Welcome

Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Dapat Binasa....!!!

Jumat, 24 Juni 2011

IBADAH DALAM KITAB PERJANJIAN LAMA

IBADAH DALAM KITAB PERJANJIAN LAMA
Oleh: Fernando Tambunan

BAB I
PENDAHULUAN
            Ibadah nampaknya sama tuanya dengan manusia. Pasal-pasal awal kitab Kejadian menyatakan tentang kurban yang dipersembahkan oleh Kain, Habel dan Nuh. Kain dan Habel mempersembahkan kurban sebagai respons kepada Allah atas segala kebaikan-Nya, dengan memberi berkat melalui ternak dan tanah. Kurban Nuh adalah merupakan suatu pemberian kepada Allah yang telah menyelamatkan dari kematian.
Tidak dapat disangkal bahwa ibadah memegang peranan sentral dalam semua agama-agama di dunia ini. Tanpa ibadah, suatu agama akan kehilangan hakekatnya. Melalui ibadah manusia mengadakan hubungan vertikal dengan yang ilahi dan mewujudkan nilai-nilai rohaninya dalam kehidupan bersama (horisontal). Jadi idealnya, ibadah menjadi ciri dimana manusia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah dan dengan sesamanya. Tetapi dalam praktek hidup keberagaman rupanya ada kecenderungan bahwa ibadah itu dipahami secara sempit, bahkan dapat dikatakan mengalami degradasi nilai dan berakibat pada dekadensi moral. Ibadah hanya dipahami secara ritual atau dalam hubungan dengan upacara-upacara keagamaan yang kadang-kadang lebih bersifat formal dan legalistis. Ibadah hanya berlaku dalam wilayah tempat-tempat suci tertentu, tidak mencakupi wilayah kehidupan sehari-hari. Atau ibadah hanya dimengerti sebagai perkara-perkara rohani saja, terpisah dari perkara-perkara jasmani. Tidak mengherankan bahwa ada kesenjangan antara iman dan perbuatan, antara hal-hal rohani dan hal-hal jasmani, antara kesalehan dan tingkah laku, antara ajaran dan etika hidup dan lain-lain semacamnya. Semua masalah yang muncul di dunia ini sepanjang sejarahnya, ketegangan-ketegangan politik atau ketegangan antar bangsa atau golongan, konflik-konflik sosial, masalah-masalah moral dan kriminal, konflik-konflik internal/domestik (dalam keluarga atau komunitas-komunitas kecil) dan sebagainya, semuanya itu merupakan indikasi tentang pemahaman yang sempit dan praktek-praktek ibadah yang biasa (ibadah tidak dipahami dan dihayati secara benar dan utuh) dan akhirnya bermuara pada degradasi iman dan krisis moral.
Lalu bagaimana kita, apakah ibadah itu sesungguhnya? Orientasi secara umum tentang pemahaman,penghayatan, dan praktek ibadah dalam kesaksian Alkitab Perjanjian Lama akan menolong kita untuk mengerti dan memaknai ibadah itu secara benar dan utuh.

