hubungan yang manis dengan Allah, ini mutlak diperlukan karena dalam realitas masyarakat atau pelayanan tiruan rohani kadang sulit dibedakan dari yang asli, banyaknya fenomena rohani yang terjadi dalam masa ini menuntut kepekaan, kemampuan dalam menilai apakah hal tersebut berasal dari Allah atau bukan.
            Kemampuan membedakan roh juga menuntut agar saya rendah hati, karena saya harus sadar bahwa kemampuan untuk menyelidiki hikmat Allah yang tersembunyi adalah dengan sikap kerendahan hati.


Sumber:
Judul Buku     : SPIRITUAL THEOLOGY, Studi Sistematis Tentang Kehidupan Kristen
Pengarang     : Simon Chan
Penerbit         : ANDI

Thursday, 4 August 2011

MANAJEMEN DIRI : PENGGUNAAN WAKTU


"MANAJEMEN DIRI "
(Pengunaan Waktu)


Apa pendapat anda tentang "waktu", suatu anugerah atau justru pengekang hidup?

Tuhan menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan menikmati hidup. Sudah cukupkah ? Apakah kita sering merasa kekurangan waktu, bahkan seolah-olah hidup kita begitu dikendalikan oleh waktu ?

Waktu dapat menjadi pengekang hidup, jika kita membiarkan diri dikendalikan olehnya, tapi waktu menjadi suatu anugerah, jika kita mampu mengendalikan dan mengelolanya dengan bijaksana serta melihatnya sebagai kesempatan untuk mengalami hal-hal yang bermakna. Jadi, kita yang memegang kendali atas waktu, bukan waktu yang mengendalikan kita.

Sudahkah anda membuat waktu anda bermakna ?

Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen waktu, kita perlu memahami dua pengertian tentang waktu, yaitu sebagai kronos dan kairos.   Kronos adalah waktu-waktu yang kita jalani, misalnya Senin, Selasa, sehari, sebulan, setahun. Seringkali kita menggunakannya pada istilah kronologis. Sedangkan kairos adalah waktu yang bermakna bagi kita. Dari usia 0 tahun hingga 17 tahun kita menjalani kronos, tapi dalam kurun waktu itu pasti ada saat-saat penting yang membawa kesan tersendiri bagi kita, misalnya saat pertama masuk sekolah, saat bertengkar dengan sahabat, saat pertama kali jatuh cinta, saat gagal di ujian, saat menjadi juara di pertandingan olahraga. Bagaimana reaksi kita pada saat itu dan bagaimana kita menghadapinya ? Pelajaran apa yang kita peroleh dari peristiwa itu ?  Itulah kairos, saat-saat bermakna dalam perjalanan hidup yang membentuk karakter diri kita.

Kairos tidak harus berupa peristiwa besar, mungkin hanya peristiwa kecil / sepele, tapi yang penting kita bisa belajar sesuatu dari peristiwa itu. Intinya, marilah kita belajar peka untuk melihat makna dibalik peristiwa. Ada perbedaan besar antara orang yang hanya sekedar menjalani kronos dengan orang yang mampu melihat kairos-kairos dalam hidupnya.

Orang yang mampu memahami waktu sebagai kairos, melihat hidup sebagai kesempatan , bukan sekedar hidup yang dijalani begitu saja tanpa makna. Kesempatan untuk mengalami suka dan duka, sukses dan gagal, yang memproses diri kita menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan banyak hal yang bermakna..

Kita masuk perguruan tinggi selama 4 atau 5 tahun, apakah hanya untuk mendapat gelar sarjana ? Harus lebih dari itu, waktu-waktu itu akan menjadi kesempatan untuk meraih kairos-kairos. Kesulitan ketika belajar, kegagalan di ujian, pertemuan dengan orang serta lingkungan yang baru, adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih ulet, lebih punya kontrol diri, lebih mampu menyesuaikan diri dan sebagainya. Sudahkah anda mengubah kronos menjadi kairos ?


Memanajemen waktu dengan tepat
Jika kita memahami waktu sebagai kairos, kita akan menyadari bahwa waktu itu begitu berharga. Mungkin ada banyak hal yang ingin kita lakukan dan kita alami dalam hidup ini, bagaimana cara mengaturnya ?


Ada 3 hal yang harus kita miliki: a goal - a plan - take action


1. A goal ( tujuan )

Apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup ini ? Mengapa kita ingin mencapai itu ? Masing-masing orang tentu berbeda, tapi setiap orang harus punya. Ini penting, karena banyak orang yang menjalani hari-hari hidupnya tanpa tahu untuk apa ia hidup, mau ke mana ia menuju. Hidup menjadi seperti petualangan tanpa arah atau hanya sebuah rutinitas. Padahal hidup adalah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan baik. Jika anda belum menemukan tujuan hidup anda, ambillah waktu untuk menggumulkan hal itu. Bila perlu mintalah bantuan pada orang yang mampu membimbing anda. Ini adalah langkah awal yang penting. Jangan di hari tua kita baru menyesal " Mengapa aku tidak menata hidupku sejak muda " atau kita baru menyadari " Mengapa hidupku jadi begini ? " Tentu di saat itu semuanya sudah terlambat.

Setelah kita tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup ( ini adalah tujuan jangka panjang ), kita dapat melanjutkannya dengan membuat tujuan-tujuan atau target-target jangka pendek, sebagai langkah untuk mencapai tujuan akhir. Target untuk 5 tahun mendatang, target tahun ini, target semester ini, bahkan target hari ini. Tujuan/target bisa lebih dari satu, misalnya target dalam bidang studi, pekerjaan, spiritual, dan sebagainya. Buatlah target yang realistis ( sesuai kemampuan ) dan konkrit. Bila perlu tulislah pada kertas/buku catatan anda.