BAB II
I B A D A H
1. PENGERTIAN
Kata ibadah sebenarnya berasal dari kosa kata “äbodah” (bahasa Ibrani) atau ibadah (bahasa Arab) yang secara harafiah berarti bakti, hormat, penghormatan (homage)[1] , suatu “sikap dan aktivitas“ yang mengakui dan menghargai seseorang (atau yang ilahi). Atau dapat juga dikatakan suatu penghormatan hidup yang mencakup kesalehan (yang diatur dalam suatu tatacara), yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari.[2] Jadi ibadah disini merupakan ekspresi dan sikap hidup yang penuh bhakti (penyerahan diri) kepada yang ilahi, yang pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar. Dalam kesaksian Alkitab ada beberapa kata atau ungkapan yang dipakai untuk ibadah. Kata kerja äbad (Bahasa Ibrani) berarti melayani atau mengabdi (seperti pengabdian/pelayanan yang utuh dari seorang hamba kepada tuannya).[3] Sedangkan kata àbodah (bahasa Ibrani), latria (bahasa Yunani) berarti pelayan atau bisa juga berarti pemujaan dan pemuliaan.[4] Disamping itu kita juga bertemu dengan kata histaaweh (proskuneo ;bahasa Yunani) yang berarti sujud atau membungkuk atau meniarap dihadapan tuannya.[5] Jadi sebenarnya ada dua kata kunci dalam pengertian ibadah itu, yaitu sikap hormat (pemuliaan) dan pelayanan (sikap hidup)[6].
Dari pengertian beberapa ungkapan di atas, menjadi jelas bahwa konsep dasar dari ibadah adalah pelayanan atau pengabdian seutuhnya kepada Allah, yang dinyatakan baik dalam bentuk penyembahan (kultus) maupun dalam tingkah laku atau tabiat (jadi bukan hanya menyangkut hal-hal ritual yang bersifat formal legalistis).

2. IBADAH PERJANJIAN LAMA
Pada awalnya kita menemukan adanya ibadah atau persembahan pribadi kepada Allah (Kej. 4:4 Habel memberikan persembahan kepada Tuhan ; lihat pula, Kel. 24:26). Hal itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ibadah adalah merupakan ungkapan bathin seseorang yang mengakui bahwa Allah berdaulat, penuh kuasa dan baik. Atau ibadah adalah menunjukkan ketinggian spritual seseorang yang disertai ungkapan pujian dan syukur kepada Tuhan, karena Ia patut disembah (bd. Ayub 1:20 ; Yos. 5 :14). Harus dipahami bahwa Allah kita adalah Allah yang transenden dan imanen. Allah yang “tidak sama dan terpisah dari ciptaanNya” juga merupakan Allah yang berkomunikasi dengan umat manusia. Allah menerima penyembahan dari umat-Nya.[7]
Pada waktu Allah memilih suatu bangsa bagi diri-Nya, Allah juga memberikan cara bagaimana bangsa itu dapat bertemu dengan TUHAN; jadi Dia memberikan ibadah tabernakel di mana Israel dapat menghadap Allah yang mahakudus. Di tempat ini TUHAN akan bertemu dengan Israel (Kel. 25:22; 29:42, 43; 30:6, 36).[8]
Kemudian, pelaksanaan ibadah itu berkembang menjadi ibadah umat. Musa adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai peletak dasar dari ibadah umat yang diorganisir, dan yang menjadikan Jahwe sebagai alamat ibadah satu-satunya. Ibadah umat diorganisir di dalam Kemah Pertemuan, dan upacaranya dipandang sebagai “pelayanan suci” dari pihak umat untuk memuji Tuhan.
Pada perkembangan selanjutnya, setelah Kemah Pertemuan, lahirlah Bait Suci dan Sinagoge sebagai tempat ibadah bagi Israel. Perkembangan ini didasari oleh pemahaman bahwa ibadah adalah merupakan faktor penting dalam kehidupan Nasional Jahudi. Bait Suci dihancurkan oleh Babel, dibentuk kebaktian Sinagoge karena pelaksanaan ibadah tetap dirasakan sebagai kebutuhan penting.
Disamping tempat ibadah, orang Jahudi juga memiliki kalender tahunan untuk upacara agamawi. Diantaranya yang amat penting adalah : Hari Raya Paskah (Kel. 12:23-27), Hari Raya Perdamaian (Im. 16 : 29 – 34), Hari Raya Pentakosta (bd. Kis.2), Hari Raya Pondok Daun, dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (Kel.12:14-20).
Pemimpin ibadah di Bait Suci dan Sinagoge adalah para Imam. Mereka adalah keturunan Lewi yang telah dikhususkan untuk tugas pelayanan ibadah. Para imam memimpin ibadah umat pada setiap hari Sabat dan pada Hari Raya agama lainnya. Ibadah di Sinagoge terdiri dari : Shema, doa, pembacaan Kitab Suci dan penjelasannya.
Ibadah juga berkaitan dengan kewajiban-kewajiban agama, yakni perintah-perintah Tuhan (pbd. Ul.11:8-11). Jadi, pada hakekatnya ibadah bukanlah hanya merupakan pelaksanaan upacara keagamaan di tempat-tempat ibadah, akan tetapi adalah mencakup pelaksanaan kewajiban agama, seperti : sunat, puasa, pemeliharaan Sabat, torat dan doa. Dengan demikian, ibadah juga harus mengandung makna bagi hidup susila.
Dalam Perjanjian Lama ada beberapa contoh ibadah pribadi (Kej.24:26; kel. 33:9-34:8). Tapi tekanannya adalah pada ibadat dalam jemaat (Mzm 42:4; I Taw 29:20). Dalam kemah pertemuan dan dalam Bait Suci tata upacara ibadah adalah yang utama. Terlepas dari korba-korban harian setiap pagi atau sore, perayaan Paskah dan penghormatan Hari Pendamaian merupakan hal penting dalam kalender tahunan Yahudi. Upacara agamawi berupa pencurahan darah, pembakaran kemenyan, penyampaian berkat imamat dan lain lain, cenderung menekankan segi upacaranya sehingga mengurangi segi rohaniah ibadahnya, dan bahkan sering memperlihatkan pertentangan antara kedua sikap itu (Mzm 40:6; 50:7-15; Mi. 6:6-8). Tapi banyak ibadah di Israel yang dapat mengikuti ibadah umum misalnya di Mazmur 93; 95-100) dan doa –doa bersama misalnya Mazmur 60; 79; 80, dan memanfaatkanya untuk mengungkapkan kasih dan syukur mereka kepada Allah (Ul 11:13) dalam tindakan ibadah rohani batiniah yang sungguh-sungguh.
Ibadah umum yang sudah demikian berkembang yang dilaksanakan dalam kemah pertemuan dan Bait Suci, berbeda sekali dari ibadah pada zaman yang lebih awal ketika para Bapak leluhur percaya, bahwa Tuhan dapat disembah di tempat mana pun Dia dipilih untuk menyatakan diriNya. Tapi bahwa ibadat umum di bait Suci merupakan realitas rohani, jelas dari fakta bahwa ketika tempat suci itu dibinasakan, dan masyarakat Yahudi terbuang di babel, ibadat tetap merupakan kebutuhan dan untuk memenuhi kebutuhan itu ’diciptakanlah’ kebaktian sinagoge, yang terdiri dari:
1. Shema’
2. Doa-doa
3. Pembacaan Kitab Suci
4. Penjelasan
Tapi kemudian di Bait Suci yang kedua kebaktian-kebaktian harian, sabat, perayaan-perayaan tahunan dan puasa-puasa, serta pujian dan buku puji-pujian memastikan, bahwa ibadah tetap merupakan faktor amat penting dalam kehidupan nasional Yahudi.[9]
Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa ibadah secara mendasar adalah merupakan satu respons sebagai pribadi atau sebagai jemaat kepada perbuatan Allah yang Mahatinggi. Pola ini dapat ditemukan di dalam Alkitab sebagai berikut; Allah yang Mahakuasa bertindak atas nama umat Allah; umat Allah berespons dengan ucapan syukur dan pujian; Allah menerima tindakan ibadah mereka. Pola ini secara konsisten dapat ditemukan di dlam seluruh bagian Alkitab, dengan titik pusat kebenarannya adalah di dalam ibadah, Allah adalah inisiator. Atau dengan kata lai, ibadah adalah satu respons manusia kepada inisiatif Allah.[10]
Ekspresi ibadah dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan dalam kisah pemanggilan Abraham sebagai Bapak bangsa-bangsa. Panggilan Abraham disertai janji-janji berkat Allah seperti kemasyuran, pengaruh, keturunan dan pemilik tanah. Sebagai respons Abraham terhadap janji-janji ini, Abraham menyembah Allah dengan membuat mezbah (Kej. 12:7-8; 13:18). Dan mempersembahkan kurban (Kej. 15:1-11; 22:13-14). Kemudian juga ketika Nuh keluar dari bahtera setelah Air Bah tindakan pertamanya adalah membangun mezbah dan beribadah kepada Tuhan (Kej. 8:20) ini merupakan catatan pertama di Perjanjian Lama tentang ibadah kepada Tuhan melalui korban penumpahan darah di atas mezbah. Persembahan korban bakaran kemudian dinyatakan sebagai korban persembahan (Im. 1:1-7).[11] Selanjutnya dalam kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir, ibadah mejadi dasar dan sebagai blueprint untuk semua bentuk ibadah masa depan. Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan adalah peristiwa penting dalam Perjanjian Lama. Inilah salib dan kebangkitan dalam Perjanjian Lama yang digenapi di dalam Perjanjian Baru.[12] Keluaran telah memberikan kepada Israel beberapa jalan untuk beribadah kepada Allah. Ekspresi utama termasuk mempersembahkan korban binatang pada Paskah (Kel.12:1-28), mempersembahkan semua yang sulung atau pertama lahir kepada Tuhan menjadi milik Tuhan (Kel.13:1-2), dan menyanyikan puji-pujian dengan sorak sorai dan penuh kemenangan yang dipimpin oleh Musa dan Miriam (Kel.15:1-21).
Di Gunung Sinai Allah menentukan tiga hari raya yang harus diadakan dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah setiap tahun. Pertama, hari raya roti tidak beragi, kedua, hari raya menuai dan ketiga, hari raya pengumpuan hasil (Kel.23:14-19). Perintah ini telah tertanam di dalam kesadaran umat Tuan bahwa ibadah melibatkan pengertian waktu yang kudus.[13]
Kemudian pertemuan Allah dengan Musa, Harun, Naab dan Abihu an tujuh puluh tua-tua Israel di Gunung Sinai (Kel.24:1-8) adalah bagian penting. Ini adalah pertemuan antara Allah dan Israel. Pertemuan ini berisi struktur elemen-elemen dasar bagi pertemuan antara Allah dan umat-Nya.[14] Elemen-elemen ini sangat penting bagi ibadah umum, yang kemudian akan ditentukan detailnya dalam ibadah Yahudi dan Kristen. Selanjutnya Webber mengemukakan ada lima elemen, yaitu:
Pertama, ibadah aalah pangilan Allah. Allah yang memanggil umat-Nya untuk bertemu dengan-Nya;
Kedua, Umat Tuhan diatur dalam satu tanggungjawab terstruktur. Artinya ada yang bertanggungjawab. Musa adalah pemimpin. Tetapi untuk mengatur ibadah dan lain-lainnya adalah tugas Harun, Nadab, Abihu. 70 tua-tua Israel, pemuda dan umat. Dengan kata lain, elemen kedua adalah soal partisipasi dalam ibadah;
Ketiga, pertemuan antara Allah dan Umat bersifat proklamasi Firman. Allah berbicara kepada umat-Nya dan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka. Hal ini berarti ibadah belumlah lengkap tanpa mendengar Firman Tuhan;
Keempat, umat setuju dan menerima perjanian dengan syarat-syaratnya yang memberi makna kepada komitmen umat secara subjektif untuk mendengar dan taat kepada Firman Allah. Dengan kata lain, aspek penting dalam ibadah disini adalah pembaharuan komitmen pribadi secara terus-menerus. Di dalam ibadah umat Tuhan membaharui janji yang telah ada antara Allah dan umat-Nya sendiri;
Kelima, puncak hari pertemuan itu ditandai dengan symbol pengesahan, satu materai perjanjian. Dalam Perjanjian Lama Allah selalu menggunakan darah korban sebagai materai hubungan-Nya dengan manusia. Pengorbanan ini menunjuk kepada korban Yesus Kristus.[15]
Dengan demikian Allah adalah pusat ibadah Perjanjian Lama. Umat Tuhan atau manusia beribadah adalah sebagai respons dalam ucapan syukur kepada karya Allah di dalam hidup manusia.