2. A plan ( rencana )

" If you fail to plan, you plan to fail." Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Jika kita sudah punya tujuan/target yang jelas, kita dapat merencanakan langkah dan cara untuk mencapai hal itu. Beberapa langkah yang dapat kita lakukan adalah :  

a. Mengatur aktivitas
Evaluasi kembali aktivitas-aktivitas yang biasa kita lakukan selama ini. Dari sekian banyak aktivitas yang ada, pilihlah mana yang perlu dilakukan, mana yang tidak. Apa aktivitas yang lebih baik kita lakukan di waktu luang, misalnya: apakah kita sering memboroskan waktu untuk nonton VCD atau jalan-jalan ke Mall ? Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat yang dapat kita lakukan ? Mungkin belajar bahasa Inggris, jika ternyata kita punya tujuan menjadi ahli komputer sedangkan kemampuan bahasa Inggris kita masih kurang. Jadi kita men-seleksi aktivitas dalam rangka mencapai tujuan yang sudah kita targetkan. 


b. Menentukan prioritas
Dari sekian banyak aktivitas yang sudah kita seleksi, terkadang kita masih ingin melakukan banyak hal : kuliah, les Inggris, les musik, olahraga, kumpul dengan teman-teman, ikut organisasi atau pelayanan, bekerja paruh waktu, dan sebagainya. Jika kita ingin melakukan semuanya, mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal, dan bisa jadi yang terpenting justru terabaikan. Misalnya: karena terlalu asyik berorganisasi, kuliah jadi terlantar.

Kita harus menentukan aktivitas-aktivitas yang harus mendapat prioritas utama, dan aktivitas-aktivitas yang boleh kita lakukan, namun pada porsi yang tepat. Sebagai contoh: olahraga itu penting, kita perlu menyediakan waktu untuk itu, tapi tidak perlu menjadi prioritas utama, jika tujuan kita bukan untuk menjadi seorang atlit. Jika suatu saat kita dihadapkan pada dua pilihan, misalnya sore ini harus kerja kelompok padahal bersamaan dengan jadwal main basket dengan teman-teman. Kita bisa menentukan mana yang harus kita dahulukan, karena kita tahu apa prioritas kita.  

c. Membuat rencana yang realistis
Jika kita sudah menentukan target yang realistis, maka kita juga perlu membuat rencana yang realistis. Misalkan dalam semester pertama kita punya target untuk mencapai IP di atas 2,5, kita membuat rencana agar target itu tercapai. Kita membuat jadwal belajar secara teratur, berapa jam sehari, kapan waktu yang terbaik, dan sebagainya. Buatlah semua itu secara realistis, sehingga kita dapat sungguh-sungguh melaksanakannya.  

d. Melaksanakan rencana secara fleksibel
Terkadang rencana yang sudah kita buat, terganggu oleh hal-hal yang tidak terduga. Misalkan nanti malam adalah jadwal kita belajar, tapi ternyata ada acara penting yang harus kita hadiri. Jika acara itu memang penting dan tidak dapat ditunda, batalkan jadwal belajar dan carilah waktu pengganti. Tapi perlu diwaspadai, jangan suka mengubah rencana karena tergoda dengan hal-hal yang kurang penting. Jika ada kegiatan di luar rencana yang ingin kita lakukan, aturlah waktu sehingga hal yang penting tetap dapat kita laksanakan. 

e. Membuat agenda harian
Mempunyai jadwal kegiatan harian akan sangat membantu kita untuk memanajemen waktu yang kita miliki setiap hari, namun tidak semua orang mau membuatnya secara detil. Paling tidak kita harus mencatat hal-hal penting yang harus kita lakukan di agenda harian, sehingga di pagi hari kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan pada hari itu dan bagaimana cara kita mengatur waktu untuk menyelesaikan semuanya. Target jangka panjang akan tercapai jika kita mampu mendisiplin diri untuk menyelesaikan target-target harian.

3. Take action ( bertindak )
Lakukan apa yang sudah direncanakan! Jika tidak, semua target dan rencana yang kita buat tidak punya arti apa-apa. Beberapa hal yang harus kita waspadai : 

a. Jika 'penyakit' malas menyerang
" Saya lagi nggak mood "; " Waktunya nggak pas buat belajar " dan sebagainya. 

b. Kebiasaan menunda pekerjaan
"Besok masih ada waktu kok "; " Sebentar lagi ah "; "Ujiannya kan masih minggu depan"  

c. Tidak mampu mendisiplin diri sendiri
Kalau sudah terlanjur nonton televisi atau main game, lupa segalanya 

d. Tidak berani berkata "tidak"
'Sungkan' menolak teman yang tiba-tiba mengajak keluar atau ngobrol lewat telepon

             Kemampuan memanajemen waktu berkaitan erat dengan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa hidup tanpa planning, atau terbiasa menunda-nunda sesuatu, akan sangat sulit mendisiplin diri dengan jadwal waktu yang terencana. Mengubah kebiasaan adalah hal yang sulit, namun kesuksesan diraih dengan kemauan dan keberanian untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik dari hari ke hari, terutama dalam hal manajemen waktu.

“ There never has been, and cannot be, a good lifewithout self control  - Leo Tolstoy -

Referensi :
·        Paul, Walter. How to Study in College, Boston : Houghton Mifflin Company. 1984.
·      Tong, Stephen. Pemuda dan Krisis Zaman, Jakarta : Stephen Tong Evangelistic Ministries International. 1996

Monday, 25 July 2011

Mengapa Cincin Pernikahan Harus Ditaruh di Jari Manis??

Mengapa Cincin Pernikahan Harus Ditaruh di Jari Manis??


Ikuti langkah berikut ini, Tuhan benar-benar membuat keajaiban 
  1. Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar)) 
  2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya. 
  3. Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari menwakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti. 
  4. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita. 
  5. Sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak2. cepat atau lambat anak2 juga akan meninggalkan kita. 
  6. Selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan Anda akan terus melekat satu sama lain. Cinta suami isteri kekal abadi. 
sumber: unknow  (cina)

Thursday, 14 July 2011

Riwayat Hidup Sumi San


GADIS PEJUANG IMAN
(Riwayat Hidup Sumi San dari Negeri Jepang)


  Sumi San dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, ayahnya seorang   pedagang pipa air, sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga   biasa. Semasa remaja, ia harus hidup berkekurangan karena ayahnya   mengalami kerugian besar dalam berdagang. Dampaknya, orang tua Sumi   harus menanggung utang yang tidak sedikit jumlahnya. Demi membantu   meringankan beban orang tuanya, Sumi meninggalkan kampung halamannya   dan bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Kobe. Tidak ada waktu   baginya untuk memikirkan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Waktunya   ia habiskan untuk bekerja dan belajar. Semangat dan kemauan yang   begitu kuat menyebabkan ia tidak memedulikan kondisi kesehatannya.   Tanpa disadari, ia menderita penyakit bronkitis dan beri-beri yang   menyebabkan ia harus dirawat di sebuah rumah sakit selama tiga   bulan. Setelah sembuh dari sakitnya, ia dikeluarkan dari   pekerjaannya. Hal ini membuatnya sangat sedih karena pekerjaan   tersebut sangat ia butuhkan dan merupakan satu-satunya cara agar ia   dapat membantu meringankan beban orang tuanya.

  Sumi pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Funo.   Persoalan utama baginya saat ini adalah bagaimana ia dapat membantu   orang tuanya dalam hal keuangan. Akhirnya, ia memutuskan untuk   mendaftar ke sebuah sekolah perawat di Hiroshima. Berkat ketekunan   dan kesabarannya, ia diterima di sekolah tersebut, bahkan mendapat   beasiswa sehingga ia tidak perlu menanggung semua biaya sekolahnya.
  Berkat semangat dan kesabarannya pula, Sumi mampu menyelesaikan   pendidikannya dengan nilai yang sangat memuaskan dan mendapat   kesempatan bekerja pada sebuah rumah sakit.

  Namun di tengah kebahagiaannya, ia mendapat kabar bahwa ibunya   meninggal karena sakit. Masalah tidak berhenti sampai di situ. Ia   dihadapkan pada persoalan baru -- siapakah yang akan menggantikan   ibunya mengurus rumah tangga? Sebagai anak tertua, Sumi sadar bahwa   dialah yang akan melaksanakan tugas tersebut. Sungguh bukan hal   mudah baginya. Namun, ia dan ayahnya yakin bahwa mereka dapat   mengatasi kesulitan yang sedang terjadi dan segalanya pasti akan   kembali normal dengan bantuan dewa Hotoke San. Sumi dan keluarganya  adalah penganut agama Budha. Prinsip hidupnya didasarkan pada ajaran  tersebut, yaitu bahwa "hidup hanyalah soal nasib semata, biarpun   manusia dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban hidupnya".  Sumi dibesarkan dalam ajaran ini dan ia menyerahkan hidupnya pada  nasib. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah yang  terjadi dalam hidupnya dan berharap mudah-mudahan nasib baik akan  menghampirinya pada masa yang akan datang.

  Di samping mengurus rumah tangga, Sumi juga terus memerdalam  pengetahuan keperawatannya. Ia berharap suatu hari nanti dapat  bekerja pada sebuah distrik dengan penghasilan yang jauh lebih besar  daripada penghasilan bekerja di rumah sakit. Nasib baik nampaknya  berpihak pada Sumi, ia diterima sebagai perawat di Badan Kesehatan   Distrik di bagian timur Kobe. Suatu hari, Sumi mendapat tugas baru.  Ia ditugaskan merawat Machan, putra tunggal keluarga Komatsu yang  menderita bisul pada kakinya. Tugas tesebut mengharuskannya untuk  datang setiap hari ke rumah Machan. Kedatangan Sumi selalu disambut  gembira oleh Machan, mereka berdua benar-benar telah menjadi  sahabat. Namun secara diam-diam, Komatsu, ayah Machan, menaruh  perhatian khusus kepada Sumi. Sumi mengetahui hal tersebut, dan  karenanya ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan  Komatsu, mengingat Komatsu sudah memiliki istri.

  Setelah mendapatan perawatan yang intensif, kaki Machan benar-benar  sembuh. Di akhir kunjungannya, Sumi mendapatkan sebuah kado dari  Machan. Tidak hanya itu, Komatsu juga memberikan sebuah bungkusan  kecil sebagai tanda terima kasihnya kepada Sumi yang telah merawat  Machan. Dari bungkusan kecil tersebut, Sumi tahu bahwa tanda terima  kasih tersebut adalah uang. Sumi menolak pemberian tersebut dengan  alasan pihak rumah sakit telah menggajinya atas tugas tersebut.  Tidak hanya itu, Komatsu juga meminta Sumi untuk sesekali bertemu  dan berbincang-bincang dengannya. Karena terus didesak dan merasa  telah berutang budi pada pihak keluarga Komatsu (dalam budaya  Jepang, suatu utang harus dilunasi secara penuh dan tidak boleh  kurang suatu apa pun), akhirnya Sumi menerima bungkusan tersebut  (bungkusan berisi uang seratus yen, lebih banyak dari jumlah gajinya  selama dua bulan) dan berjanji sesekali akan menemui Komatsu hanya  untuk berbincang-bincang sebagai seorang teman.