BAB III
KESIMPULAN
Allah sendirilah yang membuat ibadah dimungkinkan ada. Dalam anugerah-Nya, Ia mengundang penyembahan manusia tertuju kepada -Nya. Ibadah selalu berfokus tunggal yaitu ketika Allah bertindak menyatakan kasih-Nya kepada kita dan Ia jugalah yang mendorong tanggapan kita atas semua pernyataan kasih-Nya.
Ibadah adalah jawaban manusia terhadap panggilan Allah, terhadap tindakan-tindakan-Nya yang penuh kuasa yang berpuncak pada tindakan pendamaian dalam Kristus. Ibadah adalah kegiatan puji-pujian dalam penyembahan yang mensyukuri kasih Allah yang merangkul kita dan kebaikan kasih-Nya yang menebus kita dalam Kristus, Tuhan kita.
Ibadah (baca; kebaktian) adalah suatu ‘bakti’ dan persembahan kepada Allah. Persembahan yang dinaikkan bukan sekedar ritus batiniah tetapi persembahan yang juga dihaturkan dari tengah pergumulan kehidupan sesehari yang nyata. Pengudusan manusia oleh Allah dan pemuliaan Allah oleh manusia, keduanya merupakan karakteristik dalam ibadah. Ibadah yang sejati tidak hanya terbatas pada ritual-ritual keagamaan. Atau sebatas misalnya pergi ke gereja, ikut persekutuan ini dan itu. Betul, semua itu adalah ibadah. Namun tidak hanya sebatas itu. Ibadah yang sejati juga menyangkut kehidupan sehari-hari, kapan saja dan di mana saja. Dan yang menjadi pusat ibadah adalah Allah.