  Tawaran Komatsu yang telah diterimanya ternyata membuat Sumi merasa  tidak nyaman. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kobe dan mencari  pekerjaan di tempat lain. Sumi mencoba melamar ke beberapa tempat  dan ia diterima bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Tokyo. Ia  merasa lega, pikirnya ia akan terbebas dari persoalan tersebut.  Namun setelah setahun bekerja di Tokyo, tiba-tiba ia mendapat  kunjungan dari seseorang. Ya, orang tersebut adalah Komatsu. Tentu  saja kunjungan Komatsu membuatnya sangat terkejut. Apa sebenarnya  tujuan Komatsu berkunjung ke Tokyo? Apakah hanya sekadar untuk  menemuinya? Tujuan Komatsu menemui Sumi adalah untuk menjodohkannya  dengan Jiro, adik kandungnya. Dan tanpa sepengetahuan Sumi, ternyata  Komatsu telah terlebih dahulu menemui keluarga Sumi di Funo untuk  membicarakan rencana tersebut, dan pihak keluarga pun menyetujuinya.

  Sumi memang merindukan sebuah rumah tangga sebagaimana layaknya  seorang wanita, namun bukan dengan Jiro, karena sebenarnya Sumi  mencintai Katzuo, pemuda asal Funo yang sedang ditugaskan di Cina  sebagai seorang prajurit. Hingga saat ini, Sumi tidak pernah  mengetahui dengan pasti kabar maupun keberadaan Katzuo, namun Sumi  yakin Katzuo akan kembali ke Funo karena bagaimanapun mereka pernah  berjanji akan membawa hubungan tersebut sampai ke pernikahan. Sumi  menolak tawaran Komatsu, namun Komatsu tidak kehabisan akal,  Komatsu berencana mengajukan Sumi ke pengadilan atas tuduhan Sumi  telah berutang kepada keluarga Komatsu dan tidak mampu  membayarnya, jika Sumi menolak tawaran Komatsu untuk menikah dengan  adiknya. Akhirnya dengan berat hati, Sumi menerima tawaran tersebut.

  Pernikahan Sumi dan Jiro pun berlangsung menurut cara dan adat  Jepang. Sumi pun resmi menjadi istri Jiro. Selama resepsi  berlangsung, Jiro hanya diam saja. Namun setelah meminum sake, ia  tertawa dan berteriak-teriak layaknya orang gila, sehingga para tamu  menjadi sangsi apakah ia benar-benar waras. Selama mengarungi rumah  tangga bersama Jiro, hampir setiap malam Jiro tidak berada di rumah,  ia pergi ke tempat hiburan malam dan menghabiskan sepanjang malam  dengan minuman keras dan wanita. Sumi tinggal sendirian di rumah,  rasa sepi mulai menghampirinya dan ia bertekad untuk mengakhiri  penderitaannya dengan bunuh diri. Namun, pikiran tersebut segera  dibuangnya jauh-jauh ketika ia mengingat utang ayahnya yang belum  lunas.

  Pada suatu malam, Komatsu berkunjung ke rumah Sumi untuk menjalankan  rencana yang telah ia rencanakan dengan matang. Komatsu tidak pernah  memikirkan kebahagiaan Jiro maupun Sumi. Ia melakukannya agar Sumi  berada di sampingnya dan untuk kepuasan dirinya saja. Ia tahu Jiro  tidak pernah berada di rumah. Ia berusaha merayu Sumi. Tidak hanya  itu, Komatsu juga menggunakan kekerasan. Tetapi Sumi melawan dan  berteriak dengan sekuat tenaga sehingga teriakannya sampai terdengar  oleh kakak laki-laki Komatsu yang tinggal tidak jauh dari rumah  Sumi. Sumi menceritakan apa yang telah dialaminya kepada kakak  iparnya. Kakak Komatsu menaruh rasa iba kepada Sumi dan berjanji  akan mencarikan tempat yang aman baginya. Pagi harinya, mereka  berdua pergi ke suatu tempat yang telah dijanjikannya. Mereka pergi  ke sebuah rumah di dekat pantai. Rumah tersebut adalah milik Yamada  -- teman kakak Komatsu. Yamada adalah seorang janda yang suaminya  telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sumi merasa aman berada di  rumah Yamada dan karena itulah Sumi tidak segan untuk menceritakan  pengalaman pahitnya kepada Yamada.

  Yamada memperkenalkan Sumi kepada Koide. Ia adalah seorang Kristen  dan Koide mulai menceritakan kasih Kristus kepada Sumi. Meskipun  hati Sumi sudah dipenuhi oleh kebencian dan dendam, tetapi Yamada  dan Koide tidak menyerah. Mereka berdua terus menceritakan kasih  Allah dan mengajaknya ke gereja. Pada awalnya Sumi menolak, namun  setelah dipikirkannya, ia berpendapat apa salahnya apabila ia  memenuhi ajakan Koide. Sumi tidak tertarik pada khotbah yang  disampaikan dalam kebaktian tersebut karena khotbah yang disampaikan  malam itu mengenai kasih Allah kepada manusia. Karena pengalaman  hidupnya, maka ia meragukan ajaran tersebut. Namun Koide tidak  menyerah, ia terus mengajak Sumi mengikuti kebaktian yang setiap  minggu diadakan oleh Pendeta Honda di gereja. Sumi menjadi  pengunjung tetap, tapi ia belum bersedia menyerahkan hidupnya kepada  Kristus. Seusai kebaktian, pendeta Honda menghampiri Sumi dan  bertanya kepadanya mengapa ia tidak mau percaya kepada Kristus. Sumi  menjawab bahwa ia akan percaya jika pendeta Honda mampu  memerlihatkan Tuhan kepadanya. Malam itu, pendeta Honda dan Koide  mendoakan Sumi. Dan Tuhan menjamah hatinya, ia bersedia mengampuni  orang-orang yang telah menyakitinya dan menyerahkan hidupnya kepada  Kristus.

  Dua tahun kemudian terjadi perang pasifik. Rumah Sumi tak luput dari  keganasan perang tersebut -- semuanya hancur. Ia tidak memunyai  rumah lagi, jalan satu-satunya adalah kembali ke Funo dan tinggal di  sana sampai perang berakhir. Sumi berangkat menuju kampungnya dengan  menggunakan kereta api, perjalanan tersebut cukup melelahkan. Sumi  tiba di desa Sawadani. Ketika ia sedang menunggu bis yang menuju  Funo, seorang pria mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang.  Pria tersebut menawarkan kepada Sumi untuk menjadi perawat di  Sawadani, mengingat tidak ada perawat di tempat itu saat ini. Sumi  pun menerima tawaran tersebut.

  Pasien pertamanya adalah seorang ibu yang akan melahirkan. Ini  adalah kelahiran anaknya yang ketiga. Kedua anaknya yang terdahulu  meninggal selama proses persalinan dan ia sangat takut jika anaknya  yang ketiga akan lahir dengan kondisi yang sama. Sumi memanfaatkan  waktu tersebut untuk menceritakan kasih Allah kepadanya dan berdoa  baginya. Persalinan berjalan dengan lancar dan anaknya dapat lahir  dengan selamat. Setiap hari, semakin banyak pasien yang harus  ditanganinya. Sumi tidak hanya merawat pasien-pasiennya, tetapi ia  juga memberikan hiburan, semangat, dan mendoakan mereka. Namun, ada  satu hal yang mengusik hatinya. Sebagai bidan, ia tahu bahwa banyak  anak yang lahir di luar pernikahan. Penduduk setempat menganggap hal
  itu sebagai hal yang biasa. Namun, Sumi tahu bahwa hal tersebut  merupakan dosa. Ia tahu bahwa jalan keluar atas masalah ini adalah  dengan menyampaikan ajaran Kristus. Sumi semakin yakin bahwa Tuhan  menempatkannya di Sawadani untuk menyampaikan Kabar Baik kepada  penduduk setempat. Tapi ia tahu, ia tidak dapat melaksanakannya  sendirian. Ia tidak memiliki pendidikan khusus, namun ia berdoa agar  Tuhan membimbingnya untuk menanamkan nilai-nilai Kristen di  Sawadani.

  Tiga tahun setelah perang berakhir, tepatnya pada tahun 1948,  Pendeta Honda membangun kembali pelayanannya -- menceritakan Kabar  Baik. Suatu hari, ia mendapat surat dari Sumi yang memintanya datang  ke Sawadani. Namun, ia tidak dapat memenuhi permintaan Sumi. Ia  menyarankan agar Sumi menemui Pendeta Hashimoto. Pendeta Hashimoto  bukan orang asing bagi Sumi, ia sering memimpin kebaktian yang  sering dikunjungi Sumi ketika berada di Kobe. Pendeta Hashimoto  memenuhi permintaan Sumi meskipun pada saat itu kondisinya tidak  terlalu sehat untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga mengajak  Koide ke Sawadani. Kebaktian dimulai pukul tujuh malam. Jumlah orang  yang menghadiri kekebaktian tersebut sungguh di luar dugaan -- lebih  dari empat puluh orang. Pada hari kedua, orang yang datang jumlahnya  lebih banyak dari sebelumnya. Apa yang diharapkan Sumi terjadi pada  hari ketiga -- beberapa penduduk memutuskan untuk mengikut Kristus  dan dibaptis. Di antara orang-orang yang akan di baptis, ada seorang  pria bernama Sugimoto -- dialah yang menjadi motor penggerak  pertumbuhan orang Kristen di Sawadani. Kejadian ini membuat Sumi  bahagia. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, Sumi dinyatakan  positif mengidap kanker payudara. Penyakit tersebut tidak membuat  imannya goyah. Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Karena  pertumbuhan orang Kristen yang luar biasa, mau tidak mau menimbulkan  sebuah tantangan baru.

  Suatu sore, Pendeta Hashimoto didatangi orang yang tidak ia kenal.  Orang tersebut adalah seorang pendeta Budha. Kunjungan tersebut  merupakan awal usaha menghalangi upaya penginjilan di Sawadani. Para  pendeta Budha memiliki pengaruh yang cukup besar di Sawadani. Mereka  memaksa agar setiap orang tua melarang anak-anak mereka untuk pergi  ke gereja. Hal ini membuat Sumi sangat sedih. Namun, pekerjaan Tuhan  tidak dapat dihancurkan oleh tangan manusia. Larangan para orang tua  tidak menyebabkan anak-anak mereka meninggalkan gereja. Meskipun  harus pergi ke gereja secara sembunyi-sembunyi, namun mereka tidak  takut menyaksikan Kristus kepada penduduk yang belum percaya.

  Pada tanggal 24 Mei 1949, Sumi menjalani operasi di sebuah rumah  sakit di Hamada. Penyakitnya bertambah parah dan menurut dokter  tidak ada harapan baginya untuk sembuh. Kabar tersebut tidak membuat  Sumi putus asa. Ia tetap bersemangat dan percaya kepada Yesus.  Sikapnya itu membuat setiap orang yang berada di rumah sakit menjadi  heran. Akibatnya, banyak pasien yang mampu berjalan, datang ke kamar  Sumi dan berbincang-bincang dengannya. Sumi menyaksikan Kristus  kepada mereka dan Injil pun tersebar di rumah sakit tersebut. Suatu  keajaiban terjadi di Hamada. Sumi yang sedang sakit parah membawa  tiga puluh orang yang belum percaya datang kepada Kristus. Beberapa  di antara mereka menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu dan meneruskan  apa yang telah dimulai oleh Sumi dari tempat tidurnya di rumah  sakit.

  Pada musim panas 1949, Sumi kembali ke Sawadani. Ia disambut hangat  oleh teman-temannya sesama Kristen. Ia akan tinggal di Sawadani  untuk mengabarkan Injil. Satu kerinduannya adalah memunyai gedung  gereja sendiri dan usul ini disetujui oleh setiap anggota. Untuk  mewujudkan hal tersebut, ia menyumbangkan delapan ribu yen guna  meyokong pembangunan gedung gereja. Meskipun para pendeta Budha  berusaha menghalangi upaya tersebut, namun pembangunan gereja itu  terus berjalan. Tahun 1951, segala keperluan untuk membangun gereja  telah tersedia dan pembangunan gereja segera dilaksanakan. Gereja  tersebut dibangun di atas bukit sehingga dapat terlihat dari  berbagai penjuru.