DAFTAR PUSTAKA
A. Cronbach, Worship in Old Testament, dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible. Editor by G.A. Buttrick, R-2, Nashville, Abingdon Press, 1982.
Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1974
Bible Dictionary, Leicester: Inter-Varsity Press, 1967.
J. D. Douglas, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, YKBK/OMF, Jakarta 2004
Paul Basden, The Worship Maze, Downers Grove, Illionis Inter Varsity Press, 1999
Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi, Literatur SAAT, Malang, 2006
Robert E. Webber, Worship Old & New, Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982
William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Gandum Mas, Malang, 2004



[1] A. Cronbach, Worship in Old Testament, dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible. Editor by G.A. Buttrick, R-2, Hal. 879. Nashville, Abingdon Press, 1982.
[2] Ibid
[3] New Bible Dictionary, Leicester: Inter-Varsity Press, 1967. Hal. 1262
[4] A. Cronbach, Ibid, halaman 879; NBD, ibit halaman 1262.
[5] NBH, ibit hal. 1262
[6] A. Cronbach, Ibid, halaman 879
[7] Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi, Literatur SAAT, Malang, 2006, hal. 54
[8] Paul Enns, The Moody…., hal.65
[9] J. D. Douglas,Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, YKBK/OMF, hal 409
[10] Paul Basden, The Worship Maze, Downers Grove, Illionis Inter Varsity Press, 1999, hal. 17
[11] Paul Enns, The Moody…, hal.51
[12] Basden, The Worship….20
[13] Basden, The Worship….20
[14] Robert E. Webber, Worship Old & New, Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982. hal. 24.
[15] Ibid., 24