  Pada bulan Oktober 1952, Sumi mendapat pekerjaan sebagai perawat di  Oyama. Di tempat barunya ini, Sumi tetap bersaksi bahwa Kristus  datang untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Setelah enam bulan  berada di Oyama, penyakitnya kambuh kembali dan sel kankernya telah  menyebar, bahkan menyerang organ tubuhnya yang lain. Namun,  penyakitnya tidak mematahkan semangatnya untuk tetap memberitakan  Injil. Pada bulan April 1953, Sumi mendapatkan perawatan di rumah  sakit -- penyakitnya sudah sangat parah. Tidak ada harapan baginya  untuk sembuh. Tekanan darahnya turun secara drastis dan daya tahan  tubuhnya semakin menurun. Berkat perawatan yang intensif, kondisi  Sumi mulai membaik dan ia diizinkan pulang. Pada tanggal 1 September  1953, Sumi menghadiri peresmian gereja di Sawadani dan ia bersyukur  karena akhirnya mereka memiliki gereja sendiri. Kondisi kesehatan   Sumi semakin memburuk. Kanker tersebut telah menjalar sampai ke  wajahnya, kerongkongannya membesar sehingga ia mengalami kesulitan  bernapas. Dokter pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa.

  Pada suatu malam, tepatnya di bulan Desember, Sumi bergumul dengan  rasa sakitnya, napasnya seolah terhenti. Dengan tersenyum, ia  menutup matanya perlahan-lahan, pergi meninggalkan dunia yang fana  ini menuju ke rumah Bapa. Beberapa hari kemudian, ia dikuburkan di  lereng bukit -- menghadap ke arah gereja di Sawadani. Upacara  penguburan tersebut dihadiri oleh banyak orang. Di antara mereka,  hadir pula para pemuka desa Sawadani untuk memberikan penghormatan  dan penghargaan atas apa yang telah Sumi lakukan untuk Sawadani.  Sumi telah tiada, namun kematiannya membuktikan adanya kemenangan   dari Kristus -- adanya harapan menuju kehidupan kekal. Sungguh, di  sebuah desa di pegunungan Jepang telah dibangun gereja Tuhan. Telah  tiba waktunya dan nyata, bahwa yang telah dilakukan oleh Sumi di  Sawadani adalah "rumah emas, perak, batu yang indah" yang akan tetap  tinggal sampai selama-lamanya.

  Diringkas dari:
  Judul buku: Gadis Pejuang Iman
  Judul asli buku: Upon This Rock
  Penulis: Eric Gosden
  Penerjemah: Barus Siregar
  Penerbit: Badan Penerbit Kristen, 1965
  Halaman: 5 -- 88

D. L. MOODY

D. L. MOODY
UTUSAN INJIL TERBESAR ABAD XIX 

D. L. Moody lahir tanggal 5 Februari 1837 di Northfield, Massachusetts. Ayahnya, Edwin Moody adalah seorang tukang batu, sedangkan ibunya, Betsey Holtom berasal dari kaum alim Purilastan. Pada 28 Mei 1841, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa bekerja keras mengasuh tujuh orang anaknya.

Tiap pagi, Betsey Holtom selalu membacakan Alkitab untuk anak-anaknya, dan pada hari Minggu mengajak mereka pergi ke gereja Unitaris. D. L. Moody tidak suka pergi ke gereja karena ia tidak dapat memahami apa yang dikhotbahkan. Ia lebih suka bepergian dan bersuka ria. Setelah dibaptis, ibunya mendesak agar ia belajar berdoa. Ia mencoba, tetapi merasa sia-sia saja. Setelah dewasa, D. L. Moody bertekad belajar sebanyak-banyaknya sambil bekerja. Mula-mula ia bekerja di toko buku dan alat-alat tulis, tetapi ia tidak puas dan pergi menemui pamannya di Boston. Pamannya setuju menerimanya dengan syarat ia harus ke gereja Mount Vernon, tidak minum minuman keras, dan tidak berjudi. Karena kecerdasan dan keramahannya, disertai rasa humor, ia segera menjadi penjual yang sukses. Saat ke gereja, ia lebih suka duduk di sudut gereja yang gelap dan sering kali ia tertidur karena penat bekerja.

Suatu hari, Edward Kimball, gurunya, menyampaikan pelajaran mengenai Musa. D. L. Moody mendengarkan dengan terpesona. Beberapa minggu kemudian, Edward Kimball memberinya Alkitab sambil memberitahu pelajaran yang diambil dari kitab Yohanes. D. L. Moody mengambil Alkitab itu dan mencarinya dengan membuka kitab Kejadian. Guru itu melihat bahwa murid-murid yang lain tersenyum-senyum dan saling menyikut satu sama lain. Ia segera menyerahkan Alkitabnya kepada D. L. Moody dalam posisi terbuka dengan ayat yang tepat. Ia merasa malu, dan hari Minggu depannya ia tidak hadir. Gurunya segera mencari dan memintanya untuk datang kembali. Tanggal 21 April 1855, Edward Kimball merasa saatnya telah tiba untuk berbicara mengenai Kristus kepada D. L. Moody. Dan saat itu juga, ia bertobat. Setelah itu, D. L. Moody bergegas kembali ke rumahnya di Northfield dan memberikan kesaksian imannya kepada saudara-saudaranya. Namun, mereka tidak menanggapinya, dan ia kembali ke Boston dengan kecewa. Ia sering kali putus asa ketika ia ingin menjadi anggota gereja Mount Vernon. Panitia keanggotaan gereja selalu mengulur waktu karena tidak yakin bahwa ia sungguh-sungguh bertobat. Walaupun demikian, ia tetap bersemangat berbicara di persekutuan doa. Tanggal 20 September 1856, ia pindah ke Chicago dan mendapat pekerjaan di toko sepatu Wiswall. Pada hari minggu, ia pergi beribadah di First Baptist Church. Di gereja ini, ia bertemu dengan calon istrinya. Pada waktu itu, ia menjadi anggota the Young Men's Mission Band of the First Methodist Episcopal. Tujuan organisasi ini adalah mengunjungi hotel dan asrama, serta membagikan brosur dan mengajak orang hadir dalam kebaktian.

Dalam musim gugur tahun 1858, ia mulai membuka sekolah minggu sendiri. Ia mendapat persetujuan dari walikota untuk memakai North Market Hall sebagai tempat ia membina anak-anak. Pada tahun 1860, ia meninggalkan usaha dagangnya dan memfokuskan diri pada pelayanan, padahal pada saat bekerja ia mendapat 5000 dolar -- jumlah uang yang cukup besar pada saat itu. Tahun pertama menjadi pekerja Kristen ia hanya mendapat 300 dolar, namun ia yakin akan pemeliharaan Tuhan. Di bawah pimpinannya, sekolah minggu dan YMCA (Persatuan Pemuda Kristen, hasil dari kebangunan rohani dari tahun 1857-1858) berkembang pesat. Kemudian, ia mendirikan gereja dan diresmikan pada awal tahun 1864. Gerejanya menjadi gereja yang berkembang dan paling giat di kota tersebut. Pada masa Perang Saudara di Amerika, ia mendukung penghapusan budak dan ia mulai melayani para tentara. Ia dicintai para prajurit karena usahanya yang tidak mementingkan diri sendiri dan sangat memerhatikan para prajurit. Pada tanggal 22 Februari 1867, D. L. Moody dan istrinya berangkat ke Inggris, ia ingin menjumpai Spurgeon, seorang pengkhotbah terkenal. Setelah mengadakan pembicaraan dengan Spurgeon, ia mengunjungi Bristol melihat panti asuhan yang didirikan oleh George Muller. Ia juga pergi ke Edinburgh dan mendapat kesempatan berpidato di Free Assembly Hall. Ia juga sempat mengunjungi Dublin. Di sini, ia bertemu dengan Harry Moorehouse, seorang pemuda yang sangat mengesankan hati D. L. Moody.

Karena kefasihan Moorehouse dalam menguraikan firman Tuhan. D. L. Moody menjadi lebih rajin mempelajari Alkitab. Saat ada pameran di Paris, ia berkunjung ke sana bersama istrinya dan ia berkhotbah beberapa kali di Paris. Tahun 1870, saat Rapat Pemuda Kristen Sedunia (Internasional Convention of the Young Men's Christian Association), ia bertemu dengan Ira D. Sankey, yang kelak akan menjadi mitra utama Moody dalam pekerjaan pekabaran Injil. Ira D. Sankey memunyai talenta memuji Tuhan. Tanggal 8 Oktober, terjadi kebakaran hebat di Chicago yang menghanguskan Farwell Hall dan Illinois Street Church. Saat itu D. L. Moody sedang mengalami pergumulan rohani berkaitan dengan kuasa Roh Kudus. Setelah membawa istri dan keluarganya ke tempat yang aman, ia bergegas mencari bantuan ke bagian timur negara dan terkumpul $3.000. Dengan dana tersebut, segera dibangun gereja darurat dan diresmikan sebagai North Side Tabernacle. Tidak lama kemudian, ia mengalami urapan Roh Kudus. Chicago mengalami kebangunan rohani yang besar. Pada bulan Juni 1872, ia pergi ke Inggris untuk kedua kalinya karena ingin memperdalam pengetahuan tentang Alkitab.

Semula ia berniat menghindari pelayanan berkhotbah, tetapi atas permintaan seorang pendeta, akhirnya ia menyanggupi untuk berkhotbah di Old Balley. Terjadi kebangunan rohani di gereja tersebut, beratus-ratus orang bertobat. Setelah ke Dublin, ia kembali ke Old Balley dan mengadakan kebaktian selama 10 hari. Setelah tiga bulan, ia kembali ke Amerika, dan setahun kemudian ia kembali ke Inggris memimpin kebaktian selama 5 minggu di York. Di sini ratusan orang bertobat. Kemudian tim penginjilan ini melanjutkan perjalanan ke Sunderland dan New Castle-On-Tync. Hasil kebangunan rohani ini terdengar sampai ke Edinburgh. Para pendeta kemudian mengundang D. L. Moody untuk memimpin kebaktian di sana. Gaya khotbah D. L. Moody yang sederhana dan berapi-api, disertai pimpinan Roh Kudus membuat kebangunan rohani besar-besaran dan berita kebangunan ini semakin meluas ke seluruh negeri. Setelah tiga bulan di Edinburgh, mereka ke Dundee dan Glascow untuk berkhotbah selama empat bulan. Pada bulan September 1874 mereka menuju Belfast, Irlandia, dan puncak ibadah terjadi di Exhibition Palace di Dublin. Tanggal 9 Maret 1875, dimulailah serangkaian kebaktian di London dengan jumlah pengunjung mencapai 15.000 - 20.000 orang.

Pada waktu itu, D. L. Moody baru berusia 38 tahun. Setelah tiba di Amerika, D. L. Moody dan rombongannya memberitakan Injil di New York, Philadelphia, Baltimore, St. Louis, Cincinnati, Chicago, dan Boston. Pada musim semi tahun 1892, D. L. Moody mendapat kesempatan untuk mengunjungi Yerusalem dan Kairo. Setelah mengunjungi beberapa tempat bersejarah, ia dan timnya bertolak ke Italia. Pada 26 Januari 1896, ibunya meninggal dunia. Waktu ibunya dikebumikan ia berkata: "Apabila setiap orang memiliki ibu seperti ini, maka semua penjara akan dihapus." Tanggal 30 Oktober 1898, cucu perempuannya meninggal dunia karena radang paru-paru. Walaupun demikian, ia berkata: "Saya sungguh bersyukur kepada Allah atas hidup ini, cucu saya kini berada di surga bersama Yesus selamanya, kita semua akan segera menyusulnya." D. L. Moody berkhotbah untuk terakhir kalinya pada tanggal 16 November 1899. Pada malam itu, Convention Hall penuh sesak. Tanggal 22 Desember menjelang kematiannya ia berkata: "Dunia bergerak mundur, surga terbuka bagiku ... kalau ini kematian maka begitu nikmatnya. Tuhan memanggil saya, maka saya harus pergi". Tanggal 26 Desember 1899, ia dimakamkan di kota Northfield dengan diiringi lagu, "Yesus Pengasih Jiwaku."

Diambil dari:
Judul majalah: Cahaya Buana, Edisi 92/2002
Judul artikel: Dwight L. Moody -- Utusan Injil Terbesar Abad XIX
Penulis: Tidak dicantumkan
Penerbit: Komisi Literatur GKT III Malang
Halaman: 16 -- 17 dan 33


"THE MORE OF HEAVEN IN OUR LIVES, THE LESS OF EARTH WE COVERT"

Thursday, 7 July 2011

MENJAGA KESUCIAN PADA MASA BERPACARAN



MENJAGA KESUCIAN PADA MASA BERPACARAN

Menjaga kesucian menuntut disiplin diri yang kuat dan disiplin ini hanya bisa ada apabila ada niat yang sama kuatnya pula. Tidak hanya itu, faktor utama untuk tetap menjaga kesucian selama masa pacaran hendaknya didasarkan pada rasa takut akan Allah sebab pada akhirnya kita tetap harus memberi pertanggungjawaban kepada Allah sendiri (1 Tesalonika 5:23). Berikut ini beberapa saran untuk menolong kita menjaga kesucian pada masa berpacaran.
1. Sirami hati kita dengan Firman Allah.
Firman Allah akan memberi peringatan dan sekaligus kekuatan bagi kita untuk melawan godaan seksual. Bacalah dan renungkanlah firman-Nya setiap hari; jadikan saat teduh sebagai aktivitas rohani rutin kita. Jangan biarkan iblis atau diri kita menipu dengan mengatakan bahwa kita sudah tidak layak menerima firman Tuhan. Ketidaklayakan adalah suatu sikap yang selalu harus ada namun kita butuh firman Tuhan guna bertahan dalam kehendak Tuhan.

2. Pertahankan batas sejauh-jauhnya dan sepanjang-panjangnya.
Jangan mulai sentuhan fisik terlalu dekat dan terlalu cepat. Barang siapa memulai terlalu cepat akan mengakhirinya dengan cepat dan sangat jauh pula. Hindarkan ciuman di bibir, sebisanya berhenti pada ciuman di pipi. Sentuhan-sentuhan pada anggota tubuh selain tangan, misalnya pinggul dan dada, harus dihindarkan. Hindarkan pelukan muka dengan muka, batasi hanya pada pelukan dari samping yakni tangan kanan memeluk bahu dari samping.

3. Bicarakan godaan seksual secara terbuka dan doakan bersama.
Jangan merasa sungkan atau tidak enak hati melukai pasangan kita. Keterbukaan menunjukkan kedewasaan dan kesadaran untuk menghadapi secara matang. Sepakati batas fisik dan hormati keputusan itu sebab dengan cara itulah kita menghormati tubuh pasangan kita sebagai rumah Allah yang kudus.

4. Hindarkan keberduaan dan keterpisahan.
Bertemulah di tempat terbuka dan umum; jangan mencari-cari kesempatan untuk menyendiri guna melaksanakan niat seksual kita. Membicarakan hal pribadi tidak perlu dalam kamar atau di rumah yang sepi; kita dapat melakukannya di tempat ramai yang tetap memberi kita kesempatan berbicara dengan serius.

5. Bicarakan masalah dengan seorang bapa atau ibu rohani.
Bicarakan dan akuilah masalah kita dengan seorang bapa atau ibu rohani kita agar kita bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kita secara berkala dan terbuka. Mintalah kesediaannya untuk menjadi pengawas yang akan terus mengecek kemajuan kita. Keberadaan seorang pengawas akan menolong kita hidup kudus dan bertanggung jawab. Dosa yang disembunyikan niscaya membuat kita lebih liar dan tak terkendali, dosa yang diakui justru memperkuat ketahanan kita.

6. Jangan menyerah.
C.S. Lewis, seorang penulis Kristen, pernah berujar bahwa kita tidak akan tahu besarnya kekuatan dosa sampai kita mencoba melawannya. Godaan seksual merupakan godaan besar yang adakalanya membuat kita putus asa melawannya. Namun nasihat C.S. Lewis adalah jangan menyerah. Lewis melukiskan suatu contoh yang indah. Jika kita mengosongkan kertas ujian kita, pasti kita mendapatkan nilai 0. Namun, jika kita mencoba menjawab setiap pertanyaan, kita pasti memperoleh nilai meski jawabannya salah. Lewis mengingatkan kita bahwa Tuhan ingin melihat usaha kita melawan dosa dan Ia menghargai upaya yang keras. Jangan menyerah atau membenarkan diri. Akui kejatuhan kita dan bangunlah kembali; setiap hari merupakan hari pengujian, sebab itulah esensi kehidupan Kristen.

Sumber diedit dari: 
Buletin: Seks Pranikah — Seri Psikologi Praktis 
Judul Artikel: Menjaga Kesucian 
Penulis : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D. 
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001 
Halaman : 6 – 8